Zakaria Boutros : Sumber-Sumber Penulisan Alquran

Al Quran

Al Quran

Pertanyaan Mengenai Iman

Episode 52

Mohamed:  Para pemirsa terkasih, selamat datang ke episode baru program, “Pertanyaan Mengenai Iman”.  Bersama dengan kita adalah tamu kita terkasih, Bapak Pendeta Zakaria Botros.  Selamat datang Pak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih.

Mohamed:  Di episode sebelumnya, Anda membahas topik yang sangat rumit, dan telah mengakibatkan timbulnya banyak pertanyaan diantara orang-orang dan para pemirsa.  Dan ada sebuah penolakan yang kuat, tentu saja, dari perkataan Anda di episode sebelumnya… bahwa beberapa ayat diungkapkan oleh setan, karena ini hal yang amat sangat sulit untuk diterima.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Kenyataannya adalah semua hal ini sangat mengejutkan.  Ketika Anda mendengarnya untuk pertama kalinya.  Tetapi masalah ini, yang telah diangkat oleh Al Nassify, dan telah dibicarakan oleh Al Jalalan, begitu juga Imam El Nahass…  Abu Ga’afar El Nahass, dalam bukunya, “El Nasekh Wa El Mansookh”, halaman 225, dan Ibn Salama dalam bukunya “El Nasekh Wa El Mansookh”, halaman 39, dan Ibn Saad dalam bukunya “Al Tabaqat Al Kubra”, dan Al Qurtoby di 6 tempat yang berbeda dalam komentarnya, dan oleh Ibn Hazm sebanyak 3 kali dalam bukunya, “Al Fasl Fi Al Melal Wa Al Ahwa’a Wa Al Nehal” dan El Sheikh Al Albani dalam bukunya, “Nasb El Majaneeq” di halaman 10.

Mohamed:  Anda sebutkan bahwa itu ada di website Al Azhar juga.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Di Al Jalalan, website Al Azhar, tetapi telah dihapus dari tempatnya, dan sebagai penggantinya mereka menaruh, “Tidak ada penjelasan” untuk ayat ini.  Bagaimanapun juga, ayat ini, ketika diturunkan, mempunyai cerita dibelakangnya, yang berkata…

Mohamed:  Apa ayatnya…? Dapatkah Anda mengulang ayat tersebut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ayat saat Muhammad berkata:  “Apakah engkau semua telah mempertimbangkan Allat dan Al Uzzah dan Manat, dua lainnya yang ada di kelas ketiga.”  Dan ia menambahkan, dan berkata, “dewi tertinggi tersebut, perantaraannyalah yang sebaiknya dicari.”  “Dewi” artinya berbudi luhur, mulia, berkelas tinggi, dan “perantara” disini berarti…  Anda tahu, dan 3 disini, Manat dan Allat dan Al Uzzah, mereka adalah dewa.  Apakah Anda mengikuti?  Biarkan saya membacakan tulisan Al Wahedi dalam bukunya, “Asbab Nezol Al Al Qur’an.”  Ia berkata, “Ketika rasul Allah melihat orang-orangnya berpaling darinya, dan isolasi dari mereka tersebut terasa sangat sulit baginya karena apa yang telah ia perbuat terhadap mereka, ia ingin, dalam hatinya, agar sesuatu akan datang dari dirinya, dari Allahnya, yang akan membuat ia dengan teman-temannya dekat.  Dan ini dikarenakan ia keras terhadap iman mereka.  Jadi pada suatu hari ia duduk di sebuah pertemuan orang-orang Qurishite, yang dihadiri oleh banyak orang.  Dan pada hari itu, ia ingin agar ia dapat menerima sessuatu yang ia inginkan dari Allah Maha Tinggi, dan ia mengharapkannya.  Sehingga Allah Maha Tinggi menyatakan:  “Oleh bintang saat terbenam…” yang dikutip oleh rasul Allah, sampai ia mencapai titik:  “Apakah engkau telah mempertimbangkan Allat dan Al Uzzah dan Manat, yang lainnya, yang berada ditingkat ketiga.”  Setan memasukkannya ke dalam mulutnya, apa yang telah ia harapkan di dalam hatinya, dan mengingini ketiga dewi tersebut, yang perantaraannya diharapkan.  Dan ketika orang-orang Qurishite mendengar hal ini, mereka bersukacita dan rasul Allah terus mengutip, sehingga ia mengutip seluruh Surat, dan berlutut di ujung Surat, dan orang-orang Muslim berlutut karena ia berlutut, begitu juga para sekutu yang ada di mesjid.  Mereka menemukan bahwa Allat dan Al Uzzah dan Manat, dewi-dewi mereka dihormati karena Muhammad membicarakan perantaraan mereka, sekarang mereka mempunyai perantara.  Dan akhirnya, tidak ada seorangpun, apakah orang percaya atau orang tidak percaya, di mesjid, pantang berlutut.  Orang-orang Qurishite berpencar, setelah senang atas apa yang mereka dengar, dan berkata, “Muhammad telah membuat pernyataan terbaik atas allah-allah kami.”  Dan berkata, “Kami tahu bahwa Allah membawa kehidupan dan kematian, tetapi allah-allah kami ini menjadi perantara bagi kami kepadanya.”  Jadi, mereka percaya kepada satu Allah, tetapi allah-allah ini mempunyai perantara.  Karena Muhammad telah menetapkan porsi bagi mereka, kami akan mengikutinya.  Tetapi saat malam datang, Jibril mendatangi sang Rasul Allah dan berkata, “Apa yang telah kamu lakukan?  Engkau telah mengutip bagi orang-orang tersebut hal-hal yang tidak aku bawakan kepadamu, mengenai Allah Maha Tinggi, dan engkau telah mengatakan hal-hal yang tidak aku katakan kepadamu.”  Jadi rasul Allah, semoga damai dan doa untuknya, sangat bersedih dan ia sangat takut kepada Allah, dan oleh karenanya, Allah Maha Tinggi menyatakan ayat ini:  “Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi.”  Jadi orang-orang Qurishite berkata, “Muhammad merubah pikirannya, mengenai status allah-allah kami dengan Allah, sehingga mereka menjadi bertambah jahat, bahkan lebih dari sebelumnya.”

Mohamed:  Apa kelanjutan dari ayat tersebut?  Anda hanya berkata, “Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi kecuali setan merintangi keinginannya, bahkan ketika ia mengingini sesuatu.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya.  “Ketika ia mengingini sesuatu.”  Ini ayatnya.  Ketika ia mengingini, setan merintangi keinginannya.  Abu Bakr Al Harithi memberitahu kami, di Rentangan Saeed Ibn Jobair, ia berkata, “Rasul Allah mengutip, ‘Apakah engkau telah mempertimbangkan Allat dan Al Uzzah dan Manat, yang lainnya, yang ada di kelas ketiga.’  Dan setan memasukan di mulutnya ‘ketiga dewi-dewi yang perantaraannya diharapkan.’”  Sampai akhirnya, yang merupakan dari setan.  Tetapi ketika Jibril berkata, “Aku tidak mengatakan itu kepada engkau”, dan itu adalah dari setan, ia berkata kepadanya, “Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi kecuali setan merintangi keinginannya, bahkan ketika ia mengingini sesuatu.”  Mereka menjelaskan bahwa ia akan menyisipkan kata-kata.

Mohamed:  Dimana ayat tersebut disebutkan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Surat, ayat ini disebutkan di Surat…  Baik, ayat itu sangat dikenal, saya akan beritahu dimana, hanya saja saya tidak dapat menemukannya sekarang.  Apakah Anda mengikuti?  Ia menyisipkannya di dalam pikirannya, dan kemudian ini dibatalkan, dan itulah alasan mengapa dikatakan, “Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi kecuali setan merintangi keinginannya, bahkan ketika ia mengingini sesuatu.” Dan di ayat lainnya dikatakan, “Allah akan membatalkan apa yang telah setan rubah.” Jadi Allah akan membatalkan penyisipan oleh setan ini.  Ayat pertama mengatakan, “Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu”, di Surat ke 22 (Al Hajj), ayat 52.

Mohamed:  Dan ayat ini masih ada sekarang?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, ada di Al Qur’an.  Kita dapat menemukannya.

Mohamed:  Ya, ya. Saya hanya ingin para pemirsa membuktikan sendiri hal-hal tersebut.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tentu saja, itu baik.

Mohamed:  Kita akan mencukupkan diri kita sampai sini saja, karena kita telah menerima pertanyaan lainnya.  Dikatakan:  “Dr. Mohamed Omara dan sebelumnya Sheikh Mutwalli Sha’arawy, dan juga misionaris Ahmed Didat, mengklaim bahwa Kitab Suci Anda, baik Kitab Taurat maupun Kitab Injil, adalah buku yang telah diubah, dan kita tidak mengetahui sumber dari mitos-mitos di dalamnya.  Jadi mengapa Anda tidak berhenti? – diantara dua kurung – Mengapa Anda tidak berhenti, hai munafik?”  Permisi

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih banyak.  Tetapi sebelum kita menyelesaikan topik sebelumnya, saya mempunyai beberapa komentar singkat.

Mohamed:  Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Untuk kepentingan para pemirsa, saya sangat terkejut atas kata-kata tersebut.  Ada sebuah bagian di Surat ke 72 (Al Jinn)…  Surat ini, tentu saja, diberi nama dari setan, penuh dengan perkataan mengenai setan.  Ini sebuah buku komentar oleh Al Jalalen…  Jalal El Din, Al-Jalalen.

Mohamed:  Ya, ya.  Silahkan…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Dalam komentar Al Jalalen, saya ingin membacakan kepada Anda apa yang dikatakan, permisi, di Surat ke 72.  Ini yang dikatakan:  Katakanlah (hai Muhammad):  “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya:  sekumpulan jin telah mendengarkan”, dan kemudian dikatakan:  “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar.  Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar,” lalu… dan selanjutnya keseluruhan Surat tersebut mengikuti seperti ini:  “kemudian jin berkata.”  Saya juga meninggalkan kepada para pemirsa, untuk memeriksanya sendiri.  Bagaimana bisa, sebuah Surat yang seluruhnya diucapkan oleh jin.

Mohamed:  Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ada sebuah cerita lainnya.  Hal lainnya di Surat ke 16 (Al Nahl), ayat 98.  Dikatakan, “Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.  Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.  Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”  Baiklah, saya ingin agar para pemirsa mengambil ayat ini, dan membandingkannya dengan dengan ayat yang berkata bahwa setanlah yang memasukkan perkataannya di bacaannya sendiri, dan berkata, “dewi-dewi tertinggi itu.”  Baiklah, “Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.  Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.”  Saya tidak mau mengambil kesimpulan, tetapi saya mau meninggalkan kedua isu ini untuk kepandaian dan kearifan para pemirsa.  Biarkan mereka membawa keduanya kemana saja dan bertanya, ia tidak mempunyai kekuasaan atas siapa?  “Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.”  Baik, jadi kekuasaannya ada dimana?  “Atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”  Baik, kemudian, bagaimana ia mempunyai kekuasaan untuk mengatakan ayat-ayat.  Baiklah, hal tersebut adalah…  mohon dilanjutkan…  Anda telah membuka sebuah topik baru, mengenai…

Mohamed:  Mengenai apa?  Ini hal-hal yang menarik, tetapi informasi yang menyakitkan, dan kami menyerahkannya kepada para pemirsa.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Kepada para pemirsa…

Mohamed:  Kepada para pemirsa.  Sekali lagi, ini pertanyaannya:  “Dr. Mohamed Omara dan sebelumnya Sheikh Mutwalli Sha’arawy, dan juga misionaris Ahmed Didat, mengklaim bahwa Kitab Suci Anda, baik Kitab Taurat dan Kitab Injil, adalah buku yang telah diubah, dan kita tidak mengetahui sumber dari mitos-mitos di dalamnya.  Jadi mengapa Anda tidak berhenti? – diantara dua kurung – Mengapa Anda tidak berhenti, hai munafik?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Saya berterima kasih kepada orang yang telah mengirimkan kutukan ini, karena, sebenarnya, kita mendapatkan berkat darinya.  Mengapa?  Karena inilah yang Isa Al-Masih katakan:  “Berbahagialah kamu, apabila karena Aku, kamu dicaci maki, dianiaya, serta difitnah orang.” “Difitnah karena Aku…”, betul?  Jadi, kutukan ini membawa berkat bagi saya.  Tentu saja.  Dan, Anda tahu, kita tidak membicarakan masalah pribadi, kita membicarakan suatu topik.  Ia berkata bahwa Kitab Suci telah diubah.  Faktanya, mengatakan bahwa Kitab Suci telah diubah, berarti mempertanyakan kebenaran sang Rasul sendiri.  Karena sang Rasul sendiri berkata, “Katakan, bawakan kepadaku sebuah buku dari keberadaan Allah, yang akan menuntun lebih baik daripada yang lainnya, supaya aku dapat mengikutinya, yaitu Kitab Taurat dan Kitab Injil”.  Jadi, ketika ia mengklaim bahwa Kitab Suci telah diubah, kemudian mengapa sang Rasul berkata demikian?  Sebuah masalah.

Mohamed:  Jadi, apakah ia bersaksi atas buku yang salah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Saya tidak tahu.  Bukan hanya itu, ia bersaksi kepada mereka bahwa tidak ada yang dapat memberikan tuntunan yang lebih baik dibandingkan buku-buku itu.  Dan lagi, ia juga mempertanyakan kebenaran Al Qur’an, karena dikatakan, “Kami sendiri telah mengirimkan peringatan ke bawah, seperti kita telah menjaganya.”  Bukankah ini sama dengan yang mengirimkan Kitab Injil dan Kitab Taurat?  Jadi mengapa ia tidak menjaganya?  Jadi ini sanggahan terhadap Al Qur’an.  Mari kita hentikan topik mengenai perubahan ini bagi mereka yang tertarik kepadanya.Tetapi hal kecil mengenai sumber mitos-mitos dalam Kitab Suci…  tentu saja, saya tidak membatasi siapapun, ia bebas bertanya apapun yang ia mau.  Apakah kita mempunyai mitos-mitos dan kita tidak mengetahui sumbernya?  Kita tidak mempunyai mitos-mitos apapun.  Kitab Suci kita merupakan sejarah, kronologis (berurutan), dan jelas.  Lebih dari itu, Nabi yang bersaksi mengatakan bahwa Kitab Suci berisikan petunjuk dan terang, dan berkata, ”Jika engkau meragukan apa yang telah kami kirimkan kepadamu, bertanyalah kepada mereka yang membaca buku ini sebelum engkau,” jadi inilah kesaksian mengenai kebenaran Kitab Suci.  Tetapi karena kita telah memberikan kebebasan kepada para pemirsa dan saudara-saudara kita, saya sangat senang mengenai hal ini…  Anda mungkin tidak percaya, tetapi saya sangat senang karena Anda telah mencapai tingkat kebebasan seperti ini.  Sekarang, biarkan saya bertanya, apa sumber dari mitos-mitos yang ada di Al Qur’an?  Atau, apa sumber Al Qur’an yang berasal dari mitos-mitos?

Mohamed:  Baiklah, kebebasan berekspresi dijamin dengan hak azasi manusia, oleh hukum hak azasi manusia. Orang yang bertanya ini telah mengekspresikan dirinya sendiri dengan bebas, dan sekarang giliran Anda mengekspresikan diri Anda sendiri dengan bebas.  Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih.  Pertama-tama, saya tidak ingin kata-kata saya disalah-artikan sebagai penghinaan kepada orang-orang Muslim.  Tetapi kami mengajukan semuanya ini di arena diskusi, belajar, berpikir, dan seterusnya.  Yang kedua, saya ingin mengacu kepada perkataan dari Dr. Taha Hussein mengenai pemikiran logis ilmiah.  Kami ingin mengangkat percakapan sampai ke tingkat pemikiran yang logis dan ilmiah, yang menyangkut menghormati pendapat dan pendapat yang berlawanan.  Tetapi Dr. Taha Hussein mengatakan suatu hal yang sangat penting.  Apa yang dikatakannya?  Dalam bukunya mengenai puisi dari masa sebelum Islam, halaman 11 dan 12, ia berkata:  “Aturan dasar metodologi penelitian ilmiah adalah bahwa sang peneliti akan melepaskan dirinya dari semua hal, dari semua hal, apapun itu, semua hal yang ia ketahui sebelumnya, ia harus melepaskan dirinya dari itu semua, dan menerima topik penelitiannya dengan pikiran terbuka, benar-benar terbebas dari apapun yang telah disebutkan mengenai hal itu sebelumnya.  Dan semua orang tahu bahwa metodologi ini, yang dulunya telah dipertanyakan oleh para pendukung filosifi dan agama, disaat metodologi ini muncul, merupakan metode yang paling berkembang, mudah dan paling efektif.  Metodologi ini merupakan tanda karakteristik dari masa moderen.  Kita tidak menerima atau menyetujui sesuatu, kecuali metode penelitian ilmuwan yang benar.”  Ini benar-benar hal yang tidak kita miliki di Timur, dimanapun juga.  Kita tidak mempunyai metode ilmiah penelitian.  Kita punya sebagian saja, dan itu saja.  Dan saya tidak mau siapapun terkejut dengan pertanyaan saya, mengenai sumber-sumber yang diambil oleh Nabi Muhammad untuk Al Qur’an-nya, karena saya mempertanyakannya dengan kasih yang tulus dan integritas yang jujur, supaya Anda dapat menemukan kebenaran yang kami inginkan, dan tentu saja, masalah ini terbuka untuk diskusi.  Dan para ulama Islam bebas untuk menjelaskan pandangan mereka atas diskusi ini dengan kebebasan penuh, lengkapi dengan bukti-bukti resmi dan sesuai dengan logika yang benar.

Mohamed:  Dan apa maksud Anda dengan mengatakan, “Sumber-sumber yang diambil oleh Nabi Muhammad untuk Al Qur’an-nya?” Bukankah semua Muslim percaya bahwa sumber Al Qur’an adalah pewahyuan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Sebenarnya yang Anda katakan adalah hal yang sah, tetapi mari kita datang dan lihat …  mari kita lihat dan periksa beberapa ayat-ayat Al Qur’an, dan membicarakan ayat-ayat tersebut.  Di Surat Ke 25 (Al Furqan), ayat 4-6:  “Dan orang-orang kafir berkata:  “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman dan dusta yang besar.  Dan mereka berkata:  “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah:  “Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi.  Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Walaupun ada orang-orang yang mengklaim bahwa Al Qur’an terbuat dari legenda-legenda di masa sang Rasul.

Mohamed:  Surat yang mana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Surat ke 25 (Al Furqan), dari ayat 4-6.  Di Surat ke 16 (Al Nahl), ayat 103:  “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata:  “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”.  Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.”  Sebenarnya, mereka mengatakan, manusialah yang mengajar Muhammad, dan manusia yang Anda katakan adalah seorang asing, tetapi Al Qur’an dalam bahasa Arab yang jelas.  Baik.  Dua hal menjadi bukti bagi kita dari ayat-ayat ini.  Yang pertama adalah bahwa sang Rasul menekankan bahwa Al Qur’an adalah wahyu dari Allah; Al Qur’an telah diturunkan oleh seseorang yang mengetahui rahasianya.  Dan yang kedua, yang merupakan bukti dari ayat-ayat ini juga, adalah keberadaan Nabi Muhammad memiliki pendapat yang lain, yang kita simpulkan…  yang disimpulkan oleh ayat-ayat ini, sebagai berikut:  Pertama, apapun yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah buatan (fabrikasi).  Surat ke 25 (Al Furqan), ayat 4, “Dan orang-orang kafir berkata:  “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad.” Kedua, sang Rasul telah mengarangnya, dan mengklaim bahwa ini adalah wahyu.  Surat ke 25(Al Furqan), ayat 4, “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad.” Ketiga, ada beberapa orang yang membantu sang Rasul.  Surat ke 25 (Al Furqan), ayat 4, “Dia dibantu oleh kaum yang lain.”  Keempat, dan orang-orang tersebut telah mendiktekannya kepada sang Rasul, Surat ke 25 (Al Furqan), ayat 5, “Dimintanya supaya dituliskan.” Keenam… maaf, kelima… ada orang-orang yang mengajarkan perkataan-perkataan ini kepada sang Rasul.  Surat ke 16 (Al Nahl), ayat 103, “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)!” Dan, “Dan mereka berkata:  …dimintanya supaya dituliskan.” Ini yang keenam… hal yang keenam, dan bahwa:  “Dan mereka berkata:  Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan;” mereka berkata… di Surat ke 25 (Al Furqan), mereka berkata … apa yang mereka katakan, di Surat ke 25(Al Furqan)?  “Dan mereka berkata:  Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan;” Oleh karena itu, mengenai ayat-ayat Al Qur’an, ada banyak orang yang mengatakan bahwa itu semua hanyalah legenda belaka, dan orang-orang mengajarkannya kepada sang Rasul, tetapi ia berkata, “Tidak, ini adalah perkataan-perkataan dari Allah.”  Ada dua pandangan yang muncul mengenai topik ini.

Mohamed:  Anda telah membiasakan para pemirsa untuk tidak puas dengan pendapat Anda, tetapi untuk mendukung pendapat Anda dengan pernyataan-pernyataan dari para ahli hukum dan ulama. Apakah Anda mempunyai pernyataan-pernyataan tersebut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Anda benar… Anda benar.  Ya, dengan senang hati saya menghormati kepandaian dari para pemirsa yang terhormat, dan tidak hanya mengklaim pengetahuan untuk diri sendiri, dan saya mohon pengampunan dari Allah.  Marilah kita membahas komentar dari para ahli hukum.  Di komentar Imam Al Nassafy, volume 2, halaman 233-234, ia berkata… Al Nassafy berkata:  “Pernyataan kudus, ‘Ini hanyalah penipuan-penipuan yang ia ciptakan.’ Interpretasi atau pengertiannya adalah sebuah kebohongan, yang ia buat-buat atau fabrikasi dari keserasian.”  Ini adalah perkataan dari orang-orang.  Kedua, pernyataan kudus, “Dia dibantu oleh kaum yang lain. ”  Yaitu, orang-orang Yahudi… Addass, pelayan Attaba, Yassar dan Abu Fakeeh, orang-orang Yunani.  Dan pernyataan kudus, “Dan mereka berkata:  “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan;” Ini adalah percakapan orang-orang kuno, yang Muhammad tuliskan sendiri.” Siapa yang bicara seperti itu?  Yaitu Al Nassafy.  Sekarang kita sampai ke Al Neesapori, di “Ghara’eb El Al Qur’an”, volume 7, halaman 99.  Memberikan komentar atas pernyataan:  “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)!”, Imam Al Neesapori bertanya-tanya, dengan mengatakan:  “Siapa manusia itu?”  Ia menanggapi pertanyaan ini, dan mencatat 5 hal:

  • Pertama, dikatakan bahwa manusia itu adalah budak Hoaitib, Ibn Abd Ele’za, dan namanya adalah A’eish dan Ya’esh.  Ia memiliki Kitab Taurat, sekarang keragu-raguannya ada di A’eish dan Ya’esh.
  • Kedua, dikatakan bahwa manusia itu adalah Jabr, seorang budak Yunani yang dulunya milik Amer Ibn El Hadrami, seorang Nasrani … ini sebuah gosip lainnya.
  • Gosip ketiga, dikatakan bahwa kedua budak, yaitu Jabr dan Yassar, dulunya pembuat pedang di Mekah, dan membaca Kitab Taurat serta Kitab Injil.  Dan Rasulullah, doa dan damai baginya, sering mampir setiap kali ia melewati mereka, da mendengarkan hal-hal yang mereka bacakan.
  • Keempat, dikatakan bahwa manusia itu adalah Sulayman, oang Persia.  Ia seorang budak dari Fakeha Ibn El Moghiria, bernama Jabr, dan ia seorang Nasrani.
  • Kelima, dikatakan juga bahwa manusia itu adalah seorang tukang besi di Mekah bernama Bala’am.

Jadi disini ia mencatat lima orang yang berbeda, mengenai gossip yang tersebar.  Sheikh Khalil Abdul Kereem, dalam bukunya, “Fatrat Al Takween Fi Hayat Al Sadek Al Amin”, halaman 325… maksud saya, 335, mencatat nama-nama lainnya yang telah mempunyai pengaruh luas atas budaya keagamaan sang Rasul.  Inilah yang ia katakan, Sheikh Khalil, telah mendorong kearah Al Qur’an.  Dan catatan ini meliputi pastur, biksu atau orang-orang yang tidak menikah, dan orang-orang Nasrani, nama-namanya adalah sebagai berikut:  Pastur Waraka Ibn Nawfal, Biksu Buhaira, Biksu Sergios, Biksu Addass…

Mohamed:  Semuanya adalah orang Nasrani.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya.  Ini adalah beberapa pendapat dari para ahli agama dan ulama.  Dan dengarkan… kita tidak seharusnya mengabaikan hal tersebut, karena menurut logika ilmiah di abad ke-21, kita seharusnya meneliti hal-hal ini, memeriksa apakah mereka benar atau salah.  Tetapi, membuang mereka ke belakang tanpa memeriksanya dengan teliti terlebih dahulu seharusnya dianggap sebagai sebuah kejahatan, kejahatan terhadap kepandaian manusia, karena Allah memberikan kita pikiran untuk menyelidiki dasar dari iman kita, dan melihat apakah kita berjalan di jalan yang benar atau tidak.

Mohamed:  Baiklah, dengan segala hormat, semua pendapat ini hanyalah tuduhan belaka dan tidak membawa kesimpulan penting apapun.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Hal ini mungkin sebuah pandangan yang benar, dan saya tidak pernah melarang pendapat apapun.  Tetapi seperti Anda mempunyai pendapat Anda sendiri, dan saya mempunyai pendapat saya sendiri, dan yang lainnya mempunyai pendapatnya masing-masing…  marilah sekarang kita saling membagikan pendapat.  Apa yang Anda katakan merupakan pembukaan penting yang harus diperhatikan.  Apakah kita berpikir dengan pikiran bebas kita?  Karena tidak ada asap tanpa api.

Maksud saya, banyak orang yang memegangnya – dan ia sendiri mengaku – di Al Qur’an ada orang-orang tertentu yang mengatakan ini dan orang-orang tertentu mengatakan itu.  Tetapi, mengapa Anda berbicara seperti itu, sebagai awalnya, dari permulaan?  Contohnya, jika Anda menerapkan kepada kami hari ini, bahwa Mohamed adalah … Mohamed adalah, contohnya, seorang penjahat.  Apakah saya hanya berkata dengan sembarangan?  Tidak, pasti ada sesuatu yang menyebabkan saya mengatakan hal tersebut, menurut prinsip yang mengatakan tidak ada asap tanpa… apa?

Mohamed:  Tanpa api.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Apakah Anda mengikuti?  Kemudian, nama-nama tertentu yang dengan tepat disebutkan, Fakeh dan Bala’am, Addass, Waraka Ibn Nowfal dan Biksu Buhaira… Nama-nama ini adalah nama-nama orang yang benar-benar ada, dan untuk mencatat nama-nama mereka secara khusus, tentu saja ada maknanya.  Dan sekarang, pertanyaan yang sangat serius, adalah sebagai berikut:  Pendapat mana yang benar?

Mohamed:  Pendapat yang pasti?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Apakah Al Qur’an benar-benar sudah diungkapkan oleh Allah, seperti yang sang Rasul katakan, atau Al Qur’an benar-benar hasil diktean dari orang-orang tersebut, seperti yang generasi Muhammad nyatakan.  Mereka yang tinggal di masanya berkata demikian.  Mereka melihat ia pergi ke situ dan mereka berkata, “Pasti ia belajar di situ.” Mereka melihat ia pergi ke situ, dan mereka berkata, “Pasti ia belajar di situ.”  Baik, sebenarnya jalan yang mana tepatnya?  Dan saya percaya bahwa penentu akhir atas hal ini adalah apa yang sang Rasul sendiri katakan, di Al Qur’an, di Surat ke 4 (An Nisaa), ayat 82:  “Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” Jika Al Qur’an merupakan wahyu, standard wahyu harus berlaku di dalamnya, setelah dievaluasi.  Jika Al Qur’an benar-benar datang dari Allah, seharusnya kita tidak menemukan pertentangan di dalamnya, diantara ayat-ayat.

Mohamed:  Dan Anda berbicara mengenai semua pertentangan-pertentangan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Itu satu hal… dan kita juga tidak boleh melupakan pembatalan dan ayat-ayat yang dibatalkan.  Coba pikirkan, 62.28% dari Al Qur’an telah dibatalkan atau pembatalan…  hal-hal yang telah dikatakan, kemudian dihapus, dan ayat-ayat yang telah diturunkan, kemudian dibatalkan, atau hal-hal yang telah diungkapkan, kemudian dilupakan, seperti “dewi-dewi tertinggi,” contohnya.  Hal itu telah dikatakan, dan kemudian dibatalkan, sama seperti menyusui orang dewasa.  Telah dikatakan, dan kemudian dihapuskan.  Apakah Anda mengikuti?  Jadi ada banyak perubahan dan penggantian… sangat banyak.  Jadi seseorang seharusnya berpikir melalui pandangan dan perspektif ini.  Jadi, menurut kedua ketentuan logis ini, kita bertanya kepada orang-orang Muslim terkasih, ”Apa yang Anda pikirkan?”  “Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”  Dan pertentangannya ada disitu, jadi apakah ini?  Apakah dari Allah, atau tidak?  Apakah hanya sekedar legenda?  Sebuah pertanyaan besar.  Sebuah tanda tanya yang besar.  Dan sekarang, bahkan tidak sebesar studio… maksud saya tanda tanyanya.  Tidak, tetapi sebesar dunia.  Ini pertanyaan yang besar sekali.

Mohamed:  Ya, ya.  “Saya bersyukur kepada Allah.  Saya telah memohon kepadaNya dengan seluruh hati saya, untuk mengampuni dosa-dosa saya dan menerima saya, seperti saya telah menerimaNya, tetapi saya tidak tahu bagaimana harus menghadapiNya, karena Ia seorang hakim yang besar, dan sejujurnya, dulunya saya melakukan kewajiban saya hanya untuk menyenangkanNya.” Ini telah dikatakan oleh salah seorang pemirsa.  “Tetapi sekarang saya ingin mempunyai sebuah hubungan yang baru antara Dia dengan saya, apakah Anda bersedia menuntun saya?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Agak benar.  Anda tahu, ini hal yang benar-benar membuat saya bersyukur kepada Allah… atas hasil yang sangat berbuah ini.  Semua episode-episode sebelumnya belum pernah menghasilkan surat yang begitu banyak seperti ini.  Kami menerima surat, tetapi tidak sebanyak ini.  Jadi saya bersyukur kepada Allah atas dampak ini, atas mereka yang telah diubahkan, mereka yang telah menerima Dia, mereka yang datang untuk mengenal Dia.  Sebuah hal yang indah dan hebat.  Nasehat saya:  Kitab Suci berkata, “Tetapi kepada orang-orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya:” Jadi, saya menghadapi Allah sebagai Bapa-ku.  Jika saya telah menerimaNya, saya tidak harus takut kepadaNya.  Ya, Allah adalah hakim, tetapi belum… hari ini, Isa Al-Masih adalah perantara, besok Ia akan menjadi hakim.  Saya harus memanfaatkan kasihNya hari ini, pertolonganNya kepada saya, bahwa Ia akan menyelamatkan saya.  Persis seperti seorang guru…  sebelum ujian, ia membantu Anda, ia mau Anda mempelajari semuanya.  Tetapi di hari ujian, ia akan menghakimi Anda, ia akan menilai Anda.  Jadi mengapa tidak memanfaatkan Allah, seorang Bapa yang penuh kasih?  Ia berkata, “Aku tidak lagi memanggil kamu hamba, karena seorang hamba…  tetapi aku memanggil kamu teman, karena berapapun yang menerima Dia, kepada mereka Ia memberikan hak untuk menjadi anak-anak Allah.”  Dan ia berkata lagi, “Aku akan menjadi seorang Bapa bagimu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan perempuan,” Anak-anak laki-laki dan perempuan… Jadi saya harus mengambil kesempatan hubungan anak-bapa antara saya dan Allah, dan mendekati Allah dengan kasih, bukan dengan ketakutan.  Jadi, kepada para pemirsa, kepada yang bertanya, kepada yang mengirimkan surat, saya berkata kepada Anda:  Dekati Allah seperti Bapa-mu sendiri, dan Anda akan menemukan kasih yang sangat luar biasa.

Mohamed:  Amin. Terima kasih banyak.  Itu saja. Dan kita akan berjumpa kembali di waktu yang lain, para pemirsa terkasih.  Semua yang telah Anda dengar di episode sebelumnya, juga di episode ini, tunjukkan kepada kami bahwa kami tidak membicarakan agama, karena jalan menuju kepada Allah bukan melalui agama.  Jalan menuju Allah adalah hanya melalui seorang Isa Al-Masih, yang berkata, “Marilah kepada-Ku, hai kamu semua yang lelah dan menanggung beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu.” Bersukacilah dalam Allah, dan Ia akan memberikan engkau keinginan dalam hatimu.”  Terima kasih untuk mendengarkan dan diakhir program ini, saya ingin membagikan beberapa ayat kepada Anda: Tinggalkan yang jahat dan berbuat baik, dan tinggal selamanya, karena Allah mencintai keadilan dan tidak meninggalkan orang-orang kudusNya, mereka dipelihara selamanya.”  Terima kasih banyak.  Jika ada yang mengingini sebuah Kitab Suci, silahkan menulis kepada kami di alamat yang akan muncul di layar.  Dan sampai kita berjumpa lagi di episode yang baru, terima kasih.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih banyak.

Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974”. version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

  • Share/Bookmark

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

7 Comments

  1. plintiranmu pak pendeta………all is busyet….;p

  2. artikel yg bagus………………………….

  3. @Pelurus2 he

    Kalo memang melintir silahkan Saudara Luruskan :)

  4. Saya mau bertanya nih… Buat smuanya aja deh..

    Sebenarnya Al-quran itu turunnya dalam bentuk apa sih? dalam bentuk kertas atau bentuk wahyu untuk nabi yang kemudian yang diserukan oleh nabi? Koq sampai ada perintah untuk baca segala? brarti awal turunnya dalam bentuk tulisan donk? bener gak sih?

    Setahu saya klo nabi-nabi yang sudah ada, semua wahyunya dalam bentuk penglihatan atau langsung diberitahu oleh Allah sendiri kepada nabi tersebut, kemudian baru ditulis kedalam sebuah media tulis (bisa batu, daun, kertas, dsb)….

    apakah semua ayat Alquran yang turun selalu dalam bentuk tertulis? klo tidak, kenapa terjadi inkonsistensi spt demikian?

    Bukankah akan lebih mudah bagi Allah untuk menurunkan wahyu-Nya dari awal dalam bentuk penglihatan kepada nabi tsb, kmudian nabi tersebut baru memberitakan kepada orang-orang lain dan kemudian orang yang mendengar itu yang menuliskan apa yang dikatakan nabi?

    Agak membingungkan juga sih….

    Thx…

  5. @ BIONIC

    MENURUT KAUM ISLAM, ALQURAN DIBERIKAN OLEH JIBRIL TERUS SI MUHAMMAD DISURUH BACA, DARI KEBANYAKAN ARTIKEL ISLAM SIH DINYATAKAN BAHWA PERISTIWA ITU TERJADI SAMPAI BEBERAPA KALI, JADI AGAKNYA SI JIBRIL BOLAK BALIK KE SURGA UNTUK NGAMBIL SALINAN KITAB ITU. BERARTI MENURUT SAYA, SI JIBRIL BAWA KOPER ATAU TAS PINGGANG YANG ISINYA BUKU ALQURAN TERUS DI GUA ITU SI MUHAMMAD DISURUH BACA.

    KARENA BURU-BURUNYA, SI JIBRIL LUPA MENULISKAN NAMA SIAPA ANAK YANG AKAN DISEMBELIH OLEH ABRAHAM.

    WHAT A FUNNY STORY!!!

  6. :) FAJAR SI PENDUSTA :) BACA LAGI ARTIKEL SEBELUMNYA :)

  7. @ CHANDRA
    anda lupa bilang ke saya “BACALAH!”
    jadi lupa saya baca tuh pak…sorry dorry ya pak atas keteledoran saya.:)

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.