Jibril vs Gabriel

Ilustrasi

Ilustrasi

JIBRIL VS. GABRIEL

Bila Quran berasal dari wahyu, dan Injil adalah buatan manusia yang ingin dikoreksinya, maka seyogyanya perbandingan kedua maklumat diatas (Jibril vs. Gabriel) akan memperlihatkan secara gamblang superioritas dan kesempurnaan Quran diatas Injil. Tantangan Muhammad berlaku, bahwa tak ada suratan manusia yang mengungguli suratan Allah SWT (disebut Surat Semisal Quran, 17:88, 2:23). Itu mungkin benar, sekalipun Tuhan yang benar akan sangat dikerdilkan bila menantang manusia hanya sebatas cara adu-puisi, padahal Tuhan mempunyai segudang cara adikodrati untuk menantang siapa saja, yang langsung akan membungkam mulut musuh-musuhNya! Dengan adu pena, para pembaca  Muslim atau non- Muslim justru tidak mendapatkan kesan kemenangan Jibril Quran diatas Gabriel Alkitab, kecuali malah sebaliknya! Mari saksikan sendiri.

Surat Maryam 19:16-22 (diturunkan sekaligus, Surat Makkiyah awal abad ke-7, underlined dari penulis)

16. Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya pada suatu tempat di sebelah timur,

17. maka dia mengadakan pembatas (tabir) dari keluarganya, lalu  Kami mengutus Ruh Kami kepadanya, lalu dia menyerupakan dirinya di hadapannya sebagai manusia sempurna.

18. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pemurah dari engkau jika betul engkau orang yang taqwa”.

19. (Ruh) berkata, “Aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan kepadamu seorang anak laki- laki yang suci”.

20. Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang laki-laki pun (suami) dan tiadalah aku perempuan jahat”.

21. (Ruh) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku”. Kami hendak menjadikannya sebagai tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan adalah urusan itu telah ditetapkan.

22. Lalu Maryam mengandung, maka dia mengasingkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh.

Injil Kesaksian Lukas 1: 26- 40 (ditulis pada pertengahan abad kesatu)

26. Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,

27. kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang  bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

28. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

29. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

30. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan.

31. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

32. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Tuhan Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Elohim akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,

33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan.

36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

37 Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”

38    Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

39   Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

40    Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam  kepada Elisabet.

KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN “JIBRIL”

Mari kita kaji dengan kritis bagaimana perbandingan mutu, kelayakan, kredibilitas, kesempurnaan dan otoritas periwayatan dari kedua agen pewahyuan (Jibril vs. Gabriel) yang dimaklumatkan kepada pihak si penerima wahyu (Maryam Quranik vs. Maria Injili). Kita mulai dengan pendekatan Jibril.

(1) Muhammad tidak paham tentang geografi, dan Jibril tidak menuntunnya keluar dari kekaburan-lokasi dan kekeliruan anakronisme. Banyak risalah Quran disodorkan secara kabur, hanya sepenggalan, tidak nyambung, bahkan sampai menggeser setting kejadian tanpa dukungan.

Keanehan segera terlihat, misalnya mulai pada awal ayat 16 (terj. berturut-turut dari Disbintalad dan Depag):

“Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya pada suatu tempat di sebelah timur”. “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam didalam Al Quran, yaitu ketika ia….(dst).”

Disini tampak para penterjemah berupaya menggeserkan berita ini dengan memasukkan kata “Al-Quran” sehingga diarahkan artinya menjadi kisah Maryam didalam Al-Quran, padahal kisah/ berita tersebut jelas terambil dari Alkitab (the Scripture, the Book Mary, the Book the story of Mary) atau “Kitab Maryam” menurut teks aslinya. Istilah wahyunya sendiri sudah membingungkan, dan tafsirannya sengaja diplintir waktunya, digeser dari petikan kisah di abad kesatu menjadi wahyu baru dalam Quran abad ke-7. Bagaimana mungkin mereka memunculkan kata “Al Quran” yang tidak ada pada aslinya, lalu memaksakan pelarian maknanya kesitu? Rupa-rupanya para penterjemah ini khawatir bilamana wahyu “Jibril” itu dihadapkan vis-a vis dengan Injil, karena perbandingan demikian sungguh tidak menguntungkan! Lihat serentetan kekaburan yang tidak masuk akal: *Kemanakah misalnya Maryam pergi (tempat disebelah timur, tanpa nama), dan untuk tujuan apa maka keputusan sebesar itu diambilnya? *Kenapa ia minggat mengasingkan diri dari keluarganya, dan mengadakan pembatas dari keluarganya. Agaknya ada masalah cekcok dengan keluarga? Atau dengan Zakharia?

Tentu nabi Zakharia dan isterinya tidak bermasalah dengan Maryam sehingga dia perlu mengasingkan dan mengenakan pembatas keluarga, bukan? *Sebagai anak dara yang saleh, kenapa ia boleh minggat sendirian tanpa muhrimnya. Apakah itu dibolehkan keluarga besarnya dan Zakharia, padahal dikatakan bahwa Allah menjadikan Zakaria sebagai pemelihara Maryam dalam mihrab?! (Qs.3: 37). Karena kosong dari pewahyuan, muncullah pertentangan yang sia-sia diantara ulama Islam. Ada yang mendongeng bahwa Maryam mau retreat rohani keluar kota, dan ada yang memastikan Maryam mau mencuci dirinya kesebuah mata-air disebelah timur, karena risih mendapati dirinya dikotori darah menstruasi yang pertama kali. Semuanya tidak berguna sebagai wahyu mulia yang mencerahkan. Sebaliknya Injil (yang dianggap harus dikoreksi itu) malah menjelaskan dengan sempurna bahwa Maria bukan pergi keluar kota kearah timur antah berantah, melainkan tinggal dirumahnya

(!) dikota (!) yaitu Nazaret (!), ditanah Galilea!

Pengaburan lokasi dengan dalil “tempat disebelah timur” (yang diulangi lagi pada ayat 22 dengan istilah mirip “tempat yang jauh”), hanya menunjukkan bahwa wahyunya tidak kredibel, dan Muhammad tidak paham geografi, dan Allah yang Mahatahu membiarkan umatNya mencari dalam kegelapan. Selain itu, dengan “mewahyukan” bahwa Zakharia dijadikan Allah sebagai pemelihara Maryam dalam mihrab, maka teman Muslim menangkap seolah Zakharia dan Maryam itu tinggal sekota di Yerusalem, selalu bertemu di mihrab Baitul Magdis. Tidak! Maryam anak desa, tidak tinggal dikota besar, melainkan di Nazaret bersama dengan keluarganya dimana ia sedang bertunangan dengan Yusuf dikota yang sama. Sedangkan Zakharia dan isterinya Elisabet tinggal dikota lain didaerah pegunungan Yudea, dan Maria yang justru segera melakukan kunjungan kesana (Luk.1:39 dll). Bagaimana mungkin Zakharia menjadi pemelihara atau penafkah bagi Maria?

(2) Siapa “Ruh” Allah yang satu ini? Kenapa ia harus tampil dengan cara meresahkan dan menakutkan orang kudus yang dilawatinya? Berkenaan dengan hakekat Ruh pewahyu ini, rupa-rupanya pewahyuan awal kepada Muhammad sempat kacau. Sebab ketika berbicara dengan Maryam, maka Jibril-lah yang diutus Allah sebagai komunikator-antara (ayat 17), namun ketika berbicara dengan Zakharia maka Allah sendirilah yang berbicara langsung! (lihat ayat 1s/d 15). Ini kesalahan yang tak terperbaiki, mengingat Maryam dimata Allah adalah nabiah dan Ayatollah suci, mendapat panggilan dan posisi tertinggi diantara semua wanita (Qs.3:42), ketimbang Zakharia yang hanya imam/ nabi biasa. Kelak setelah hampir satu dekade berlalu, kesalahan ini agaknya baru disadari Muhammad sehingga oknum yang berdialog dengan Zakhariapun diamdiam diubahnya, dari Allah menjadi ruh malaikat pula, lihat surat Ali Imran 39: “Maka malaikat (Jibril) menyeru Zakharia…”. Kredibilitas wahyu tidak sama dengan bunglon-wahyu yang selalu mengubah dirinya atas alasan wahyu-susulan. Agar tidak melebar persoalannya, kita teruskan saja dulu apa adanya: “Ruh”Allah itu dikatakan merubah dirinya menjadi laki-laki seutuhnya, dan ini sempat membuat Maryam was-was dan takut kalau-kalau lelaki ini bisa menjahatinya dikala ia sendirian diperjalanan. Ketakutan ini tentu wajar bagi perawan Maryam yang sendirian ditempat asing, namun hal ini terlambat diantisipasi oleh ruh yang melawatinya, karena laki-laki yang muncul secara mendadak itu tidak terlebih dahulu membuka salamperjumpaan menurut tatakrama Yahudi, juga tidak menyampaikan salamsurgawi. Ruh itu bahkan tidak memanggil nama Maryam untuk suatu komunikasi yang seharusnya wajar dan penuh kedekatan bagi orang yang memang didekatkan Allah. Ruh juga tidak berpesan agar Maryam jangan takut. Akibatnya Maryam jadi sungguh ketakutan, lalu segera (mendahului antisipasi ruh) mencari perlindungan Allah yang Maha Pemurah (ay.18).

Sebaliknya Gabriel di Alkitab langsung memberikan salam damai kepada Maria menurut adat Yahudi. Bahkan Gabriel menyampaikan salam perlindungan dan berkat sorgawi dalam kalimat “Tuhan menyertai engkau”, dan bukan membiarkan Maria sendiri yang mencari perlindungan dalam ketakutannya. Sekalipun Maria tegang dan kaget, itu sama sekali bukan karena ancaman dari keberadaan sosok Gabriel yang mungkin bakal menjahatinya, melainkan ia was-was terhadap isi salam yang terlalu dahsyat dan ajaib, yang tak sanggup dicernakannya sendiri (resapkan ayat 29). Tetapi tanpa menunggu lebih jauh, Gabriel segera menyusulkan sapaan peneduh dengan memanggil namanya secara tepat tanda ia tahu akan yang ghaib: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh…”. Ini meneduhkan dan meyakinkan Maria bahwa ia beroleh kasih karunia Tuhan. Perhatikan bahwa sapaan peneduh yang sama juga dilakukan oleh Gabriel kepada Zakharia, yaitu: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan… “. Dan kedua hamba Tuhan inipun memperoleh suatu berkat ajaib dari Tuhannya yang melawat mereka!

Namun sebaliknya, tiga perangkat kata keramat yang menandai kuasa dan otoritas ilahiah ini justru terhilang dari mulut ruh “Jibril”: Jangan takut—hai Maria/Zakharia —sebab engkau beroleh/ dikabulkan … Padahal salam peneduh yang kuat dan baku ini sungguh perlu dihadirkan karena Tuhan tidak ingin menempatkan utusanNya yang dari sorga untuk dikelirukan dengan roh pen-teror yang menakutkan. Bandingkan dengan pendekatan Jibril yang kembali men-teror Muhammad dalam perjumpaannya digua Hira, yang juga dilakukan tanpa sapaan perkenalan. Gabriel bukan hanya menyampaikan kabar tentang Yesus, tetapi juga sekaligus memberi insentif dan pujian langsung untuk Maria pribadi, yaitu: “engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”, dan disusul, “engkau beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan”. Ini adalah pujian dan hormat ilahi yang sekaligus memperlihatkan betapa harkat wanita tidak bisa direndahkan oleh manusia. Sebaliknya, Jibril samasekali tidak membawa dari Allahnya insentif reward dan hormat apapun kepada Maryam, kecuali menjalankan tugas masinal. Kekurangan yang bersifat kesalahan ini terpaksa kelak diperbaiki oleh Jibril dalam wahyunya di Medinah (Qs.3:42)!

(3) Maryam praktis tidak diberitahu siapa dan apa peran khusus dari Sang Anak tersebut, sehingga perlu-perlu kelahirannya harus melalui keperawanan yang meng-aib-kan dirinya. Wajar Maryam tidak yakin itu rahmat Allah. Atas nama Allah, Ruh telah menetapkan bahwa rahim Maryam yang perawan belia itu akan mengandung seorang anak laki-laki yang suci. Tetapi tidak diterangkan siapa sosok dia sesungguhnya, apa nama dan peran dahsyatnya sehingga ia harus dilahirkan dari rahim perawan dan tidak cukup dari rahim normal seorang ibu!! Keseluruhannya, mahkluk alien apakah yang akan Allah turunkan kedalam rahimnya, dan untuk kepentingan besar atau rahmat apakah maka itu harus terjadi, agar Maria tidak melihat kehamilannya sebagai bagian dari keaiban, melainkan kehormatan yang harus disyukuri? Jibril samasekali tidak meng-entertain kerisauan Maryam yang maha-pokok ini. Padahal Maryam pasti akan dihina, dikutuki atau diusir, bahkan menurut hukum yang berlaku, Maryam bisa dirajam karena mengandung anak haram! Sungguh ruh/ “Jibril” ini tidak sensitif terhadap isu pokok kenapa Maryam harus dikorbankan begitu besar!

(4) Kepada Maryam juga tidak dijelaskan bagaimana kehamilan virgin itu akan terjadi, padahal itu justru dipertanyakan secara spesifik oleh Maryam. Dalam Injil: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Dalam Quran: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang laki-laki pun dan tiadalah aku perempuan jahat”. Gabriel menjawabnya sambil meluruskan kekeliruan Maria akan konsep “anak” yang bukan berdasarkan biologis/ kedagingan, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan”. Sebaliknya, Jibril tidak mampu mengkoreksi atau menjelaskan apa-apa kecuali meneruskan kata-kata Tuhan, “Hal itu mudah bagiku”, dan bahwa kehamilan itu sudah ditetapkan Tuhan sebagai tanda dan rahmatNya!

(5) Maryam tidak diyakinkan, juga tidak diberi peluang menampik “todongan” Ruh. Urusannya telah ditetapkan Allah dan itulah final, sebagai tanda bagi manusia dan rahmatNya. Kekurangan terbesar dari komunikasi Allah disini terlihat dari situasi akhir Maryam yang tidak dalam posisi siap menerima, dan tidak menyatakan rasa syukurnya atas ketetapan Allah. Para kritikus berkata:

“Bila Anda sebagai Zakharia atau Elisabet tua yang merindukan seorang anak, Anda tentu setuju bahwa kehamilan Elisabet (yang mandul itu) adalah suatu rahmat Tuhan kepada hambanya (ayat 2). Namun bila Anda sebagai anak dara Maryam, apakah kehamilan itu bisa dianggap ’rahmat Tuhan’ hanya karena hal itu didalilkan sebagai ketetapan Tuhan, tanpa kejelasan-kejelasan, tanpa peyakinan akan wujud kasih Tuhan? Itu lebih dekat kepada AIB dan KUTUK.”

Kelak setelah bertahun-tahun berlalu, informasi maha-penting yang masih ketinggalan untuk diwahyukan itu — yaitu tentang nama dan proses kehamilan perawan — baru dirasakan sebagai sesuatu yang perlu disusulkan oleh Muhammad di Medinah dalam surat yang lain lagi (Qs.3:45). Cicilan aneh yang sangat terlambat ini menguatkan dugaan bahwa Nabi butuh waktu untuk familiarisasi “kristologi” dan mencari informasi dengar-dengaran lebih jauh sebelum mengisi wahyu susulan. Seluruh pembicaraan Ruh Allah ini tidak tampak menghasilkan keyakinan bagi Maryam.. Tidak tampak Maryam bersyukur atas pilihan Tuhan keatas dirinya untuk melahirkan sang Anak. Anda bayangkan bila Anda sendiri yang jadi Maryam disaat itu! 

KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN GABRIEL

(6) Siapakah Anak yang harus dilahirkan dari seorang bunda perawan? Untuk apa kandungan/ kelahiran Anak Ajaib ini harus terjadi dalam rahimnya seorang dara-perawan, dan tidak cukup dari hubungan suami isteri yang saleh saja? Kalau hanya untuk melahirkan laki-laki yang saleh dan tanda bagi manusia (seperti yang dimaksudkan Quran), kalau hanya itu saja — tentu bayi Isa tidak usah khusus dilahirkan sebagai tambahan terhadap kelahiran Yahya yang memang sudah saleh dan bertanda ajaib dengan menerobos kemandulan si ibu tua. Bukankah itu sudah cukup untuk menjalani peran dan fungsi-fungsi kenabian pada masa itu? Namun ternyata peran Yesus tidak bisa diwakilkan kepada Yahya, atau Muhammad, atau siapapun manusia lainnya. Sebab ternyata Gabriel menyebut status sang Anak ini jauh melebihi anak manusia manapun.

Sebab Dialah yang disebutnya: Yesus yang berarti Yahweh Penyelamat -berasal dari kata Aramik “Yeshua”, dalam lafal Arab menjadi Yesu/ Yasu, dalam lafal Greeka jadi “Iesous” dan Indonesia Yesus. Orang Kristen Arab menyebutnya Yasu’ al-Masih, dan itulah Anak Tuhan Yang Maha Tinggi, Kandungan dari Roh Kudus, Mesias diatas tahta Daud, Raja atas kaum keturunan Yakub, dan Kerajaan Sang Anak yang tak berkesudahan! Anak semacam itulah yang disebutkan oleh Gabriel sampai dua kali berturutturut sebagai Anak Elohim (ayat 32 dan 35) yang telah ada sejak awal mula, datang dan keluar dari Elohim (Yoh 8:42) untuk “dilahirkan” kebumi ini. Itu adalah konfirmasi yang paling jelas akan identitas dan peran keilahian sang Anak sebagai “Putera Pewaris”, yang sekaligus menafikan tuduhan islamik: “Allah beranak” hasil kedagingan biologis! Kita tahu, bahwa sekali Tuhan sendiri yang memberi nama bagi seseorang, maka Tuhan tidak bermain-main dengan nama itu. Itu bukan nama sekedar sambil lalu atau semacam harapan-harapan yang diseyogyakan Tuhan mudah-mudahan akan terjadi bagi sang anak, melainkan itulah hakekat, keberadaan dan fungsi sang anak untuk apa dia dinamakan! Ya, Yesus adalah Yahweh yang menyelamatkan! Itu adalah nama ilahi untuk sosok Ilahi.

Kelak Yesus mengkonfirmasikan nama Ilahi ini sampai dua kali pula ketika Ia berkata kepada Bapa sorgawi: “… yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku” (Yoh.17 ayat 11 dan 12). Jadi bukan saja sekedar nama yang Tuhan berikan kepada Yesus, melainkan itu juga adalah nama keilahian! Tetapi sungguh memprihatinkan bahwa Nama dengan makna dahsyat “Yahweh menyelamatkan”, itu dihilangkan dan diganti menjadi ISA yang kosong makna. Jibril dan Muhammad jelas bukan pemilik atau penguasa yang berotoritas atas nama tersebut, jadi darimana beliau bisa berhak “me-nasakh-kan” (menghapus dan menggantikannya, Qs.2:106) nama keilahian Yesus yang begitu dahsyat itu?! Imam Al-Gazali berkata bahwa, “nama adalah sebuah kata yang menunjukkan …. kalau sesuatu yang dinamai tidak dipahami dari namanya, maka hal itu tentu bukan namanya” (Al-Asma’ Al-husna, p.27).

Maka Muhammad dan semua pengikutnya, termasuk Al-Gazali, seharusnya mempunyai kewajiban moral untuk menjelaskan kepada dunia, kenapa nama YESUS – nama diatas segala nama — dihapus dan digantikan dengan nama ISA yang samasekali tidak menunjukkan kemuliaan, tidak ada kebesaran, tidak dipahami, dan tidak menunjukkan apapun itu? Maka dalam kaidah Al-Gazali berarti itu bukan nama bagi Yesus! Bagaimanapun, keadilan Muslim yang konsekwen (gigi ganti gigi – nama ganti nama) harus menerima respon balik secara “tukar guling”, seandainya nama Muhammad juga dihapuskan dan diganti dengan nama lain seenaknya oleh orang kafir! Tidakkah itu menyakitkan hati Muslim melebihi gambar karikatur Muhammad dari Denmark yang dianggap pelecehan terhadap Islam? Namun kita tahu bahwa nama inilah yang sangat ditakuti oleh ruh-ruh yang tidak jelas (Mrk.3:11) dan karenanya harus disembunyikan atau dinasakh-kan oleh ruh, jin, dan malaikat gadungan, karena tahu bahwa mereka dapat diusir demi nama dahsyat ini (Mrk.9:38), dan “…setan-setan takluk kepada kami demi namaMu”(Luk.10:17).

(7) Dapatkah Tuhan mengutus Gabriel untuk menegaskan kepada Maria tentang “Anak Elohim” (sampai 2 x ulang), lalu 6 abad kemudian mengutus Jibril untuk mengkoreksinya bahwa “Allah tidak beranak”? Pada awalnya, baik Injil maupun Quran sama mencatat bahwa Maria masih berpandangan cara dunia dalam memahami konsep anak yang akan dikandungnya. Maka ia berkata kepada malaikat : “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (dalam Quran: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang laki-laki pun dan tiadalah aku perempuan jahat”). Namun Gabriel segera meluruskan kekeliruan Maria bahwa “konsepkeanakan” itu bukan bersifat kedagingan (walad), tetapi suatu konsep inkarnatif ilahiah, dimana “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Elohim”. Jelas ini adalah sebutan sebagai Anak Tuhan yang rohaniah, bukan anak dalam pengertian badaniah! Bila tidak demikian, bukankah sang Anak ini cukup dilahirkan dari hubungan biologis Maria dengan tunangannya Yusuf yang memang sebentar lagi akan saling menikah? Kenapa Tuhan tidak menikahkan mereka saja dengan resmi dan memberi tanda kelahiran mujizat yang lain bagi Isa, misalnya demi menghemat waktu, sang Anak langsung menjadi besar sesaat setelah dilahirkan!? Pernahkah teman Muslim merenungkan hal yang sesederhana ini? Tidak ada alasan Tuhan untuk berpetak-umpet meng-aibkan Maria sambil menyesatkan miliaran jiwa orang Nasrani karena kelahiran virgin ini, bila kehamilannya sendiri hanya bersifat fisikal biologis dan bukan karena inkarnasi rohani!

Justru karena Gen DNA sang Anak adalah pula gen BapaNya, maka kelahiran dengan meminjam rahim perawan ini harus terjadi, dan istilah “Anak Elohim” kembali ditegaskan ulang: “…engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Elohim Yang Mahatinggi”. Istilah atau sebutan “Anak” adalah sangat tepat dan harus digunakan karena Ia yang Kalimatullah itu “di-nuzulkan”, “diturunkan”, “dilahirkan”, “diperanakkan” secara inkarnatif kedalam dunia seperti yang diwahyukan dalam Injil! Gabriel diabad kesatu, dan Jibril diabad ke 7 telah sama meng-koreksikan pikiran awal Maria yang salah, yang berakibat mustahil ada orang Nasrani maupun Muslim yang ngotot menganut Yesus itu hasil kawin-mawin Tuhan dengan seorang isteri.

Namun sungguh aneh bahwa “Jibril” kemudian kembali membalikkan pemahaman konsep kedagingan keAnak-an (Yesus Anak) sebagai tuduhan yang seolah dikenakan kepada orang Nasrani, “Dia tidak beristeri dan tidak beranak” “Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak padahal Dia tidak beristeri?” “Maha Suci Allah dari mempunyai anak” “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan” (Qs. 72:3; 6:101; 4:171; 112:3 dll). Namun apabila ini dituduhkan kepada orang-orang Nasrani, maka wahyunya dipastikan salah sasaran, karena semua orang Nasrani yang justru sudah diingatkan oleh Gabriel sampai 2x, mustahil menyembahi Allah yang kawin-mawin dan beranak-pinak! Yesus menyanggah doktrin kawin-mawin yang sesat ketika berkata, ”Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yoh.3:6). Mahasuci Allah dari mempunyai anak. Bejadlah Allah demikian, bersama dengan orang-orang yang menuduhNya! Itu sebabnya Umar Tariqas menghimbau kejernihan pengertian Muslim lewat satu pertanyaannya yang sejuk: “Ya, kami orang Kristen memang mengatakan ‘Yesus itu Anak Tuhan’. Dan kami tahu itu disanggah oleh Muslim. Namun kami tidak tahu apa dugaan kalian ketika mendengar kami berkata ‘Yesus itu Anak Tuhan’? Menurut Anda ANAK TUHAN yang macam apakah yang kami percayai itu?” (Ismael Saudaraku, p.27).

(8) Kudusnya sang Anak bukan seperti kudusnya para nabi Tidak dikosongkan Quran, tetapi ketika Jibril berkata tentang “seorang anak laki-laki yang suci”, maka teman Muslim tampaknya hanya terbawa mengartikannya secara umum. Sebaliknya Gabriel memaknainya teramat dalam sebagai KUDUS yang bukan kudus dalam istilah etika umum, semacam saleh, bersih, takut akan Tuhan, dekat dengan Tuhan dll. Melainkan kudusnya Tuhan sendiri yang Sang Kudus, suatu unsur dan sifat penuh misteri, asing dan tidak dikenal bagi dunia yang tidak kudus lagi. Yaitu unsur tanpa hakekat dosa dan tanpa berbuat dosa, yang hanya berasal dari Zatnya Tuhan sendiri. Gelar dengan hakekat ini tidak pernah bisa disandangkan kepada manusia. Hanya Tuhanlah yang kudus dari diriNya, dan tak satupun manusia itu kudus. Kekudusan manusia hanyalah perolehan, dalam batas-batas tertentu, yang dianggap “kudus”. Itu sebabnya seluruh nabi-nabi, termasuk Muhammad, adalah orangorang yang walau disebut saleh, namun tetap berbuat dosa dan minta ampun kepada Allah (QS.40:55; 48:1,2). Tidak demikian Yesus Al Masih yang bukan saja tanpa dosa, tetapi bahkan berkuasa mengampuni dosa (Mat.9:2,6).

(9) Maria tidak ditodong melainkan diminta dengan ikhlas, dalam memahami wujud kasih-anugerah Tuhan, yang berakhir dengan pemberian diri secara sukacita Ruh (Jibril?) tidak memberi peluang bagi Maryam untuk menolak kehendak Allah, kecuali harus tunduk dan taat atas urusan yang sudah ditetapkan Allah (ayat 21). Ini sebenarnya berlawanan dengan design Allah bagi manusia sejak Adam diberi pilihan bebas untuk mengharamkan atau menghalalkan buah pengetahuan di Firdaus dalam kehidupannya. Jibril mengosongkan berita sukacita tentang kehamilan isteri Zakharia dalam masanya yang mandul, yang mestinya bisa meneguhkan Maria karena kehadiran dua kehamilan ajaib bersama dirinya. Sebaliknya, Gabriel tidak memberlakukan “ketetapan-besi” kepada Maria, melainkan memberi pemahaman dan peneguhan langkah demi langkah bahwa sang Anak yang akan dikandungnya adalah Mesias, Anak Elohim yang dihasilkan dari Roh Kudus.

Dan itu adalah kasih karunia yang Tuhan nyatakan khusus kepada Maria, dan juga kepada Elizabet yang tadinya mandul, namun kini mendapatkan kehamilannya secara ajaib. Perhatikan bahwa keterangan Gabriel itu adalah nubuat-ganda, tentang 2 kelahiran ajaib pada diri Maria (yang akan terjadi) dan Elisabet (yang sedang terjadi yang Maria belum tahu tadinya)! Ini sekaligus membuktikan bahwa Gabriel membawa kuasa-nubuat ilahiah yang membedakannya dengan ruh-ruh halus lain yang tidak mampu bernubuat – kecuali menjiplak. Alhasil, semuanya berakhir dengan penerimaan Maria, yang kini percaya, dan setuju untuk memberikan seluruh dirinya kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya, dengan ucapan penuh syukur: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Maria ditinggalkan dalam suasana hati yang selesai, plong tanpa ganjalan. Istilah dewasa ini, win-win solution! Dalam sukacitanya, Maria segera melawat Elizabet, sanaknya, dipegunungan Yehuda.

Dan Injil mengisahkan bahwa kelak ia bersama tunangannya Yusuf pergi ke Betlehem, dan disanalah Maria melahirkan Yesus dalam sebuah kandang domba! Sebaliknya Quran sangat kentara tidak tahu apa-apa akan lokasi dan geografi yang dibicarakan. Dikatakan, “dia (Maryam) mengasingkan diri (seorang diri) dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh”. Bagaimana mungkin Maryam yang bukan perempuan binal itu pergi seorang diri untuk kedua kalinya berturut-turut? Pelarian pertama dikatakan kearah timur tanpa sebab, dan pelarian kedua kearah mana lagi? Quran mendongengkan akhir kehamilannya dengan kelahiran Isa dibawah pohon korma dengan didahului keinginan untuk mati sendirian dan dilupakan. Suatu keinginan yang dimurkai Allah karena mencerminkan ketiadaan iman, padahal ia dipilih karena wanita yang paling beriman! Jibril tak mampu lagi meneruskan kesudahan kisahnya secara logis, kecuali makin kacau.

Kesimpulan Mati

Sekali lagi, benar bahwa Muhammad tidak dikaruniakan pengetahuan tentang Ruh yang mewahyuinya (melainkan sedikit), namun juga benar beliau tidak terkaruniai pengetahuan yang memadai tentang geografi, lokalisasi, nama, motif/latar belakang dan spesifikasi dari kisah Alkitab yang dipetiknya. Apa yang disampaikan itu mirip dengan legenda dramatis hasil dengar-dengaran yang beredar bebas dari mulut kemulut. Para sarjana cenderung berpendapat bahwa kekurangan ini diakibatkan oleh ke-ummi-an Muhammad, yang hanya mengandalkan komunikasi lisan orang perorang, menghimpun sekian banyak versi informasi yang banyak simpang siur, dan diendapkan beberapa saat dalam pencernaan dan refleksi spritualnya, untuk dipilih versi yang dia anggap cocok dengan sistim kepercayaannya. Akibatnya, terjadilah distorsi informasi dan ajaran Muhammad yang banyak terambil dari tradisi dan sekte-sekte Kristen yang memunculkan Anak Allah hasil kawin mawin, “bagaimana Dia beranak, padahal Dia tidak beristri”.

Ruh Jibril yang dikatakan sangat intim dengan Muhammad selama 20-an tahun, ternyata tidak memperkenalkan siapa dirinya dengan semestinya. 85 Surat Makkyah tidak seayatpun memunculkan nama Ruh ini. Itu baru terjadi setelah 17 tahun Muhammad berwahyu-ria dengan Jibril. Kelahiran-virgin dari Isa hanya diakui sebagai suatu magic-show (tanda) kepada dunia yang tidak berdampak kepada keimanan atas hakekat Isa yang sebenarnya, “Anak Ilahiah”. Itu sebabnya “penciptaan” Isa didangkalkan sama dengan Adam. Tragedi pembidahan kristologi-islam diteruskan hingga nama dan gelar surgawi dari Yesus Kristus itu dihapuskan (dinasakh-kan) secara lancang, diganti baru dengan ISA al-Masih, suatu nama dan gelar yang maknanya dikosongkan samasekali dari Quran! Gabriel diabad kesatu dan Jibril abad-7 dan Rohulqudus sungguh tak ada kesamaan oknum. Jibril dikatakan mempunyai 600 sayap, suatu kemewahan yang tidak dipunyai oleh Gabriel Alkitab. Quran dan Hadis tidak mempunyai solusi untuk meng-elaborasi ketiganya. Maka datanglah “pakar Islam” yang ramai-ramai memaksakan ketiga oknum itu sebagai identik, demi memudahkan masalah-liar yang tak terkontrol ini untuk disederhanakan saja dari sudut pandang Islam. Kesamaan-semu antara narasi Gabriel dengan Jibril hanya terjadi karena pendongengan ulang dari Jibril yang dilakukan dengan menggeser setting lokasi, pesan, dan nilai-nilai aslinya Gabriel. Namun berdasarkan maklumat kedua jenis malaikat ini – andaikata kita menempati diri sebagai Maria – maka tak ada keraguan kita untuk memilih dan percaya kepada Gabriel dan menjauhi Jibril.

Kita tidak akan memilih Ruh yang mengantongi begitu banyak atribut ‘TIDAK’, yaitu: tidak jelas jati dirinya, tidak meyakinkan, tidak sensitif, tidak punya etika salam, tidak paham geografi dan details lokasi, tidak bermujizat, tidak bernubuat, tidak menentramkan malah menakutkan/ menteror, tidak membuktikan kelembutan dan kasih Tuhan, melainkan justru “menodongkan” sesuatu yang harus Anda terima tanpa penjelasan, yaitu ketika Anda diharuskan mengandung seorang anak manusia diluar nikah yang dikategorikan sebagai haram! Pendek kata, Jibril hanya jago bermisterius, menggeser setting, mengaburkan dan mengkorup nama dan pesan-pesan Yesus Almasih, namun tidak memberi bukti apapun kecuali klaim. Ia sosok yang mempunyai agenda tersendiri, yang salah dipilih dan diutus oleh Allah SWT, karena ia hanya duplikat aspal dari Gabriel dalam berwahyu! Itu sebabnya ia mudah berkilah bahwa Isa-Almasih yang disalib itu adalah isa-isa-an yang di-aspalkan (diserupakan) Allah bagi bani Israel, menurut surat 4;157!

  • Share/Bookmark

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.