BAGAIMANAKAH ANAK IBRAHIM DITEBUS?

Fresco with image of Abraham to sacrifice his son (Islamic version) on a Haft Tanan museum wall in Shiraz

Fresco with image of Abraham to sacrifice his son (Islamic version) on a Haft Tanan museum wall in Shiraz

TANTANGAN: Orang-orang Muslim menerima ajaran Al-Quran, yang mengatakan bahwa manusia bisa diselamatkan dari neraka dan mendapatkan surga dengan melakukan perbuatan baik. Inilah sebabnya mereka menolak keyakinan Kristen akan penebusan dosa atau melalui kematian Kristus sebagai pengganti di kayu salib. Menurut iman ini, manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri melalui perbuatan baik. Namun, keselamatan hanya bisa terjadi melalui adanya pihak ketiga, yang sebagai pengganti menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Benarkah memang tidak ada sama sekali jejak penebusan melalui kematian pengganti dari pihak lain yang bisa ditemukan di dalam Al-Quran? Haruskah orang Muslim, dengan demikian, secara penuh menolak iman penebusan melalui kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib?

JAWABAN: Secara sepintas memang nampak demikian, karena Al-Quran (Surat an-Nisa’ 4:157) mengatakan bahwa Kristus tidaklah dibunuh ataupun disalibkan, karena Ia sama sekali tidak mati. Justru, Allah dikatakan sudah menyelamatkan Dia dari musuh-musuhnya, yang berniat untuk membunuh-Nya. Bukannya mati dan bangkit dari kematian, Ia dikatakan diangkat langsung ke surga (Surat an-Nisa’ 4:158), dimana Ia, menurut tradisi Islam (Hadits), hidup saat ini sampai hari kedatangan-Nya yang kedua kali. Lebih lagi, menurut Al-Quran, bahkan kalaupun Kristus mati, kematian-Nya tidak bisa menjadi pengganti menanggung hukuman yang seharusnya dipikul manusia, karena, secara jelas Al-Quran mengajarkan, tidak ada manusia yang dibebani oleh dosa yang bisa memikul beban dosa orang lain ( Surat al-An’am 6:164, al-Isra’ 17:15; Fatir 35:18; al-Zumar 39:7 and an-Najm 53:38).

Namun, kalau diselidiki secara lebih mendalam, ada kekecualian yang bisa ditemukan. Salah satu bagian yang paling penting di dalam Al-Quran, yang berbicara mengenai penebusan dari pihak ketiga, bisa ditemykan dalam konteks kisah mengenai anak Abraham yang dikorbankan sebagai korban sembelihan.

Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111: “99 Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.’ 101 Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ 103 Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.’ 107 Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108 Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109 (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. 110 Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Ayat yang paling penting adalah ayat 107. Kalau diterjemahkan secara harafiah dari bahasa Arab, maka ayat itu berarti demikian “Dan sudah menebuslah kami akan dia dengan sebuah korban sembelihan yang agung (besar).” (Dalam transkripsi Arab: wa-faday-naa-hu bi-dhabhin ‘adhim) Untuk bisa menangkap keseluruhan kekuatan makna dari ayat Al-Quran ini, kita perlu merenungkan setiap unsur di dalam wahyu Allah ini. Kita akan melakukannya dengan mengajukan pertanyaan yang muncul baik dari ayatnya maupun dari konteksnya.

1. “Dan sudah menebus …” (wa-faday-): Di sini Al-Quran dengan jelas memberikan kesaksian akan adanya penebusan (fidya, fidaa’) yang sudah terjadi melalui adanya korban sembelihan. Atas dasar pengajaran yang ada di kebanyakan bagian lain di dalam Al-Quran, seorang Muslim akan bertanya kepada dirinya sendiri : Mengapa Allah harus melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu kepada anaknya? Mengapakah tebusan itu diperlukan?

2. “… kami …” (-naa-): Al-Quran tidak hanya mengatakan tentang telah terjadinya penebusan, tetapi bahwa Allah sendirilah sang Penebus itu. Keagungan dari kata jamak “kami” di sini bukan menunjuk kepada malaikat atau manusia, tetapi kepada Allah sendiri. Di sini orang Muslim tidak bisa tidak mengajukan pertanyaan: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa harus Allah yang melakukannya? Dan karena korban sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari surga. Di sini muncul pertanyaan selanjutnya bagi orang Muslim: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga, bukan dari dunia ini?

3. “… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah, sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena Allah dengan jelas yang memerintahkan dia mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi tidak membebaskan saya dari dosa yang saya lakukan.

4. “… dengan sebuah kurban sembelihan, …” (bi-dhabhin): Al-Quran memberikan kesaksian bahwa sebuah korban penebusan dibunuh, karena ia menjadi korban sembelihan, yang mati ketika disembelih. Di sini seorang Muslim akan bertanya: Mengapa perlu menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk bisa menebus anak itu?

5. “… yang agung (besar).” (’adhim): Ini adalah kata yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih adalah agung (besar)? Apakah korban itu agung (besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung (besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99 nama Allah adalah al-’adhim (kebesaran yang agung), apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama ilahi? Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan anda juga!

KABAR BURUK: Al-Quran memang menuliskan, bertolak belakang dengan pandangan Muslim secara umum, jejak tentang adanya kematian pengganti yang menebuskan dari pihak lain – yaitu, dalam kisah tentang bagaimana anak Abraham ditebuskan.

KABAR BAIK: Untuk alasan ini seorang Mislim bisa, bahkan sesuai dengan perkataan Al-Quran sendiri, menangkap iman yang besar kepada kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib. Umat Allah, dan dengan itu ia akan bisa memahami bagian di dalam Al-Quran, yang tidak akan bisa dimengerti tanpa keyakinan itu.

KESAKSIAN: Nama saya Barakatullah dan saya berasal dari Mesir. Saya dahulu seorang perwira tentara dan seorang pemimpin agama Islam. Suatu hari saya melihat secarik kertas yang menarik perhatian saya. Tertulis di dalam kertas itu “Tetapi Aku berkata kepadamu!” Saya lalu mengambilnya dan membaca kelanjutannya. Kristus berbicara disana dan Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ayat dari Injil ini (Matius 5:43-44) sangat mengejutkan saya. Sebagai seorang Muslim saya tahu tentang Kristus. Apakah Ia memiliki hak untuk mengubah perintah dari Allah? Apakah Ia punya otoritas untuk melakukannya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, saya mengikuti kursus sore hari yang diadakan oleh Universitas al-Azhar di Kairo.

Selama empat tahun saya belajar ilmu perbandingan agama dari sudut pandang Islam, dan bisa mendapatkan gelar akademis. Saya harus mempelajari agama Hindu, Budha, Konghucu, Yudaisme, dan Kristen, termasuk Kitab Suci mereka. Dengan tekun saya mempelajari Al-Quran, dan membandingkannya dengan kitab-kitab itu. Melalui penyelidikan itu saya menjadi Kristen. Saya menemukan bahwa Kristus memiliki hak untuk mengubah Hukum Allah, karena Dia, seperti Allah, memiliki hak untuk memerintah manusia agar taat kepada-Nya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al-Quran (Surat Al ‘Imran 3:50 dan as-Zukhruf 43:63) Hari ini saya menceritakan kepada orang-orang Muslim apa yang saya pelajari pada waktu itu. Penyelidikan mengenai bagaimana anak Abraham ditebus, seperti yang anda baca dalam artikel ini, adalah penemuan yang saya dapatkan pada waktu itu. Penemuan itu menolong saya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang disalibkan. Saya dan keluarga saya mengalami banyak penganiayaan sejak saat itu. Tetapi sampai hari ini, saya tetap setia kepada Kristus.

DOA: Saya bersyukur dari lubuk hati saya, ya Allah yang penuh rahmat, bahwa Engkau sudah menebus anak Abraham. Engkau benar kalau membuang saya ke neraka karena dosa saya. Tetapi Engkau menetapkan jalan yang baru, tentang cara saya bisa diselamatkan. Saya percaya kepada penebusan yang Engkau berikan, agar saya tidak harus masuk neraka.

PERTANYAAN: Menurut Al-Quran, siapakah yang menebus anak Abraham? Mengapa ia perlu ditebus? Siapa yang menebus anda dari hukuman neraka?

UNTUK DIHAFALKAN: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:16 – Perkataan Kristus di dalam Injil)

  • Share/Bookmark
Tagged as: , ,
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silahkan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

12 Comments

  1. Tiga agama besar, Yahudi, Kristen, Islam telah menyatakan suatu cerita yg sama walaupun dalam versi berlainan. Gambaran ketika Abraham rela mengorbankan anak tunggalnya, Ishak, diwujudkan kerelaan Allah sendiri tatkala mengorbankan Putra tunggalNya, Yesus. Allah tidak mungkin hanya memberikan kisah kurban tanpa makna dikaitkan dengan apa yg akan dilakukanNya di masa mendatang. Pengorbanan
    Ishak sebagai simbolis, sedangkan Pengorbanan Yesus sebagai wujud nyatanya.
    Seperti itulah contoh penggenapan nubuat hukum Taurat oleh Yesus. Jika ada kitab lain menyatakan menggenapi Injil, kita patut bertanya apanya lagi yang perlu digenapi?

  2. @@@ penulis

    Namun, kalau diselidiki secara lebih mendalam, ada kekecualian yang bisa ditemukan. Salah satu bagian yang paling penting di dalam Al-Quran, yang berbicara mengenai penebusan dari pihak ketiga, bisa ditemykan dalam konteks kisah mengenai anak Abraham yang dikorbankan sebagai korban sembelihan.

    Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111: “99 Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.’ 101 Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ 103 Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.’ 107 Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108 Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109 (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. 110 Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

    Ayat yang paling penting adalah ayat 107. Kalau diterjemahkan secara harafiah dari bahasa Arab, maka ayat itu berarti demikian “Dan sudah menebuslah kami akan dia dengan sebuah korban sembelihan yang agung (besar).” (Dalam transkripsi Arab: wa-faday-naa-hu bi-dhabhin ‘adhim) Untuk bisa menangkap keseluruhan kekuatan makna dari ayat Al-Quran ini, kita perlu merenungkan setiap unsur di dalam wahyu Allah ini. Kita akan melakukannya dengan mengajukan pertanyaan yang muncul baik dari ayatnya maupun dari konteksnya.

    1. “Dan sudah menebus …” (wa-faday-): Di sini Al-Quran dengan jelas memberikan kesaksian akan adanya penebusan (fidya, fidaa’) yang sudah terjadi melalui adanya korban sembelihan. Atas dasar pengajaran yang ada di kebanyakan bagian lain di dalam Al-Quran, seorang Muslim akan bertanya kepada dirinya sendiri : Mengapa Allah harus melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu kepada anaknya? Mengapakah tebusan itu diperlukan?

    2. “… kami …” (-naa-): Al-Quran tidak hanya mengatakan tentang telah terjadinya penebusan, tetapi bahwa Allah sendirilah sang Penebus itu. Keagungan dari kata jamak “kami” di sini bukan menunjuk kepada malaikat atau manusia, tetapi kepada Allah sendiri. Di sini orang Muslim tidak bisa tidak mengajukan pertanyaan: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa harus Allah yang melakukannya? Dan karena korban sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari surga. Di sini muncul pertanyaan selanjutnya bagi orang Muslim: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga, bukan dari dunia ini?

    3. “… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah, sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena Allah dengan jelas yang memerintahkan dia mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi tidak membebaskan saya dari dosa yang saya lakukan.

    4. “… dengan sebuah kurban sembelihan, …” (bi-dhabhin): Al-Quran memberikan kesaksian bahwa sebuah korban penebusan dibunuh, karena ia menjadi korban sembelihan, yang mati ketika disembelih. Di sini seorang Muslim akan bertanya: Mengapa perlu menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk bisa menebus anak itu?

    5. “… yang agung (besar).” (’adhim): Ini adalah kata yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih adalah agung (besar)? Apakah korban itu agung (besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung (besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99 nama Allah adalah al-’adhim (kebesaran yang agung), apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama ilahi? Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan anda juga!

    KABAR BURUK: Al-Quran memang menuliskan, bertolak belakang dengan pandangan Muslim secara umum, jejak tentang adanya kematian pengganti yang menebuskan dari pihak lain – yaitu, dalam kisah tentang bagaimana anak Abraham ditebuskan.

    KABAR BAIK: Untuk alasan ini seorang Mislim bisa, bahkan sesuai dengan perkataan Al-Quran sendiri, menangkap iman yang besar kepada kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib. Umat Allah, dan dengan itu ia akan bisa memahami bagian di dalam Al-Quran, yang tidak akan bisa dimengerti tanpa keyakinan itu.

    KESAKSIAN: Nama saya Barakatullah dan saya berasal dari Mesir. Saya dahulu seorang perwira tentara dan seorang pemimpin agama Islam. Suatu hari saya melihat secarik kertas yang menarik perhatian saya. Tertulis di dalam kertas itu “Tetapi Aku berkata kepadamu!” Saya lalu mengambilnya dan membaca kelanjutannya. Kristus berbicara disana dan Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ayat dari Injil ini (Matius 5:43-44) sangat mengejutkan saya. Sebagai seorang Muslim saya tahu tentang Kristus. Apakah Ia memiliki hak untuk mengubah perintah dari Allah? Apakah Ia punya otoritas untuk melakukannya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, saya mengikuti kursus sore hari yang diadakan oleh Universitas al-Azhar di Kairo.

    Selama empat tahun saya belajar ilmu perbandingan agama dari sudut pandang Islam, dan bisa mendapatkan gelar akademis. Saya harus mempelajari agama Hindu, Budha, Konghucu, Yudaisme, dan Kristen, termasuk Kitab Suci mereka. Dengan tekun saya mempelajari Al-Quran, dan membandingkannya dengan kitab-kitab itu. Melalui penyelidikan itu saya menjadi Kristen. Saya menemukan bahwa Kristus memiliki hak untuk mengubah Hukum Allah, karena Dia, seperti Allah, memiliki hak untuk memerintah manusia agar taat kepada-Nya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al-Quran (Surat Al ‘Imran 3:50 dan as-Zukhruf 43:63) Hari ini saya menceritakan kepada orang-orang Muslim apa yang saya pelajari pada waktu itu. Penyelidikan mengenai bagaimana anak Abraham ditebus, seperti yang anda baca dalam artikel ini, adalah penemuan yang saya dapatkan pada waktu itu. Penemuan itu menolong saya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang disalibkan. Saya dan keluarga saya mengalami banyak penganiayaan sejak saat itu. Tetapi sampai hari ini, saya tetap setia kepada Kristus.

    DOA: Saya bersyukur dari lubuk hati saya, ya Allah yang penuh rahmat, bahwa Engkau sudah menebus anak Abraham. Engkau benar kalau membuang saya ke neraka karena dosa saya. Tetapi Engkau menetapkan jalan yang baru, tentang cara saya bisa diselamatkan. Saya percaya kepada penebusan yang Engkau berikan, agar saya tidak harus masuk neraka.

    PERTANYAAN: Menurut Al-Quran, siapakah yang menebus anak Abraham? Mengapa ia perlu ditebus? Siapa yang menebus anda dari hukuman neraka?

    KOMEN :) :

    1. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
    QS. as-Shaffat (37) : 107

    @@PERTANYAAN PENULIS:
    Mengapa Allah harus melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu kepada anaknya?Mengapakah tebusan itu diperlukan?

    JAWABAN :) :

    Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
    QS. as-Shaffat (37) : 103

    Dan Kami panggillah dia: “Wahai Ibrahim,
    QS. as-Shaffat (37) : 104

    sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu “, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
    QS. as-Shaffat (37) : 105

    Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
    QS. as-Shaffat (37) : 106

    - KECINTAAN NABI IBRAHIM AS KEPADA ALLAH SWT MELEBIHI KECINTAANNYA PADA DUNIA,KESABARAN NABI ISMAIL AS ATAS UJIAN DARI ALLAH SWT MENGALAHKAN KERAGU-RAGUAN YANG SEMPAT MUNCUL DI HATI NABI IBRAHIM AS.DAN UJIAN ITU BERHASIL MEREKA LEWATI.KARENA MEREKA BERHASIL MELEWATI UJIAN MAKA ALLAH SWT MENGGANTI YANG AKAN DISEMBELIH DENGAN SEEKOR SEMBELIHAN YANG BESAR.DAN DIKISAH INI MENGGAMBARKAN KECINTAAN ALLAH SWT KEPADA ORANG-ORANG YANG SABAR DAN IKHLAS MENERIMA UJIAN (COBAAN)DARI-NYA

    2.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
    QS. as-Shaffat (37) : 107

    @@@PERTANYAAN PENULIS
    Mengapa bukan Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa harus Allah yang melakukannya?

    JAWABAN:) KARENA NABI IBRAHIM AS YANG DI UJI DAN ALLAH SWT YANG MEMBERIKAN UJIAN (COBAAN):)

    @@@PERTANYAAN PENULIS
    Dan karena korban sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini

    JAWABAN :) INTINYA ADALAH SEEKOR SEMBELIHAN YANG BESAR (SEHAT) DAN LAYAK UNTUK DISEMBELIH.SOAL ASAL DARI HEWAN ITU DARI DUNIA ATAU SURGA HANYA ALLAH SWT YANG TAHU.BUKANKAN JIKA ALLAH SWT MENGHENDAKI SESUATU CUKUP IA BERKATA “JADILAH” MAKA ITU AKAN TERJADI :)

    @@@PERTANYAAN PENULIS
    Mengapa bukan Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga, bukan dari dunia ini?

    JAWABAN :)
    - KARENA NABI IBRAHIM AS YANG DI UJI DAN ALLAH SWT YANG MEMBERIKAN UJIAN (COBAAN):),KECINTAAN,IKHLAS,PATUH DAN TUNDUK SERTA KESABARAN AKAN PERINTAH ALLAH SWT YANG MEMBUAT TAWAR MENAWAR YANG PENULIS INGINKAN TIDAK TERJADI :) (PENULIS PUN KECEWA :) )

    - PENULIS HARUS TANYAKAN LANGSUNG KEPADA ALLAH SWT DAHULU APAKAH BENAR HEWAN ITU BERASAL DARI SURGA ATAU BUKAN, BARU PENULIS BERSTATEMEN ASAL DARI HEWAN ITU. KARENA INTI DARI KISAH NABI IBRAHIM AS BUKAN PADA ASAL HEWANNYA :) DAN KAMI (UMAT ISLAM) TIDAK PERLU REPOT UNTUK MENANYAKAN HAL TERSEBUT :) (UNTUK PENULIS, SELAMAT BERTANYA KEPADA ALLAH SWT)

    @@@STATEMEN PENULIS

    3.“… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah, sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena Allah dengan jelas yang memerintahkan dia mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi tidak membebaskan saya dari dosa yang saya lakukan.

    KOMEN:)
    PENULIS BERTANYA PENULIS YANG MENJAWAB DAN MENYIMPULKAN :) SUNGGUH LUCU SI PENULIS.
    INTI DARI KISAH DIATAS ADALAH “TENTANG UJIAN DARI ALLAH SWT,KEIKHLASAN YANG DI UJI DALAM MENERIMA UJIAN,TUNDUK DAN PATUH ATAS PERINTAH ALLAH SWT,DAN SATU TELADAN YANG BAIK DARI NABI IBRAHIM AS DAN NABI ISMAIL AS BAHWA KECINTAAN PADA ALLAH SWT HARUSLAH MENGALAHKAN KECINTAAN PADA DUNIA”

    4.@@@PERTANYAAN PENULIS
    Mengapa perlu menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk bisa menebus anak itu?

    KOMEN:)PERINTAH ALLAH SWT KEPADA NABI IBRAHIM AS ADALAH MENGORBANKAN NABI ISMAIL AS (MENYEMBELIHNYA)DAN KETIKA AKAN TERJADI,DIGANTI MENJADI SEEKOR HEWAN YANG DISEMBELIH JUGA (DIKORBANKAN),ARTINYA PERINTAH ALLAH SWT TIDAK DILANGGAR DAN ALLAH SWT KONSISTEN TERHADAP APA YANG DIPERINTAHKAN-NYA(TIDAK BERUBAH).JIKA PENULIS MASIH BINGUNG TANYAKANLAH LANGSUNG PADA ALLAH SWT :)

    @@@STATEMEN DAN PERTANYAAN PENULIS

    5.“… yang agung (besar).” (’adhim): Ini adalah kata yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih adalah agung (besar)?

    KOMEN :) SYARAT HEWAN YG BISA DIKORBANKAN ADALAH SEHAT,TIDAK KURUS,DAN UMURNYA CUKUP

    Apakah korban itu agung (besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung (besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99 nama Allah adalah al-’adhim (kebesaran yang agung), apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama ilahi?

    KOMEN :) HEWAN KORBAN ITU JELAS BERASAL DARI CIPTAAN ALLAH SWT.SEKIRANYA PENULIS BINGUNG,SILAHKAN PENULIS BERTANYA LANGSUNG KEPADA ALLAH SWT :)

    Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan anda juga!

    KOMEN:)

    (JUJUR SAJA SAYA MENULIS INI SAMBIL TERSENYUM SIMPUL:) )

    KENAPA SAYA TERSENYUM :) GINILAH KIRA-KIRA KLO DIKIASKAN APA YANG DITULIS OLEH PENULIS:

    PENULIS SAID : HEI BUDI,COBA KAMU BERTANYA SEPERTI INI TENTANG INI(LALU PENULIS MENJABARKAN APA YANG HARUS DITANYAKAN)

    LALU PENULIS SAID AGAIN: KLO KAMU BINGUNG CARI JAWABANNYA KAMU MASUK AGAMAKU AJA DAN KAMU PASTI TIDAK BINGUNG

    :) SUNGGUNG LUCU TINGKAH POLAH KALIAN DALAM MENYEBARKAN AGAMA :)

    KESIMPULAN :P ENULIS TIDAK MENGAMBIL PELAJARAN DARI KISAH NABI IBRAHIM AS INI, BELIAU CUMA BERKUTAT PADA SEPUTARAN ASAL-USUL HEWAN KORBANNYA UNTUK DISAMAKAN DENGAN KISAH YESUS (TUHAN YANG MEREKA IMANI)

    BUAT PENULIS: KLO ANDA MASIH BINGUNG ADA, 2 JALAN YANG BISA SAYA REFERENSIKAN 1.BERTANYA LANGSUNG KEPADA ALLAH SWT (BUKAN YESUS) DAN 2.UCAPKAN 2 KALIMAT SYAHADAT (MASUK ISLAM)

  3. @ CHANDRA

    PENJELASAN CUKUP BAIK, PANJANG DAN BERTELE-TELE.

    SAYA LANGSUNG TANYA LANGSUNG KE INTINYA YA HEHEHE…

    KENAPA DALAM PERISTIWA PENYEMBELISAN ITU TIDAK ADA SATU PUN KATA YANG MENYEBUT NAMA ISMAIL YA???
    ALLAH SWT YANG LUPA? JIBRIL YANG LUPA? ATAU MUHAMMAD YG LUPA? APA EDITORNYA YG LUPA?

    Ergun Mehmet Caner, yang dibesarkan sebagai Muslim tetapi kemudian menjadi seorang Kristen, mengatakan bahwa konsep pencurahan darah untuk penebusan bukanlah sebuah ide yang baru bagi orang-orang Muslim. Dia menuliskan bahwa ketika kita menjelaskan tentang Yesus yang mencurahkan darah, seorang Muslim berkata, “Kami percaya dengan penebusan. Kami percaya dengan darah! Perbedaannya adalah bahwa kami mempercayainya oleh karena pencurahan darah kamilah kami membeli pengampunan kami. Kami percaya darah kami membeli jaminan kekal kami. Inilah konsep jihad yaitu mati sebagai martir di dalam sebuah fatwa yang dinyatakan.” Apa yang tidak dipahami oleh orang-orang Muslim, ujar Caner, adalah bahwa Yesus Kristus telah mati mencurahkan darah-Nya menggantikan kita. Jadi, Islam adalah sebuah agama di mana Allah membutuhkan anda untuk mengirimkan anak anda untuk mati bagi-Nya. Kekeristenan adalah sebuah iman di mana Allah mengirimkan Anak-Nya untuk mati bagi anda. Bukankah Abraham tidak diperbolehkan Allah untuk mengorbankan darah seorang manusia yang adalah anak kesayangannya sendiri, melainkan Allah menyediakan korban pengganti berupa seekor anak domba? Demikian jugalah Allah menyediakan Yesus Kristus yang disebut Anak Domba Allah untuk mengganti tempat umat manusia yang berdosa dengan menaggung hukuman mereka di kayu salib.

    ALKITAB DENGAN TEGAS MENYATAKAN BAHWA ABRAHAM INGIN MENYEMBELIH ISHAK DI TEMPAT YG BERNAMA “GUNUNG MORIA”
    TETAPI KEMUDIAN ALLAH MENCEGAHNYA DENGAN MENYEDIKAN SEEKOR ANAK DOMBA JANTAN SEBAGAI PENGANTI. DAN OLEH KARENA ITU TEMPAT ITU DINAMAKAN OLEH ABRAHAM SEBAGAI “TUHAN MENYEDIAKAN” (KEJ. 22:14)

    2000 TAHUN SETELAH PERISTIWA ITU, MASIH DI TEMPAT YANG SAMA, ALLAH MENYEDIAKAN ANAK DOMBA SEBAGAI KORBAN TEBUSAN BAGI SELURUH DOSA-DOSA MANUSIA DI ATAS BUKIT GOLGOTA.

    ANAK DOMBA YG DIMAKSUD ITU ADALAH YESUS KRISTUS (ISA).

    JADI, PERISTIWA MENGENAI NIAT PENYEMBELIHAN ISHAK OLEH ABRAHAM YG AKHIRNYA DIGANTIKAN OLEH SEEKOR ANAK DOMBA JANTAN ADALAH GAMBARAN YG DIBERIKAN ALLAH UNTUK KARYA PENEBUSAN DOSA YANG DILAKUKAN OLEH YESUS KRISTUS DI ATAS KAYU SALIB.

  4. @ SI CHANDRA TERNYATA LUCU DAN IMUT-IMUT
    HEHEHEHEHE……

    ALQURAN AJA TIDAK MEYEBUTKAN NAMA “ISMAIL” LOH KOK ANDA MENYATAKAN BAHWA “ISMAIL” YG AKAN DISEMBELIH ABRAHAM.
    APA INI YG DISEBUT OLEH PARA ULAMA MUSLIM SEBAGAI KEBOHONGAN KECIL UNTUK “KEBENARAN” YA????

    COBA PERIKSA LAGI DEH AYAT ALQURAN INI:

    Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111: “99 Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.’ 101 Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ 103 Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.’ 107 Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108 Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109 (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. 110 Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

    TUH KAN GAK ADA NAMA “ISMAIL”…HEHEHEHE

    BEGINILAH KUALITAS KITAB HASIL “COPY-PASTE-EDIT”

  5. :) buat FAJAR SI PENDUSTA :)

    KLO YANG ANDA BACA DIAYAT YANG ANDA POSTING JELAS TIDAK DISEBUTKAN :) ANAK KECIL PUN TAU :)

    COBA BACA INI FAJAR SI PENDUSTA :)

    Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
    QS. as-Shaffat (37) : 100

    Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
    QS. as-Shaffat (37) : 101

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:” Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! “Ia menjawab:” Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “.
    QS. as-Shaffat (37) : 102

    Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
    QS. as-Shaffat (37) : 103

    Dan Kami panggillah dia: “Wahai Ibrahim,
    QS. as-Shaffat (37) : 104

    sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu “, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
    QS. as-Shaffat (37) : 105

    Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
    QS. as-Shaffat (37) : 106

    Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
    QS. as-Shaffat (37) : 107

    Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
    QS. as-Shaffat (37) : 108

    (yaitu:)” Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim “.
    QS. as-Shaffat (37) : 109

    Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
    QS. as-Shaffat (37) : 110

    Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
    QS. as-Shaffat (37) : 111

    Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
    QS. as-Shaffat (37) : 112

    Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.
    QS. as-Shaffat (37) : 113

    NABI IBRAHIM AS BERDOA PADA ALLAH SWT UNTUK DIKARUNIA SEORANG ANAK DAN ALLAH SWT MENGABULKANNYA. KEMUDIAN SETELAH ANAK ITU BESAR LALU NABI IBRAHIM AS DIBERI COBAAN UNTUK MENGORBANKAN ANAKNYA.NABI IBRAHIM AS DAN ANAK ITU BERHASIL MELEWATI COBAAN ALLAH SWT.KEMUDIAN ALLAH SWT MEMBERIKAN LAGI KABAR GEMBIRA KEPADA NABI IBRAHIM AS. TENTANG APA? TERNYATA TENTANG KELAHIRAN KEMBALI SEORANG ANAK BAGI NABI IBRAHIM AS YANG BERNAMA ISHAQ DAN ANAK YANG BARU LAHIR INI JUGA MENJADI NABI YAITU NABI ISHAQ AS :)

    LALU SIAPA ANAK YANG PERTAMA LAHIR TADI SEBELUM KELAHIRAN ISHAQ…OOOO TERNYATA NABI ISMAIL AS :)

    ANDA TIDAK PERLU MEMPERCAYAI INI FAJAR SI PENDUSTA :) KARENA SAYA TAHU DAN YAKIN ANDA TIDAK MENGIMANI AL-QURAN SEBAGAI KITAB SUCI…PENJELASAN INI CUMA PELURUSAN SAJA BUAT FAJAR SI PENDUSTA :)

  6. MAAF SAYA SALAH,TERNYATA AYAT YANG ANDA POSTING MENDUPLIKAT AYAT YANG SAYA POSTING….JADI DIBACA,DIPAHAMI DENGAN TENANG AJA YA JANGAN PAKE KEBENCIAN :)

  7. @ CHANDRA

    dalam Surat as-Saffat 37:99-111.
    Letak Kata “ISMAIL” nya di ayat berapa ya pak????????????
    saya bingung nih, apa saya buta huruf ya???

    pak chandra yang jenius dan cerdas tolong bantu saya untuk menjawab ketidaktahuan saya ini,
    cuma satu pertanyaan loh…..

  8. Keanehan dari ayat2 di atas:
    1. Abraham meminta anak yg saleh, kok Allah salah dengar, berikan anak yg sabar.
    2. Abraham cuma bermimpi, kok jadi serius diaplikasikan menyembelih anaknya?
    3. Untuk menguji kesabaran sajakah Allah menyuruh Abraham membunuh anaknya? Perbuatan baik manakah yg dipuji Allah dari Abraham? Membunuh?
    4. Kok nama Ishak yg di luar topik kejadian utama jelas2 disebut, sedangkan Ismail sebagai pemeran utama, malu untuk Allah sebutkan namanya? Tidak logis.

  9. @ BABY_BLUE
    Maklum aja pak… namanya juga kitab COPY-PASTE-EDIT
    menurut saya itu hanyalah suatu kewajaran, namun yg saya tanyakan adalah kepada banyak pemuka umat Islam yg susah untuk mengakuinya ya???
    mmmm…..mungkin GENGSI.

  10. :) Fajar sipendusta :) kan sudah dijelaskan,ada 2 kelahiran yang diceritakan pada ayat tersebut,kelahiran yang kedua kan Nabi Ishaq AS,jadi tidak perlu dicantumkan pun anda pasti tau siapa yang lahir pertama :) Gak percaya?Gak apa-apa,tulisan ini bukan untuk membuat anda percaya cuma untuk meluruskan :)

    :) buat baby :) Allah SWT jelas lebih tahu apa yang terbaik buat orang dicintainya:)dan dalam kasus Ibrahim AS bukankah tidak terjadi pembunuhan pada manusia,jadi janganlah itu dipertanyakan :) Kisah Nabi Ibrahim AS ini bukan hanya sekedar tentang Kesabaran namun juga tentang Kecintaan kita kepada Allah SWT lebih besar dari Kecintaan kita pada dunia :) Anak,harta,jabatan adalah cerita dunia,akankah anda bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut :) Jika Allah SWT salah mendengar jelas tidak akan terlahir seorang anak yang saleh (Nabi Ishaq AS)Jika anda surat diatas tidak logis menurut anda,ya gak apa-apa…Bukankah anda sudah terbiasa belajar dari terjemahan kitab suci yang malahan sangat tidak logis?:)dan terbukti ketidaklogisannya :)

    so..Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku :)

  11. @ CHANDRA

    HAHAHAHAHAHA……. :) MAJU TERUS PAK.

    TAPI YANG JELAS MASIH BANYAK ORANG-ORANG ISLAM YANG PUNYA KERENDAHAN HATI UNTUK MENGAKUI HAL INI.

    ANDA NGGAK AKAN PERNAH BISA MENJELASKAN PERTANYAAN SAYA YA????
    OKE DEH GAK APA-APA… SAYA DAPAT MEMAKLUMINYA KOK.
    GENGSI YA???
    HAHAHAHA… I LOVE U FULL PAK CHANDRA
    TERUSLAH ANDA TERSENYUM KARENA SAYA DAPAT MELIHAT SUATU KEMUNAFIKAN. HAHAHAHA…

    EMPAT KATA BUAT ANDA PAK :

    “I LOVE U FULL” AAAAAAAAAA……

    Tolong saya orang kafir ini pak Chandra… tolong saya….
    Hahahahahaha :)

  12. @ chandra
    Trm ksh atas penjelasannya. Masih mau tanya:
    1. Sy tdk tahu apa ada di ayat2 sebelumnya. Ibrahim bermimpi lalu mencoba mewujudkan mimpinya itu. Apakah dlm mimpinya Allah memerintahkan secara lisan kata per kata (krn di ayat2 di atas tdk ada sama sekali perintah Allah mengenai penyembelihan anaknya). Karena anda mengatakan ini dilakukannya berdasarkan cinta kpd Allah yaitu dgn jalan menuruti perintahNya, bukan. Nah, inilah missing linknya yg perlu anda jelaskan, di manakah pada ayat2 di atas ada perintah(cobaan) dari mulut Allah utk menyembelih anaknya? Mimpi banyak kita alami, tetapi kalau mimpi itu utk membunuh anak sendiri tanpa perintah absolut dari Allah, apa mimpi tsb mentah2 kita katakan suatu kebenaran yg harus dipatuhi?
    2. Seandainya anda bersikeras ada perintah lisan dari Allah, maka muncul pertanyaan lagi: Untuk apakah Ibrahim menanyakan pendapat anaknya ttg mimpi penyembelihan itu? Jika memang perintah Allah jelas, tampaknya gelar Bapak Orang Beriman tidk layak disandang Nabi kelas wahid seperti Ibrahim. Mengapa? KARENA IA MEMPERTANYAKAN FIRMAN TUHAN YG SUDAH JELAS/TERANG KEPADA SEORANG ANAK KECIL utk diminta pertimbangan.
    3. Setelah kisah di atas, saya menanti2kan upah apa yg diberikan kpd anaknya, ‘Ismail’. Menurut saya, sepantasnya bila ‘Ismail’ yg diberikan upah/berkat krn imannya yg bermutu tinggi dibanding Ibrahim yg keimanannya sungguh dipertanyakan. Bayangkan, Ismail hanya mendengar mimpi ‘perintah’ penyembelihan dirinya, langsung mengiyakan, betapa hebatnya. NAMUN SEKALI LAGI SAYA KECEWA, KARENA YG DIBERI UPAH/BERKAT ADALAH IBRAHIM SI PERAGU NAN BIMBANG & ISHAQ yg notabene lahir stlh kisah penyembelihan. APAKAH ANDA TDK PERNAH BERTANYA KENAPA ALLAH BETUL2 MELUPAKAN ISMAIL & IMANNYA YG BESAR tanpa memberikan sesuatu apapun, selain kata2: sabar, ya nak. Apakah ada ayat kelanjutannya, saya tdk tahu.
    4. Di dalam Alkitab, kisah serupa di atas adlh jelas/tdk kabur.
    Kejadian 22:1-19 (silakan buka Alkitab), poin2 yg saya cermati:
    a. JELAS PERINTAHNYA & PEMBERI PERINTAH. Allah memberikan perintah langsung, bkn mimpi semata atau perintah dlm mimpi.
    ―Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” FirmanNya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan kukatakan kepadamu.” ―
    b. JELAS SIAPA YG DIKORBANKAN yaitu ISHAK.
    c. JELAS TEMPATNYA yaitu salah satu gunung di tanah MORIA.
    d. Anak Abraham sama sekali TIDAK TAHU apa yg akan terjadi. Bayangkan jika seorang anak diberitahu (bahkan dimintai pendapat) dia akan dibunuh?
    ―Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba utk korban bakaran bagiNya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
    e. Kejanggalan lain dari Alquran adalah : apakah sang ibu plus hamba2 Ibrahim tdk histeris melihat Ibrahim menyembelih anaknya di kawasan kemahnya (asumsi sy tdk ada perintah ke gunung/tempat sepi). Trus darah & mayatnya mau dikemanakan?
    f. PENYEMBELIHAN ISHAK ADALAH SEBAGAI KORBAN BAKARAN/PERSEMBAHAN, YG SEHARUSNYA SEEKOR DOMBA . Makanya ada dibawa pisau, kayu bakar dan korek api, tapi tdk ada domba. Kalau di alquran, tdk jelas utk apa karena semua perlengkapan & hewan kurbannya tdk siap, mungkin itu sebabnya Ibrahim terlihat bingung & ragu2 alias tdk lagi beriman thdp ‘perintah Allah’, lha wong pisau saja dia tidak bawa, cuma membaringkan anaknya pada pelipis.
    g. ALLAH MELARANG ABRAHAM UTK TDK MEMBUNUH ANAKNYA.
    ―Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu.” ―
    Di alquran, Allah tdk pernah memerintahkan berhenti, jangan2 leher ‘Ismail’ kelewat digorok, sbb Allah memuji Ibrahim yg membenarkan mimpinya=berarti anaknya benar2 disembelih sesuai isi mimpi. Coba kita perhatikan bahwa Ismail tdk muncul/disebut lagi sampai akhir kisah tadi. Kalaupun Ismail masih muncul di ayat2 lainnya, sy cuma heran saja, keberadaan Ismail yg muncul sebentar & lenyap tanpa bekas.
    h. Perintah Allah kepada Abraham jelas yaitu mempersembahkan korban bakaran. UNTUK ITULAH ALLAH MENYEDIAKAN DOMBA JANTAN PENGGANTI ANAKNYA.
    ― Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: TUHAN MENYEDIAKAN; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”
    Sekarang mari tanyakan kpd alquran, utk apakah ’sembelihan besar’ itu. Utk korban bakaran? Bukan, krn tdk ada perintah seperti itu, lagipula tdk ada perlengkapan & tatacara mendirikan mezbah, menyusun kayu api, mengikat Ishak & mengambil pisau seperti dilakukan Abraham (ay.9-10). Lalu sekali lagi, apakah gunanya sembelihan besar yg sia2 tsb, tdk cukupkah Allah menghentikan saja upaya Ibrahim, krn telah lulus cobaan? Satu lagi mata rantai yg hilang dari alquran
    Benar salahnya, silahkan sdr. Chandra dan sdr2 muslim, serta bro kristen memberi masukan. GodBlessUs.

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.