Zakaria Boutros: Status Wanita Dalam Islam (Pertanyaan Tentang Iman Eps 40)

Pertanyaan Tentang Iman Episode 40 – Status Wanita Dalam Islam

(Fahter Zakaria Boutros)

wanita-muslimah

Muhammad:

Pemirsa yang saya kasihi, selamat datang pada episode baru program kami “Questions About Faith”, bersama tamu yang kami hormati, Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang.

Pendeta Zakaria:

Terima kasih.

Muhammad:

Pemirsa, pada episode yang lalu, kita telah berdiskusi tentang hubungan pria dengan istrinya. Dan pada episode kali ini, kita akan membicarakan hal mengenai status wanita dalam Islam dan status wanita dalam Kekristenan. Seperti yang Alkitab katakan: “Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.” Maka keduanya diperlakukan sama, seperti yang dijelaskan Alkitab. Saya pribadi ingat dari masa lalu saya bahwa kaum perempuan dihormati dalam Islam, dan Islam menghormati kaum perempuan. Apakah ini benar? Menurut pendapat Anda dan menurut apa yang telah Anda pelajari, apakah Islam menghormati kaum perempuan atau tidak?

Pendeta Zakaria :

Untuk dapat menjawab pertanyaan seperti itu, kita harus merujuk pada buku-buku referensi, sehingga kita dapat mengetahui apa yang mereka katakan mengenai perempuan, kemudian kita dapat membuat suatu penilaian yang benar, dan bukan penilaian yang dangkal. Namun sebelum saya mulai berbicara tentang posisi perempuan dalam Islam, di awal Anda sudah menunjukkan posisi perempuan dalam Kekristenan. Jadi, saya akan mulai dengan berbicara tentang perempuan dalam Kekristenan. Ketika Allah menciptakan perempuan, yaitu Hawa, Dia menciptakannya dari tulang rusuk Adam. Tuhan tidak menciptakannya dari bagian kepalanya, sehingga perempuan itu akan menguasainya. Dia tidak juga menciptakannya dari bagian kakinya , sehingga ia tidak menginjak-injak perempuan itu dengan sepatunya. Melainkan Tuhan menciptakannya dari tulang rusuknya, agar menjadi sama dengannya (Adam) dan berada pada level yang sama seperti Adam. Dan ayat yang Anda kutip di awal program ini, membuktikan hal yang sama, “Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.” Mereka sama di hadapan Tuhan. Itu adalah maksud dari ayat tersebut. Kehormatan perempuan dalam Kekristenan sangat terkenal. Perawan Maria adalah seorang perempuan, dan lihat betapa dia dihormati, dimuliakan dan ditinggikan. Dia dianggap sebagai wanita perempuan terhormat dan suci. Dalam Alkitab juga ada nabiah-nabiah seperti nabiah Deborah, nabiah Miriam, kakak dari Harun yang juga adalah seorang nabiah. Kemudian ada juga hakim-hakim perempuan seperti Deborah, juga ada para penginjil perempuan seperti Phoebe. Jadi, dalam Kekristenan, perempuan diperlakukan sama berdiri seperti laki-laki, dalam kehormatan, status dan posisi. Dan dia juga diberikan hormat dan penghargaan. Perempuan dalam Kekristenan bukan merupakan suatu komoditi untuk hiburan, kesenangan atau kenikmatan bagi kaum laki-laki. Melainkan ada misteri yang mengikat keduanya, dan sebenarnya bagaimana hal itu dapat terjadi? Semuanya itu berawal ketika seorang laki-laki menerima Kristus dalam hidupnya, sehingga dia menjadi berharga, dan begitu juga dengan seorang perempuan yang menerima Kristus dalam hidupnya, diapun sama berharganya. Oleh karena itu, ikatan diantara keduanya dibangun atas dasar saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi dan saling berkorban. Apakah anda ingin saya membacakan kepada Anda satu kalimat pendek dari Alkitab, untuk memperlihatkan posisi perempuan dan ikatan suci yang dimiliki perempuan dengan laki-laki? Dalam surat Efesus pasal 5, dikatakan sebagai berikut: “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.” Jadi Alkitab mendorong perempuan untuk tunduk kepada suaminya. Tetapi apa yang diperintahkan Alkitab bagi para suami? Sekarang kita lihat apa yang dikatakan Alkitab, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya.”  Itu artinya, Dia telah mengorbankan diriNya sendiri bagi dia (perempuan), “untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya … dan seterusnya.” Dan kemudian diulangi kembali: “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri.” Dan diakhir dikatakan: “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Jadi, Alkitab memerintahkan kaum laki-laki sebanyak 3 kali untuk mengasihi dengan pengorbanan dan memerintahkan kaum perempuan juga sebanyak 3 kali untuk mengasihi dengan kepatuhan. Kasih dengan pengorbanan dan kasih dengan kepatuhan akan mendatangkan keselarasan, persesuaian dan kesatuan. Ini adalah secara singkat tentang piosisi perempuan dalam Kekristenan. Dan untuk mengetahui posisi wanita dalam Islam, kita harus kembali kepada buku-buk referensi Islam dan melihat apa yang mereka katakan tentang hal ini. Dalam Saheeh Al Bokhary, mengenai hal menstruasi, nabi berkata tentang perempuan, adalah bahwa mereka “kurang dalam kecerdasan, kesalehan dan agama”. Oleh karena itu menurut pandangan saya , hal ini menurunkan derajat perempuan. Hal ini sangat jelas, kecuali bila artinya menunjukan sesuatu yang lain.

Muhammad:

Tidak, pengertiannya sudah  jelas.

Pendeta Zakaria:

Artinya jelas, “kurang dalam kecerdasan, kesalehan dan agama”. Namun mengapa? Itu pertanyaannya. Mengapa? Itu pertanyaan yang benar. Dan sekarang saya dapat menjelaskan mengapa. Karena perempuan tidak memiliki status yang sama dengan kaum laki-laki. Jika saya boleh mengatakan demikian, perempuan dalam Islam karena kaum laki-laki, dan itulah mengapa dia tidak memiliki hak dalam banyak hal.

Muhammad:

Itu adalah kesimpulan Anda sendrii, kesimpulan Anda secara pribadi? Ya, berdasarakan apa yang telah saya baca. Berdasarkan apa  yang Anda baca?

Pendeta Zakaria:

Dari buku-buku. Sebagai contoh, Surat 2 (Al Baqara) ayat 282 menyatakan bahwa perempuan tidak sama dengan laki-laki dalam hal memberikan kesaksian. Dua orang saksi cukup untuk memberikan kesaksian mereka. Hal itu benar, hanya jika mereka adalah laki-laki. Bagaimana jika ada seorang perempuan? Tidak, dalam kasus ini, dua orang perempuan menggantikan satu orang laki-laki. Jadi, ini adalah dua orang perempuan untuk satu laki-laki.

OK. Apakah itu berarti bahwa kita dapat menggantikan dua orang laki-laki dengan 4 orang perempuan? Tidak, harus ada satu orang laki-laki diantara mereka. Jadi, posisi perempuan disini sehubungan dengan menjadi seorang saksi, kesaksiannya diterima hanya setengah dari kesaksian dari seorang laki-lak.

Benar, setengah dari kesaksian seorang laki-laki.

Dan bagaimana tentang hal warisan? Bagaimana ketetapan bagi perempuan dalam hal warisan? Sama saja. Seorang perempuan menerima warisan setengah dari jumlah yang diterima seorang laki-laki. Hal ini persis seperti yang tertulis dalam Surat 4 (An Nisa) ayat 11. Surat 4 (An Nisa) ayat 11.

Ini menunjukkan satu posisi yang sangat buruk, tetapi mengapa? Mengapa seorang perempuan harus diturunkan nilai dan derajatnya seperti itu? Tentu saja mereka mengatakan hal itu, dengan demikian warisan tidak akan hilang dari keluarga. Mengapa dia tidak mendapatkan haknya? Bagaimanapun juga, Anda dapat melihat bahwa tidak ada kesamaan atau keseimbangan sehubungan dengan perempuan. Perempuan dalam Islam, sejauh yang saya dapat lihat dalam semua buku-buku referensi ini, memiliki sebuah posisi yang sangat dipertanyakan.  Perempuan muslim harus berkerudung. Mengapa Anda tidak mengerudungi kaum laki-lakinya? Mengapa Anda hanya mengerudungi kaum perempuannya? Dan tentu saja hal ini ada di dalam Surat 33 (Al Ahzab) tentang mengerudungi perempuan dan hal ini dilakukan atas rekomendasi Omar Ibn Al Khatab yang berkata kepada utusan, “Keduanya baik yang berbudi dan yang tidak berbudi cocok menjadi istri-istrimu, namun mereka harus dikerudung.” Dan begitulah ayat tersebut dinyatakan. Dan terhadap hal ini Omar Ibn Al Khatab memberikan arahan seperti yang dikatakannya, “Tuhan ku setuju denganku dalam tiga hal, dan salah satunya adalah hal berkerdung. Perempuan harus berkerudung, yaitu, untuk mencegah …………………………” Benarkah demikian? Ini adalah hal yang paling aneh yang pernah saya baca. Dalam Saheeh Al Bokhary, buku tentang (sholat), hal yang paling aneh yang pernah saya baca, sebuah tradisi mengatakan bahwa perempuan seperti seekor anjing dan keledai, karena mereka membatalkan sholat.

Muhammad:

Astaga!

Pendeta Zakaria:

Perempuan sama dengan seekor anjing dan keledai, yang membatalkan sholat. Jika seseorang menyentuhnya sebelum melaksanakan sholatnya, wudhu seorang laki-laki ditarik kembali dan dia harus kembali membersihkan dirinya sekali lagi. Apakah Anda memiliki bukti akan pernyataan Anda? Ya, dalam Saheeh Al Bokhary, buku tentang sholat. Hal itu ada didalam Saheeh Al Bokhary. Hal-hal seperti itu akan membuat Anda ingin tahu mengapa. Apakah kaum perempuan Muslim pernah memikirkan perihal posisi mereka? Pernahkah dia memikirkannya? Apakah dia menerima status seperti itu? Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ada hal yang lebih dari semua ini, temanku yang kukasihi. Anda tahu, saya merasa sedih ketika membaca hal ini, karena perempuan juga diciptakan sesuai dengan citra Allah, yang dengan cara yang sama Dia menciptakan laki-laki. Perempuan juga memiliki nilai, kehormatan dan perasaan-perasaan. Hal ini benar-benar mendukakan hati. Dapat Anda bayangkan, bahwa dalam Surat 4 (An Nisa) ayat 15 dan 35, seorang suami boleh menghukum istrinya dengan memukul, meninggalkannya, dan memasukannya ke dalam penjara hingga dia mati. Oleh karena satu alasan atau tanpa alas an? Apapun situasinya, temanku yang mulia. Memang ada orang yang tidak melakukan satu kesalahanpun  selama hidupnya? Setiap orang berdosa. Benar, semua orang berdosa. Namun masalahnya adalah jika kesalahan ini adalah karena suatu sikap atau suatu gaya hidup, atau apakah ini tidak sengaja dan hanya kebetulan? Dan selama kita hidup, kita belajar. Dan kalimat yang Anda sebutkan tadi adalah dari Surat 4 (An Nisa) ayat 15 dan 35. Sehingga dia dapat menghukumnya dengan memukul. Saya ingat dengan Imam dari sebuah mesjid di Spanyol. Bulan lalu, hal ini menjadi suatu hal yang besar. Dia menulis sebuah buku yang di dalamnya dia mengatakan …. Dia memberikan potongan-potongan nasehat kepada kaum laki-laki Muslim, bahwa untuk memenuhi ayat ini, mereka harus memukul istri-istri mereka dengan tongkat yang lunak, dan memukulnya pada tempat-tempat yang tidak akan meninggalkan bekas. Benar-benar nasehat yang mengerikan. Kemudian orang itu diadili, dihukum dan dimasukkan ke dalam penjara. Dapatkah anda percaya terhadap manipulasi tersebut? Tetapi mengapa? Kita hidup di abad 21 sekarang ini. Mengapa? Disini ada satu pertanyaan serius. Apakah hukum-hukum Islam menerapkannya kepada semua generasi, atau apakah situasi masa sekarang sama persis dengan masa nabi Muhammad, ketika Quran diturunkan setahap demi setahap dengan maksud Quran dapat mengembangkan aturan-aturannya, dan karenanya pencabutan ayat diaplikasikan – bila hal ini terjadi – lalu Anda melakukan hal itu, dan ketika satu situasi baru datang, mereka datang dengan sebuah solusi yang berbeda? Lalu, apakah kita di masa sekarang ini sedang dalam kebutuhan akan ayat-ayat baru untuk membatalkan ayat-ayat yang lama, yang menyatakan bahwa dunia telah berubah, situasi telah berbeda, dan wanita sekarang pergi keluar rumah dan bekerja, dan lain sebagainya? Sebuah pertanyaan. Ya, sebuah pertanyaan utama yang memerlukan sebuah jawaban. Betul, temanku yang mulia. Dan kemudian hal yang aneh ini, dalam Surat 4 (An Nisa) ayat 24, mengatakan bahwa perempuan dibicarakan sebagai sebuah komoditi. Untuk tujuan kenikmatan, seorang laki-laki harus membayar perempuan itu sebagai upah kenikmatan yang diberikannya. Bagi kenikmatan yang diperolehnya dari seorang perempuan, kaum laki-laki memberinya upah. Anda disini sedang berbicara tentang  pernikahan untuk kesenangan?

Pernikahan untuk kesenangan , tepatnya.

Muhammad:

Pernikahan untuk kesenangan memiliki ketetapannya sendiri. Yaitu jika seorang laki-laki melakukan perjalanan jauh, daripada melakukan perzinahan, lebih baik baginya untuk menikah.

Pendeta Zakaria:

Saya berharap itu adalah sebuah pernikahan. Namun, itu bukanlah sebuah pernikahan bila seorang laki-laki memberikan seorang perempuan beberapa uang dollar untuk beberapa jam atau beberapa hari selama dia bersama perempuan tersebut. Anda mengerti maksud saya? Sehingga masalahnya adalah masalah moral. Dan dimanakah aspek dari ikatan pernikahan yang suci itu sendiri, ikatan suci antara Anda dan orang yang Anda nikahi? Bukankah pernikahan pada awalnya merupakan suatu sakramen yang suci? Dan apakah itu didasarkan atas respek bagi ikatan antara suami dan istri? Lalu mengapa kaum perempuan tidak diberikan hak yang sama seperti kaum laki-laki? Maksud saya, seorang laki-laki dapat menikahi “dua atau tiga atau empat, ditambah dengan siapa saja tangan kanannya mengontrol”? Bila ada kesederajatan dengan perempuan, mengapa tidak ada sebuah ayat yang menyatakan bahwa perempuan juga diijinkan menikahi dua, tiga dan empat laki-laki, ditambah dengan siapa saja tangan kanannya mengontrol? Itu bila ada kesetaraan dengan kaum perempuan. Tentu saja hal itu tidak mungkin, namun bagaimana tentang ….? Sebentar …, maafkan saya. Bila hal itu tidak mungkin bagi seorang perempuan, itu juga tidak mungkin bagi seorang laki-laki. Dikatakan tidak mungkin, bukan berarti hal itu berlalu begitu saja. Tidak. Dimanakah keadilan? Jika keadilan mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin bagi seorang perempuan, tidak mungkin juga bagi seorang laki-laki. Menjadi seorang laki-laki bukan berarti memberinya lebih banyak hak. Dan itu tidak mungkin. Silahkan lanjutkan.

Muhammad:

Ya. Anda benar. Bagaimana juga dengan masalah perceraian?

Pendeta Zakaria:

Dalam Islam hal ini sudah dikenal …. Dan juga dalam Kekristenan, kami ingin mengetahui nya dari kedua pihak. Sejauh ini, Kekristenan sangat peduli, dimana Kristus sendiri mengatakan, “Siapa saja yang menceraikan istrinya dengan alasan apapun keculai perzinahan, menyebabkan istrinya melakukan perzinahan.” Bila dia menceraikan istrinya, dia membiarkannya menikahi orang lain saat dia masih terikat dengan nya dalam sakramen yang kudus. Kebenaran yang sama juga berlaku untuk kaum laki-laki. Tidak dibenarkan jika hanya laki-laki yang melakukan hal tersebut. Baiklah. Namun dalam Islam, seorang laki-laki bercerai sekali, dan lagi, dan jika dia menceraikannya untuk ketiga kalinya, perempuan itu akan memerlukan sebuah “Mohalel”. “Mohalel” sudah sangat dikenal, setiap orang mengetahui tentang itu. Yaitu, seorang laki-laki lain yang bukan suaminya, akan menikahinya, dan sesudah orang lain itu menceraikannya, dia dapat kembali kepada suaminya yang dulu, bila suaminya masih menginginkannya. Hal ini benar-benar sesuatu yang cabul. Mengenai hal ini, ada satu tradisi para nabi yang sangat masuk akal. Ya, sangat disayangkan. Sebuah tradisi dimana seorang perempuan datang kepada utusan dan berkata, “suamiku menceraikan aku, sehingga aku menikahi seorang laki-laki lain.” Kemudian dia mengatakan sesuatu yang berarti bahwa suaminya tidak baik, suaminya adalah seorang yang gagal dengan perempuan, dan dia menggunakan sebuah kata yang spesifik. Lalu utusan bertanya kepada perempuan itu, “Apakah kamu ingin kembali kepada suami pertamamu? Dia menjawab, “Ya.” Utusan berkata kepadanya, “Tidak, tidak bisa hingga kamu merasakan orgasmenya dan dia merasakan orgasmemu …” Maksud dari cerita ini sudah jelas. Apa kesalahan perempuan ini jika suaminya menjadi marah dan menceraikannya? Hingga dia mendapatkan hukuman? Hal logis apa ini? Seandainya seorang laki-laki cacat menceraikan istrinya, dan kemudian menceraikannya lagi, dan kemudian menceraikannya untuk ketiga kalinya. Haruskah suaminya menghukumnya? Tentu saja. Tidak, mereka mengambil perempuan itu dan memberikannya seorang laki-laki lain. Apa kesalahan perempuan malang tersebut? Ini adalah pertanyaan yang mereka hadirkan sendiri ke dalam pikiran. Mungkin mereka memiliki solusi dalam lembaga legislative Islam yang tidak dapat saya capai dalam penelitian saya. Namun jika ada, saya ingin mereka mengatakannya dimana saya dapat menemukannya. Saya telah mencoba mencari jawabannya melalui internet dan buku-buku yang mungkin akan membimbing saya kepada jawaban yang beralasan.

Muhammad:

Saya ingin mengetahui, bagaimana porsi seorang perempuan dalam surga. Dalam Kekristenan dan dalam Islam?

Pendeta Zakaria:

Ini adalah satu pertanyaan yang pantas, satu yang sangat baik, sebenarnya. Berbicara kepada orang-orang, Tuhan Yesus berkata … Anda tahu, pada suatu waktu mereka datang kepadaNya dan menanyakan satu pertanyaan. Menurut Perjanjian Lama, ketika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan dan dia meninggal  sebelum dia memiliki seorang anak. Hukum menyatakan bahwa adik laki-lakinya boleh menikahinya dan bila dia memiliki seorang anak dari perempuan itu, dia harus mendaftarkannya dengan nama kakak laki-lakinya yang telah meninggal, dengan demikian keturunannya tidak akan berhenti. Lalu mereka berkata kepadaNya …Orang-orang ini adalah orang-orang Yahudi yang datang dan ingin menipuNya. Anda tahu, mereka ini suka melakukan tipu muslihat. Lalu mereka datang dan berkata, “Ada seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan dan mati tanpa seorang anak, sehingga adik laki-lakinya menikahinya dan juga mati tanpa seorang anak, kemudian adik laki-laki yang ketiga menikahinya dengan maksud memberikan keturunan bagi mereka, dan mati juga tanpa memberikan keturunan. Ada tujuh orang saudara laki-laki, dan kemudian mereka semua mati. Dan inilah pertanyaannya. Pada saat kebangkitan, perempuan ini akan menjadi istri yang mana dari ketujuh kakak beradik tadi? Siapakah yang akan memilikinya sebagai istri?”  Mereka berpikir, mereka telah mengepung Dia dengan pertanyaan tersebut. Lalu Kristus menjawab, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” Apakah Anda mengerti? Tidak ada pernikahan di surga yang dapat menyebabkan setiap orang akan mencari istrinya. Perempuan akan pergi kesana dalam satu wujud yang bercahaya, seperti seorang malaikat, begitu juga dengan laki-laki yang akan pergi kesana dalam satu wujud yang bercahaya seperti seorang malaikat. Dan mereka semua akan menjadi satu keluarga dalam roh yang suci, hidup dalam suka cita bersama Tuhan, melihat Tuhan dan menikmati Dia. Namun tentu saja situasi dalam Islam, seperti yang Anda telah kenal, dan juga seperti para pemirsa ketahui, sangat berbeda. Ketika seorang yang percaya meninggal, dia menerima gadis-gadis di surga, gadis-gadis yang bermata jeli. Mengenai hal ini telah disebutkan pada tiga atau empat ayat dalam Surat-surat Quran, yaitu Surat 56 (Al Waqi’ah), Surat 76 (Al Insan), dan yang lainnya. Ketika dia meninggal, dia menerima gadis-gadis, yang bermata jeli, juga pelayan-pelayan muda yang tetap muda “wildanum mukhalladun”. Seseorang yang bernama Mohamed Galal Keshk yang melakukan penelitian tentang hal ini. Penelitiannya diambil alih dan dia pun mengajukan gugatan. Mereka mengirim penelitiannya kepada Al Azhar, untuk membentuk satu komite untuk mempelajari penelitiannya dan melihat apakah penelitiannya bertentangan dengan pengajaran Islam atau tidak. Dan kemudian mereka menemukan bahwa penelitiannya tidak bertentangan, tidak ada yang berbeda. Dia mengatakan dalam penelitiannya, “pelayan-pelayan muda ditujukan untuk kenikmatan fisik. Maksud saya kepuasan seksual.”

Muhammad:

Bahkan menyebutkannya saja sangat memalukan. Dapatkah Anda pindah ke hal yang lainnya?

Pendeta Zakaria:

Baiklah. Situasi di surga, seperti yang telah ditunjukkan, mendukung kaum laki-laki. Tetapi bagaimana dengan kaum perempuan? Itu yang menjadi pertanyaan Anda. Apa yang didapat kaum perempuan? Tidak ada. Bahkan di surga tidak ada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.

Muhammad:

Dalam episode ini kita telah membahas banyak hal dan saya pribadi dan atas nama para pemirsa, hanya dapat  berterima kasih pada Anda atas semua penjelasan yang belum pernah banyak orang berani menanyakan hal ini selama bertahun-tahun. Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sangat tegas. Saya yakin banyak perkataan atau topik  yang telah Anda bahas, mungkin melukai perasaan orang atau mengganggu mereka, namun saya ingin bertanya untuk terakhir kalinya, apakah Anda bermaksud melukai atau mengganggu seseorang? Apakah anda merasakan kebencian pada seseorang? Apakah tujuan Anda? Inilah pertanyaan terakhir saya dalam episode kali ini.

Pendeta Zakaria:

Dari awal, apakah setiap dialog agama bermaksud melukai seseorang? Jika iya, mereka tidak akan mengadakan dialog-dialog agama. Dialog agama dimaksudkan untuk saling memahami, sebuah usaha untuk mendapatkan kebenaran: “Dan kamu harus mengetahui kebenaran dan kebenaran akan membebaskanmu.”  Keinginan hati saya yang paling dalam adalah agar orang-orang mengetahui kebenaran, dan kebenaran berada sangat dekat. Dan bila setiap orang mengangkat hatinya kepada Allah dan berkata, “Tuhan, tunjukkan aku jalan, kebenaran dan hidup.” Dia akan menunjukkan kepadanya, karena pada dasarnya Kristus datang dari surga untuk memberikan keselamatan pada manusia, untuk menyelamatkan mereka dari dosa, dari kuasa si jahat, dari keinginan duniawi, dari hawa nafsu dan perkataan kotor. Dan memberikan mereka kehidupan yang mulia. Dia berkata: “Aku telah datang kepadamu supaya kamu boleh memiliki hidup dan memilikinya dalam kelimpahan.” Dan karena manusia telah dihukum mati kekal, Tuhan Yesus datang, menawarkan diriNya sendiri di kayu salib untuk menebus mereka, yang berada dibawah hukuman mati. Dia mengambil kematian itu dan memberikan mereka kehidupan. Ini adalah pesan  keselamatan dalam kesederhanaannya. Biarkan setiap orang mengangkat hatinya pada Allah dan berkata, “Tuhan aku menerima harta keselamatanMu untuk ku, aku menerima kematian Kristus yang Dia lakukan untuk aku.” Dan kemudian dia akan menerima kehidupan kekal dan menerima kemuliaan surgawi. Oleh karena itu saya minta kepada para pemirsa untuk tidak kehilangan kesempatan ini, melainkan katakan kepada Tuhan: “Tuhan, bimbing aku ke jalan Mu, selamatkan hidupku, tunjukkan kasihMu kepada ku, karena aku orang berdosa.”

Muhammad:

Terima kasih. Sebelum saya meminta Anda untuk menutup program hari ini dengan doa, saya ingin membagi beberapa hal kepada pemirsa. Pemirsa yang saya kasihi, ijinkan saya mengajukan pertanyaan ini. Dimanakah para nabi hari ini? Mereka semua. Pada saat ini mereka semua sudah mati. Dan tulang-tulang mereka dalam kuburan menjadi saksi bahwa mereka sudah mati. Namun hanya Satu yaitu Yesus Kristus, yang telah berkata mengenai DiriNya sendiri: “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Alfa dan Omega.” “Sebelum Abraham  jadi, Aku telah ada.” “Aku adalah Gembala yang baik.” “Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, Bintang Timur yang gilang gemilang.” “Janganlah takut, Aku adalah Yang Pertama dan Yang Terkemudian.” “Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya.” Hanya Kristuslah yang telah mati, telah menguasai kematian dan hidup kembali. Dia tidak berada disini, karena Dia telah bangkit. “Dan hidup untuk selama-lamanya.”

Pemirsa yang saya kasihi, saya adalah salah satu dari orang-orang yang meminta keselamatan, keselamatan dari dosa dan keselamatan dari penghukuman kekal. Saya mencari wajah Tuhan, saya mencari untuk percaya, dan saya telah menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi dalam hidupku. Dan pada saat ini, jika seseorang ingin bertemu dengan Kristus untuk menerima keselamatan, undangan ini terbuka bagi orang ini dan bagi semua. Kristus datang bukan untuk  satu kelompok saja, tetapi untuk seluruh dunia.

Pendeta Zakaria:

Amen. Sebelum kita kehabisan waktu, kita akan mengangkat sebuah doa bagi setiap orang, yang ingin menikmati keselamatan Kristus. O Tuhan, bimbing aku kepada kerajaan Mu. O Tuhan, bimbing aku kepada kerajaanMu. Tunjukkan pengasihan kepada ku orang yang berdosa. Tunjukkan pengasihan kepada ku orang yang berdosa. Engkau mengasihi orang-orang berdosa. Engkau mengasihi orang-orang berdosa. Dan Engkau ingin menyelamatkan mereka. Dan Engkau ingin menyelamatkan mereka. Engkau telah menyiapkan penebusan bagi kami. Engkau telah menyiapkan penebusan bagi kami. Oleh karena itu, terimalah aku dan selamatkan aku. Oleh karena itu, terimalah aku dan selamatkan aku. Dan aku menerima Engkau ke dalam hidupku. Dan aku menerima Engkau ke dalam hidupku. Amen. Amen.

Muhammad:

Dan pemirsa yang saya kasihi, setiap orang yang telah mengangkat doa ini, Tuhan berjanji untuk memberikan mereka satu bagian bersamaNya dalam kekekalan. Dan yakinlah akan keselamatanmu. Terima kasih banyak. Dan sampai jumpa kembali, kami meninggalkan Anda dalam perlindungan Tuhan. Terima kasih.

  • Share/Bookmark

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

4 Comments

  1. Dialog di atas sangat membingungkan ngawur dan tidak jelas ujung pangkalnya.

  2. “Perempuan sama dengan seekor anjing dan keledai, yang membatalkan sholat. Jika seseorang menyentuhnya sebelum melaksanakan sholatnya, wudhu seorang laki-laki ditarik kembali dan dia harus kembali membersihkan dirinya sekali lagi”

    Pernyataan ini ga berdasar, karena kalau masalah batal wudhu itu, bukan hanya dari sisi laki2 aja, tapi dari sisi wanita juga sama. kalau saling bersentuhan maka baik laki2 maupun perempuannya akan sama2 batal wudhu.. jadi ga ada cerita itu batal wudhu gara2 wanita..
    kenapa lah kalian orang2 kristen tega2 nya berbuat jahat demi menyebarkan agama kalian.. ga berdosa itu? atau hal itu dilegalkan di agama kristen?

    belum lagi pernyataan2 lain kalo di kupas.. parah hasilnya..

  3. Di Indonesia, wanita mendapat hak yg sama dlm hukum yg diadopsi dari hukum Belanda yg asasnya Kristen. Wanita Indonesia harus bersyukur, negara Indonesia bukan negara agama.

  4. @ RONI

    U WROTE
    Pernyataan ini ga berdasar, karena kalau masalah batal wudhu itu, bukan hanya dari sisi laki2 aja, tapi dari sisi wanita juga sama. kalau saling bersentuhan maka baik laki2 maupun perempuannya akan sama2 batal wudhu..

    JAWAB:

    FAKTA MENUNJUKAN BAHWA ORANG ISLAM YANG MAU SHOLAT DAN ABIS MEMBESIHKAN ANGGOTA2 BADANNYA KALAU MENYENTUH WANITA AKAN BATAL. JADI HARUS DIULANG LAGI.

    KOK ANDA BILANG GAK ADA DASARNYA???

    BUKANKAH ANDA SUDAH MENJAWABNYA SENDIRI DASARNYA.

    ARTIKEL INI KAH BERJUDUL “STATUS WANITA DALAM ISLAM”
    BUKANNYA “STATUS LAKI-LAKI DAN WANITA DALAM ISLAM”

    KOK ANDA INI ANGGAP SEBAGAI PENGHINAAN SIH…
    GAK NYAMBUNG PAK.
    BUKANNYA INI ADALAH FAKTA!

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.