<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Siaran Al Hayat</title>
	<atom:link href="http://www.siaranalhayat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.siaranalhayat.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Jun 2011 03:53:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Politikus Kuwait: Cegah Zina, Peliharalah Budak Seks</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2011/06/09/politikus-kuwait-cegah-zina-peliharalah-budak-seks/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2011/06/09/politikus-kuwait-cegah-zina-peliharalah-budak-seks/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 03:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warnasari]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=2031</guid>
		<description><![CDATA[Boleh jadi politikus perempuan dari Kuwait, Salwa al-Mutairi, paham betul betapa laki-laki kebanyakan memiliki syahwat seksual yang kerap kali tak terbendung. Oleh sebab itu, ia mengusulkan satu resep jitu agar para lelaki di negaranya tidak terjerumus godaan sehingga berzinah dengan pembantu, gadis, atau istri orang. Ia mengatakan para lelaki yang telah menikah harus memelihara budak seks [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2032" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2032" title="Politikus Kuwait" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2011/06/Politikus-Kuwait-300x171.jpg" alt="Salwa al-Mutairi. (dailymail)" width="300" height="171" /><p class="wp-caption-text">Salwa al-Mutairi. (dailymail)</p></div>
<p>Boleh jadi politikus perempuan dari Kuwait, Salwa al-Mutairi, paham betul betapa laki-laki kebanyakan memiliki syahwat seksual yang kerap kali tak terbendung. Oleh sebab itu, ia mengusulkan satu resep jitu agar para lelaki di negaranya tidak terjerumus godaan sehingga berzinah dengan pembantu, gadis, atau istri orang. <br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" /><br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" />Ia mengatakan para lelaki yang telah menikah harus memelihara budak seks sebagai antisipasi jika istri mereka berhalangan. Ia menegaskan mempunyai budaks seks sama saja dengan mempunyai istri sah. Ia bahkan menyebutkan perempuan-perempuan yang dapat diperdagangkan itu bisa diperoleh dari negara-negara yang sedang berperang, seperti Chechnya. Oleh karena itu, budak seks itu harus berstatus tawanan perang. <br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" /><br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" />Dia berdalih dulu orang-orang kaya dibolehkan mempunyai budak, termasuk perempuan yang bisa dijadikan pemuas hawa nafsu. Namun di zaman sekarang, ide itu sangat kontroversial dan dianggap melecehkan kaum hawa. <br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" /><br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" />Ia beralasan ketimbang mati sia-sia lantaran kelaparan akibat situasi perang, lebih baik menjadi budak seks dengan hidup terjamin dan aman. “Tidak ada yang memalukan dan (budak seks) ini tidak haram menurut hukum Islam,” kata Salwa beralasan. Ia pun menuduh secara sepihak bahwa para pemimpin yang hidup di abad ke-8 bahkan ada yang memelihara 2.000 budak seks. <br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" /><br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" />Meski begitu, ia mensyaratkan umur minimal perempuan yang bisa dijadikan pemuas nasfu adalah 15 tahun. Ia pun mengusulkan agar perdagangan budak seks itu dilegalkan seperti perdagangan pembantu rumah tangga. <br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" /><br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" />Salwa mengklaim idenya itu mendapat dukungan dari sejumlah mufti di Arab Saudi. “Mereka bilang (memelihara budak seks) itu benar. Itu satu-satunya solusi bagi seorang pria layak yang memiliki kekayaan, nafsu seks luar biasa, dan tidak ingin berbuat zina,” ujarnya. <br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" /><br style="display: block; margin-top: 4px; margin-right: 0px; margin-bottom: 4px; margin-left: 0px;" />Ide itu bertentangan dengan ajaran Islam. Saat Islam datang, saat itu budaya Arab memang masih diwarnai perbudakan. Untuk menghapuskan perbudakan itulah, maka dibolehkan majikan menikahi budaknya. Bila sudah dinikahi, maka status sang budak menjadi orang merdeka.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/timteng/2011/06/08/brk,20110608-339481,id.html">Tempo Interaktif</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2011%2F06%2F09%2Fpolitikus-kuwait-cegah-zina-peliharalah-budak-seks%2F&amp;linkname=Politikus%20Kuwait%3A%20Cegah%20Zina%2C%20Peliharalah%20Budak%20Seks"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2011/06/09/politikus-kuwait-cegah-zina-peliharalah-budak-seks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meskipun Pengadilan Atas Dirinya Belum Selesai &#8211; Wilders Kembali Menyerang Muhammad</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2011/06/04/meskipun-pengadilan-atas-dirinya-belum-selesai-wilders-kembali-menyerang-muhammad/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2011/06/04/meskipun-pengadilan-atas-dirinya-belum-selesai-wilders-kembali-menyerang-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 07:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[fitnah]]></category>
		<category><![CDATA[geert wilders]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=2026</guid>
		<description><![CDATA[

Pengadilan Belanda, Rabu lalu memutuskan untuk meneruskan pemeriksaan terhadap pemimpin Partai Kebebasan Belanda, Geert Wilders, atas tuduhan menebarkan kebencian dan diskriminasi terhadap orang-orang Muslim, ketika ia menyebut Al Quran mirip dengan buku Mein Kampf-nya Hitler; dan menyebut kitab suci umat Muslim itu sebagai sebuah “buku fasis”.
Wawancara saya dengan Wilders berkaitan dengan pemeriksaan yang tengah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium; text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-2027 aligncenter" style="margin-top: 4px; margin-bottom: 4px; border: 4px solid black;" title="wilders1" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2011/06/wilders1-300x200.jpg" alt="wilders1" width="240" height="160" /></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Pengadilan Belanda, Rabu lalu memutuskan untuk meneruskan pemeriksaan terhadap pemimpin Partai Kebebasan Belanda, Geert Wilders, atas tuduhan menebarkan kebencian dan diskriminasi terhadap orang-orang Muslim, ketika ia menyebut Al Quran mirip dengan buku Mein Kampf-nya Hitler; dan menyebut kitab suci umat Muslim itu sebagai sebuah “buku fasis”.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;"><a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" href="http://www.cbn.com/cbnnews/world/2010/January/Dutch-Politician-Facing-Trial-for-Hate-Speech/" target="_blank">Wawancara saya dengan Wilders berkaitan dengan pemeriksaan yang tengah ia jalani di pengadilan, ada di sini.</a></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Perlu dipahami bahwa pemeriksaan lanjutan dilakukan setelah jaksa penuntut secara esensial telah ‘melemparkan handuk’ pada Oktober tahun lalu. Radio Netherlands Internasional melaporkan:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">
<p style="text-align: justify;"><em>Pengadilan atas Geert Wilders sebenarnya sudah berakhir. Jaksa publik telah memanggil para politisi populis untuk menghentikan semua tuduhan. Pengadilan itu sendiri akan dilanjutkan, tetapi sekarang semuanya sudah menjadi sebuah anti-klimaks.</em></p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;"><em>Dalam kurun waktu dua hari argumentasi yang penuh dengan intrik, jaksa penuntut mengatakan kepada pengadilan bahwa mereka tidak menemukan satupun bukti yang menunjukkan Mr Wilders telah melanggar hukum.</em></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Sidang ditunda hingga 13 April 2011. Keputusan hakim diharapkan sudah keluar pada bulan Juni.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Sementara itu dalam sebuah perkembangan terpisah, sekurangnya terpisah dari kasus pengadilan yang saat ini ia jalani, Wilders hari ini kembali melakukan serangan terhadap Muhammad, dengan sebuah tulisan yang sangat keras, yang dipublikasikan di majalah Belanda “HP/De Tijd.”</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Tulisan itu akan membuat orang-orang Muslim di Netherland dan dunia akan menjadi sangat marah. Wilders mengutip sumber-sumber yang menyebut Muhammad sebagai seorang yang “narsis, pedofil, pembunuh massal, teroris, bejat, penuh nafsu birahi, seorang pemimpin bidat, gila, pemerkosa, penganiaya, pembunuh dan penjarah&#8230;” Di samping sebagai seorang psikopat yang suka berhalusinasi.</p>
<h3 style="text-align: center; margin-left: auto; margin-right: auto; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Saatnya untuk membuka topeng Muhammad</h3>
<p style="text-align: center; margin-left: auto; margin-right: auto; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;"><strong>Oleh <em>Geert Wilders</em></strong></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Untuk mengetahui mengapa Islam adalah sebuah bahaya yang mematikan, seseorang tidak hanya harus mengamatinya dari Quran, tetapi juga melalui karakter Muhammad, yang melahirkan Quran dan Islam.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Quran bukan hanya sebuah buku. Orang Muslim percaya bahwa Allah sendiri yang menuliskan buku ini dan bahwa buku ini didiktekan kepada Muhammad dalam versi aslinya, yaitu Umm al-Kitab, yang disimpan dalam sebuah meja di surga. Sebagai konsekuensi, orang tidak bisa berbantahan dengan isinya. Siapa yang berani memperlihatkan ketidaksetujuannya dengan apa yang ditulis oleh Allah sendiri? Ini menjelaskan perilaku para pengikut Muhammad, dari kekerasan saat melaksanakan jihad hingga kebencian dan penganiayaan yang mereka lakukan terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan orang-orang Muslim lainnya, serta mereka yang murtad. Apa yang kita anggap sebagai hal yang abnormal di Barat, sepenuhnya normal bagi Islam.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Masalah kedua yang tak kurang pentingnya mengenai Islam adalah, berkaitan dengan figur Muhammad. Ia bukan hanya seseorang. Dia adalah seorang al-insan al-kamil, manusia yang sempurna. Untuk menjadi seorang Muslim, seseorang harus mengucapkan kalimat syahadat (pengakuan Muslim). Dengan mengucapkan syahadat, seseorang menyaksikan bahwa tidak ada tuhan yang bisa disembah kecuali Allah, dan dia bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan dan pelayannya Allah.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Quran, dan juga Allah, meletakkan dasar bahwa kehidupan Muhammad harus diimitasi. Konsekuensi dari hal ini menjadi sesuatu yang menghebohkan, dan bisa kita saksikan setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Ada banyak analisa mengenai kegilaan mental Muhammad. Namun kendati ada banyak riset yang dilakukan, sangat jarang hal itu disebut atau diperdebatkan. Dianggap sebagai sebuah tabu jika mendiskusikan natur dari seorang pria yang diyakini sebagai seorang rasul suci dan contoh yang harus diikuti oleh sekitar satu setengah milyar manusia. Tabu itu harus diputuskan di Barat dan di sini di Netherlands.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Ali Sina adalah seorang eks Muslim dari Iran yang mendirikan organisasi untuk orang-orang yang murtad dari Islam yaitu Faithfreedom International. Dalam bukunya yang terakhir, ia menjelaskan bahwa Muhammad itu adalah seorang narsis, pedofil, pembunuh massal, teroris, bejat, penuh dengan nafsu birahi, pemimpin bidat, seorang pria gila, pemerkosa, penganiaya, pembunuh dan perampok(*). Sina telah menawarkan 50.000 dollar bagi mereka yang bisa membuktikan hal yang sebaliknya mengenai Muhammad. Sampai sekarang tak ada seorang pun yang memenangkan tawarannya itu. Dan hal ini tidak mengherankan, sebab deskripsi yang ia buat sesungguhnya bersumber dari teks-teks Islam sendiri seperti hadis, yang mendeskripsikan kehidupan Muhammad dari kesaksian-kesaksian orang-orang yang hidup pada zamannya.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Muhammad yang historis adalah pemimpin biadab dari sebuah gang para perampok dari Medina. Tanpa segan-segan mereka menyerang, memperkosa dan membunuh. Sumber-sumber mendeskripsikan kegilaan dan kekejaman Muhammad serta anggota-anggota gang rampoknya (Muslims), dimana ratusan leher orang dipenggal, tangan dan kaki dipotong, mata dicongkel, seluruh anggota suku dibinasakan. Sebuah contoh adalah punahnya suku Yahudi Qurayza di Medina pada tahun 627. Salah seorang dari mereka yang memenggal kepala orang-orang Yahudi ini adalah Muhammad sendiri. Para wanita dan anak-anak dijual sebagai budak. Jika kita mengkonfrontir kegilaan para teroris Islam hari ini, tak sulit untuk menemukan dari mana kegilaan itu bersumber.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Di Viena, aktivis kanan wanita, Elisabeth Sabaditsch-Wolff, baru-baru ini didenda karena menghina Islam dan menyebut Muhammad itu seorang pedofil. Tetapi itu adalah pernyataan yang benar. Ada banyak hadis yang berisi kesaksian dari isteri favorit Muhammad, Aisha. Secara literal Aisha mengatakan:”Nabi menikahiku ketika aku berusia enam tahun, dan melakukan hubungan seks denganku saat aku berusia sembilan tahun.”</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Berdasarkan ahli sejarah Theophanes (752-817), Muhammad adalah seorang penderita epilepsi. Penyakit ini terkadang diiringi dengan halusinasi, keringat di kening dan mulut berbusa, gejala-gejala yang sama yang terlihat pada diri Muhammad saat ia mengklaim mengalami penglihatan-penglihatan.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Dalam bukunya, “The Other Muhammad” (1992), psikolog Flemish, dr. Herman Somers, menyimpulkan bahwa pada usia empat puluhan tahun, “Nabi” mulai menderita penyakit yang disebut akromegali, sebuah kondisi yang disebabkan oleh sebuah tumor di kelenjar pituitary, sebuah kelenjar kecil yang terletak tepat di bawah otak. Saat tumor di kelenjar pituitary menyebabkan tekanan yang terlalu besar dalam otak, maka orang mulai melihat dan mendengar hal-hal yang sesungguhnya tidak ada. Psikopatologi Sommer mendiagnosa kondisi Muhammad sebagai: menderita halusinasi organis dengan karakteristik paranoid.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Sejarawan medis Jerman, Armin Geus, menyebut sebuah halusinasi paranoid sebagai schizophrenia. Analisa yang mirip bisa ditemukan dalam buku “The Medical Case of Muhammad” yang ditulis oleh seorang dokter yang bernama Dede Korkut.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Dalam bukunya “Psychology of Mohammed: Inside the Brain of a Prophet”, Dr. Masud Ansari menyebut Muhammad sebagai sebuah “personifikasi sempurna dari seorang psikopat yang berkuasa”. Muhammad memiliki sebuah personalitas paranoid dengan sebuah masalah inferioritas dan kecenderungan megalomania. Dalam usia empat puluhan, ia mulai melihat visi-visi yang membawanya pada keyakinan bahwa ia memiliki sebuah misi kosmis, dan tak ada yang bisa menghentikannya.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Kebenaran tidak selalu menyenangkan atau benar secara politik. Berdasarkan riset sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, pengakuan Islam yang diwajibkan terhadap satu setengah milyar manusia di seluruh dunia, termasuk satu juta yang hidup di Netherlands, yang melihat Muhammad sebagai teladan mereka, adalah hal yang bisa diperdebatkan. Sayangnya, tak ada kata berpaling saat seseorang telah menjadi seorang Muslim. Kendati artikel ke-18 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk “mengganti agama atau keyakinannya,” tetapi dalam Islam, konsekuensinya adalah hukuman mati bagi Muslim yang berani mengganti iman mereka.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Setiap orang yang menyuarakan kritik terhadap Islam dan Muhammad, akan berada dalam bahaya yang sangat besar, sebagaimana yang saya alami. Dan barangsiapa mencoba untuk keluar dari pengaruh Islam dan Muhammad, beresiko kehilangan nyawa. Kita tidak bisa terus menerus menerima hal ini. Sebuah debat publik mengenai natur dan karakter Muhammad yang sebenarnya, bisa menyediakan pemahaman dan dukungan bagi orang-orang Muslim di seluruh dunia, yaitu mereka yang ingin meninggalkan Islam.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Orang-orang yang murtad adalah para pahlawan, dan lebih dari pada itu, mereka sangat pantas untuk didukung oleh orang-orang dari seluruh dunia, yang mencintai kebebasan. Partai-partai politik seharusnya tidak menjadikan ini permainan politik demi meraih dukungan publik. Inilah saatnya bagi kita menolong para murtadin tersebut untuk mengekspos Muhammad.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;">Geert Wilders adalah seorang anggota Parlemen di Belanda. Ia adalah Ketua Partai untuk Kebebasan (PVV).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: medium;"><em>S</em><em>umber</em><em>: </em><a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" href="http://blogs.cbn.com/hurdontheweb/archive/2011/03/30/wilders-trial-to-go-forward-he-attacks-mohammed-again.aspx" target="_blank">Wilders Trial to Go Forward; He Attacks Mohammed Again</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2011%2F06%2F04%2Fmeskipun-pengadilan-atas-dirinya-belum-selesai-wilders-kembali-menyerang-muhammad%2F&amp;linkname=Meskipun%20Pengadilan%20Atas%20Dirinya%20Belum%20Selesai%20%26%238211%3B%20Wilders%20Kembali%20Menyerang%20Muhammad"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2011/06/04/meskipun-pengadilan-atas-dirinya-belum-selesai-wilders-kembali-menyerang-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengampunan dan Kehormatan Dalam Alkitab dan Qur&#8217;an</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2010/12/02/pengampunan-dan-kehormatan-dalam-alkitab-dan-quran/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2010/12/02/pengampunan-dan-kehormatan-dalam-alkitab-dan-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 01:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Injil - Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[pengampunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=2019</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh : Luke Plant
Saya telah banyak berdebat dengan teman-teman Muslim mengenai pengampunan, oleh karena hal ini sangatlah berbeda di dalam Qur’an dan di dalam Alkitab. Dalam artikel ini saya ingin membagikan beberapa pokok pikiran mengenai pengampunan Tuhan dan kehormatan Tuhan.
Dosa menyebabkan kita tidak menghormati Tuhan. Ketika saya berdosa, saya memilih sesuatu yang lain dan menganggapnya lebih bernilai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<div id="attachment_2020" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2020" title="forgiveness2" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2010/12/forgiveness2-300x240.jpg" alt="ilustrasi" width="300" height="240" /><p class="wp-caption-text">ilustrasi</p></div>
<p><span style="font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Oleh : <a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens internal link in current window" href="http://www.answering-islam.org/authors/plant/contact.html">Luke Plant</a></span></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Saya telah banyak berdebat dengan teman-teman Muslim mengenai pengampunan, oleh karena hal ini sangatlah berbeda di dalam Qur’an dan di dalam Alkitab. Dalam artikel ini saya ingin membagikan beberapa pokok pikiran mengenai pengampunan Tuhan dan <em>kehormatan </em>Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dosa menyebabkan kita tidak menghormati Tuhan. Ketika saya berdosa, saya memilih sesuatu yang lain dan menganggapnya lebih bernilai, lebih penting daripada Tuhan. Jika saya menyembah sesuatu yang lain yang bukan Tuhan, misalnya uang atau ketenaran, saya mengatakan bahwa hal-hal ini lebih baik dan lebih menarik daripada Tuhan. Jika saya melakukan suatu pelanggaran seksual, walaupun Tuhan sudah dengan sangat jelas melarangnya, saya mengatakan bahwa kesenangan dosa itu lebih baik daripada sukacita dalam menaati Tuhan. Ketidaktaatan saya memperlakukan Tuhan seakan-akan Ia kecil, seakan-akan Ia adalah kotoran yang pantas diinjak-injak.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Ketika kita dan sesama kita saling bersikap demikian, ini adalah hal yang serius. Tetapi skala penghinaannya bergantung pada siapa atau apa yang anda hina. Jika saya menghabiskan waktu untuk membuat suatu lukisan, dan anda menyerangnya dengan cat semprot, itu adalah penghinaan, namun tidaklah seberapa, oleh karena keterbatasan kemampuan saya berkesenian! Tapi jika anda pergi ke Louvre dan menyemprotkan cat pada lukisan Mona Lisa, ini adalah kejahatan yang jauh lebih besar. Maka, jika yang kita hina bukanlah makhluk terbatas seperti kita dan sesama kita, melainkan Sang Pencipta yang tidak terbatas, yang absolut sempurna dalam segala hal, maka pelanggaran itu sangat besar – berdasarkan tingkatan tak terbatas. Ketika kita berdosa, kita menghina Tuhan yang adalah pribadi yang sangat penting, sehingga sikap tidak hormat dan penghinaan itu sangat parah.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Lebih jauh lagi, tingkatan ketidakhormatan berubah tidak hanya melihat siapa yang dihina, tapi melihat hubungan yang ada antara anda dengan orang itu. Mustahil kita tidak menghormati orang yang sama sekali tidak kita kenal, tetapi perasaan malu menjadi berlipatganda bila ada relasi antara kita dengan orang itu, terutama dalam hubungan keluarga. Segala sesuatu yang saya lakukan, saya melakukannya sebagai representasi keluarga saya dan dalam keterkaitan dengan mereka. Mereka berhak mengharapkan loyalitas dari saya, dan suatu standar tingkah-laku tertentu. Pada kenyataannya ini berarti ada <strong>dua </strong>cara saya dapat tidak menghormati keluarga saya: pertama, saya dapat menghina mereka di muka mereka, dan kedua saya dapat bertingkah-laku sedemikian sehingga walaupun mereka tidak ada disini, saya menyeret nama baik keluarga saya menjadi sesuatu yang memalukan.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Berkenaan dengan Tuhan, kita diciptakan dalam citra Tuhan, yang berarti bahwa kita mempunyai dimensi moral, dan kita adalah representasi-Nya di bumi ini, yang harus bersikap seperti layaknya seorang raja, bertingkah-laku yang sesuai dengan Tuhan. Lihat Kejadian 1:26-28 (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=Gen+1:26-28" target="_blank"><strong>Genesis 1:26-28</strong></a>). Dalam pengertian itu, secara metaforis kita adalah ‘keturunan-Nya’. Lihat Kisah Rasul 17:28 (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=Acts+17:28" target="_blank"><strong>Acts 17:28</strong></a>). Tuhan bermaksud agar kita menjadi bagian dari keluarga-Nya. Di Taman Eden, diceritakan pada kita bahwa Tuhan ‘berjalan-jalan’ dengan Adam dan Hawa. Lihat Kejadian 3:8 (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=Genesis+3:8" target="_blank"><strong>Genesis 3:8</strong></a>) — mereka menikmati sebuah hubungan yang luar biasa. Betapa ini adalah suatu hak istimewa yang menakjubkan yang diberikan pada kita manusia!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Jadi, ketika saya tidak menaati Tuhan, saya tidak menghormati-Nya dengan dua cara: pertama-tama saya menghina-Nya tepat di hadapan-Nya, dengan mengabaikan perintah-Nya dan menyepelekan kasih-Nya sebagai Bapa yang telah ditunjukkan-Nya pada saya, sama seperti yang telah dilakukan Adam dan Hawa; namun saya juga mengirimkan sinyal kepada seluruh alam semesta: “keturunan Tuhan bertingkah-laku memalukan”.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Bila kita mengumpamakan hal ini: dosa kita terhadap Tuhan seperti seorang pangeran yang pergi menghadap ayahnya yang baik, sang Raja, di muka umum, lalu melengos dengan penghinaan dan tidak tahu berterima-kasih, dan meludahi wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Apa yang akan dilakukan Tuhan dalam situasi seperti itu? Apakah Ia akan mengabaikan saja tingkah-laku kita yang telah mempermalukan-Nya? Tidak, sikap tidak hormat semacam itu harus dihukum. Hukuman yang tepat untuk itu adalah penghukuman kekal – penghukuman kekal di neraka.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Jika seseorang menggambar lukisan penghinaan terhadap Muhammad, orang-orang Muslim tidak akan diam saja. Jika mereka tidak melakukan apa-apa terhadap penghinaan pada Muhammad, maka itu akan mengirimkan sinyal yang sangat jelas kepada dunia bahwa: tidak apa-apa jika menghina dan tidak menghormati Muhammad. Dan itulah sebabnya mengapa orang-orang Muslim tidak pernah mengijinkan penghinaan terhadap Muhammad berlalu begitu saja tanpa mereka melakukan <em>sesuatu </em>terhadap hal itu, untuk menunjukkan bahwa penghinaan padanya tidak dapat diterima.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tapi bagaimana dengan Tuhan, yang jauh lebih besar daripada Muhammad? Jika Tuhan begitu saja mengampuni orang-orang yang tidak menghormati-Nya, tanpa melakukan apapun terhadap tindakan tidak hormat itu, maka Ia sedang mengirimkan pesan yang sangat jelas: tidak apa-apa jika kita menginjak-injak Tuhan seperti kita menginjak-injak kotoran. Teruskan saja menghina-Nya, Ia tidaklah terlalu penting. Akankah Tuhan mengatakan hal semacam itu?</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Saya dapat membayangkan beberapa keadaan dimana <em>manusia </em>akan menerima malu dan ketidakhormatan tanpa melakukan apapun mengenai hal itu:</p>
<ol style="font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;" type="1">
<li style="text-align: justify;">Jika tidak ada yang dapat dilakukan, jika saya tidak sanggup membereskannya, mungkin saya akan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Tapi sudah tentu Tuhan tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, karena Ia memiliki kuasa yang tidak terbatas.</li>
<li style="text-align: justify;">Atau jika saya menyadari bahwa saya tidak berhak menuntut pembalasan, karena saya telah melakukan hal-hal yang lebih buruk kepada orang lain. Sekali lagi, ini tidak berlaku pada Tuhan, yang senantiasa melakukan apa yang sungguh-sungguh benar.</li>
<li style="text-align: justify;">Atau jika saya tidak menghormati diri saya sendiri – jika, untuk beberapa alasan, saya tidak dapat melihat martabat saya sebagai manusia. Tetapi martabat Tuhan jauh lebih tinggi daripada martabat saya, dan Ia tidak akan pernah melupakannya!</li>
<li style="text-align: justify;">Atau jika saya menyadari ada sesuatu yang jauh lebih penting, yang untuknya saya rela mengorbankan kehormatan saya. Namun sekali lagi, bagaimana mungkin Tuhan akan berpikir seperti itu – apakah yang lebih penting daripada Tuhan sendiri?</li>
</ol>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tidak, Tuhan mempunyai respek terhadap diri-Nya sendiri, respek yang tidak terbatas, dan senantiasa ‘cemburu’ akan kehormatan-Nya, menegaskan bahwa tidak ada sesuatupun dan siapapun yang tidak menghormati-Nya atau mengambil kehormatan-Nya yang adalah milik-Nya sendiri. Sebagaimana yang dikatakan-Nya dalam Ulangan 4:23-24:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Jagalah dirimu agar kamu tidak melupakan perjanjian YAHWEH Elohimmu, yang telah Dia buat dengan kamu, dengan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang telah YAHWEH Elohimmu larang. Sebab YAHWEH Elohimmu adalah api yang menghanguskan, Dia-lah Elohim yang cemburu.</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Yesaya 42:8 mengatakannya demikian:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Akulah YAHWEH, itulah nama-Ku, dan Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain, dan pujian-Ku kepada patung.</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tuhan menegaskan bahwa Ia harus dihormati, dan ini benar, oleh karena Dia-lah yang paling penting dan pribadi yang paling berharga dalam seluruh realita. Jadi Tuhan hanya akan mengampuni jika Ia dapat memulihkan kehormatan-Nya pada waktu yang sama. Ia hanya akan mengampuni jika Ia dapat menunjukkan, <strong>pada saat yang sama</strong>, bahwa Ia menyikapi pelanggaran terhadap-Nya sebagai hal yang benar-benar serius.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Mungkinkah iut? Ya, dalam Alkitab, Tuhan Sang Bapa dan Sang Putra keduanya benar-benar melakukan hal itu.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dalam seluruh Perjanjian Lama, Tuhan menunjukkan adanya kebutuhan akan kurban untuk menebus tindak ketidakhormatan oleh karena dosa kita. Namun hidup seekor lembu atau domba bukan apa-apa dibandingkan ketidakhormatan kita kepada Tuhan. Maka, pada waktu yang telah ditetapkan, Tuhan Sang Bapa menunjukkan betapa seriusnya dosa kita melalaui kurban yang paling menakjubkan yang pernah ada – Ia memberikan Putra tunggal-Nya. Lihat Yohanes 3:16  (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=John+3:16" target="_blank"><strong>John 3:16</strong></a>). Ini adalah kurban yang tertinggi, dan darah-Nya sangat tidak ternilai. Lihat Ibrani 9:11-14, 1 Petrus 1:18-19 (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=Hebrews+9:11-14" target="_blank"><strong>Hebrews 9:11-14</strong></a>, <a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=1+Peter+1:18-19" target="_blank"><strong>1 Peter 1:18-19</strong></a>).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dan Sang Putra menunjukkan kehormatan sejati yang pantas diberikan kepada Tuhan, karena Ia rela melakukannya untuk mempermuliakan Bapa-Nya. Putra Tuhan telah menunjukkan nilai tertinggi dari Bapa, pertama-tama melalui menyerahkan bahkan kemuliaan surgawi yang pantas disandang-Nya, dan menjadi seorang manusia, seorang hamba. Dan tidak hanya hidup sebagai hamba, tetapi mati, dan tidak hanya mati, tetapi menjelang ajal kematian yang paling memalukan sebagai seorang penjahat, dan berada di bawah kutuk dosa dan murka Tuhan. Lihat Filipi 2:5-8  (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=Philippians+2:5-8" target="_blank"><strong>Philippians 2:5-8</strong></a>). Dalam semuanya ini Yesus rela melakukannya untuk memuliakan Bapa-Nya. Lihat Yohanes 17:4 (<a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.gnpcb.org/esv/search/?q=John+17:4" target="_blank"><strong>John 17:4</strong></a>).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dengan cara demikianlah Tuhan mengampuni orang-orang yang berdosa – Yesus menanggung malu yang mestinya <strong>kita</strong> tanggung, dan yang sudah sepantasnyalah kita tanggung, dan kita diberikan kehormatan yang selayaknya adalah milik-<strong>Nya</strong>. Namun pada saat yang sama, Tuhan tidak mengkompromikan kehormatan-Nya sendiri. Bapa menunjukkan, melalui kurban tertinggi, bahwa pelanggaran-pelanggaran terhadap diri-Nya adalah pelangaran yang besar. Dan Putra menunjukkan, dengan kerelaan-Nya untuk masuk ke neraka oleh karena kasih dan ketaatan kepada Bapa-Nya, seberapa pantasnya Bapa itu, dan tingkah-laku yang bagaimana yang<strong>seharusnya </strong>kita tunjukkan kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tuhan di dalam Qur’an tidak bersikap seperti ini. Ketika Ia mengampuni, Ia tidak melakukan apa-apa terhadap sikap tidak hormat kita pada-Nya. Pada akhirnya, Ia menganggap kesenangan pria dan wanita di firdaus adalah jauh lebih penting daripada kehormatan-Nya sendiri, dan begitu saja mengabaikan pelanggaran-pelanggaran mereka. Dari perspektif kristiani, sesembahan yang bersikap seperti itu muncul dari penemuan pikiran manusia – karena hanya pikiran manusia yang berpendapat bahwa hal diampuni dan pergi ke surga adalah jauh lebih penting daripada kehormatan Tuhan. Pada kenyataannya, itulah yang selalu kita lakukan – sejak Adam dan Hawa dan seterusnya, kita telah mendahulukan keinginan kita sendiri daripada menghormati Tuhan. Jadi anda akan mengharapkan manusia menciptakan sesembahan yang tidak mempunyai respek terhadap dirinya sendiri – yang menjadikannya sesembahan yang tidak patut menerima hormat dari kita.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tetapi Tuhan dalam Alkitab membela kehormatan-Nya, sebagaimana yang seharusnya Ia lakukan, namun oleh karena kasih-Nya yang luar biasa pada kita Ia telah membuat jalan untuk membawa kita kepada posisi yang terhormat tanpa mengkompromikan kehormatan-Nya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Salib juga alasan mengapa orang-orang Kristen dapat mempunyai pengampunan penuh dan tidak hidup sesuka kita. Pengampunan Tuhan sangat menakjubkan dan absolut, dan ada kebebasan luar biasa di dalamnya. Saya tahu bahwa setiap dosa saya, termasuk dosa-dosa yang akan saya lakukan di masa depan, sudah diampuni. Namun saya tidak boleh berpikir “Baiklah, saya telah diampuni, maka saya boleh hidup sesuka saya” – harga termahal yang telah dibayar Yesus di atas kayu salib telah memperjelas bahwa dosa adalah hal yang benar-benar serius, benar-benar tidak menghormati Tuhan. Dan bagi orang-orang Kristen, yang mengasihi Tuhan, ini memberikan motivasi lebih banyak lagi untuk menghindari dosa bahkan pikiran akan neraka.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
(Banyak terimakasih kepada <a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" title="Opens external link in new window" href="http://www.rmuller.com/" target="_blank">Rolland Muller</a> untuk bukunya ‘Honour and Shame’ yang menginspirasi artikel ini).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Judul Asli: <a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" href="http://www.answering-islam.org/authors/plant/forgiveness_honour.html">Forgiveness and Honour in the Bible and the Qur&#8217;an</a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2010%2F12%2F02%2Fpengampunan-dan-kehormatan-dalam-alkitab-dan-quran%2F&amp;linkname=Pengampunan%20dan%20Kehormatan%20Dalam%20Alkitab%20dan%20Qur%26%238217%3Ban"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2010/12/02/pengampunan-dan-kehormatan-dalam-alkitab-dan-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Benar Nabi Ibrahim Pernah Berkunjung Ke Mekah?</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/apakah-benar-nabi-ibrahim-pernah-berkunjung-ke-mekah/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/apakah-benar-nabi-ibrahim-pernah-berkunjung-ke-mekah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 02:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar-Online]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Mekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[


Apakah Benar Nabi Ibrahim Pernah Berkunjung ke kota Mekah?


Pandangan bahwa Sayidina Ibrahim pernah berkunjung ke kota Mekah berdasarkan kepada ayat al-Quran berikut :
Surat Ali &#8216;Imran (3): 96

&#8220;Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (untuk tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.&#8221;

Kisah ini diperkuatkan lagi dalam :
Sahih Bukhari Jilid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: large;"></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-190" title="nabi-ibrahim21" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2009/11/nabi-ibrahim21.jpg" alt="nabi-ibrahim21" width="259" height="382" /></p>
<p align="center"><span style="text-decoration: underline;">Apakah Benar Nabi Ibrahim Pernah Berkunjung ke kota Mekah?</span></p>
<p align="center">
<p></span></strong></p>
<p><span style="font-size: medium;">Pandangan bahwa Sayidina Ibrahim pernah berkunjung ke kota Mekah berdasarkan kepada ayat al-Quran berikut :</span></p>
<p><em><strong><span style="font-size: medium;">Surat Ali &#8216;Imran (3): 96</span></strong></em></p>
<blockquote>
<blockquote><p><em><span style="font-size: medium;">&#8220;Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun (untuk tempat beribadat) manusia, ialah <strong>Baitullah yang di Bakkah (Makkah)</strong> yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.&#8221;</span></em></p></blockquote>
</blockquote>
<p><span style="font-size: medium;">Kisah ini diperkuatkan lagi dalam :<br />
<strong>Sahih Bukhari Jilid 4, buku 55, nombor 583 :</strong></p>
<p>Dikisahkan oleh Ibn Abbas:</span></p>
<blockquote><p><em><span style="font-size: medium;">&#8220;Sayidina Ibrahim membawa Siti Hajar dan anaknya Ismael yang masih menyusu ketempat dekat Ka’abah dibawah pohon dilokasi Zam Zam, diposisi tertinggi dari rumah Allah. Pada saat itu <strong>tidak ada orang di Mekah</strong>, begitu pula <strong>tidak ada air.</strong></span></em></p>
<p><em><span style="font-size: medium;">Sayidina Ibrahim kembali tidak menjumpai Ismael dalam jangka waktu yang telah ditentukan Allah dan kemudian berusaha untuk menemui Ismael kembali. Kali ini Sayidina Ibrahim melihat Ismael dibawah pohon di Zam Zam, sedang menajamkan anak panahnya. Ketika Ismael melihat Sayidina Ibrahim , dia berdiri dan menyambutnya. Sayidina Ibrahim berkata, &#8216;Oh Ismael, Allah telah memberi perintah kepadaku.&#8221; Ismael berkata, &#8220;Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu.&#8221; Sayidina Ibrahim bertanya, &#8220;Apakah engkau mau membantuku?’. Ismael berkata, &#8220;Aku akan membantumu&#8221;. <strong>Sayidina Ibrahim berkata, &#8220;Allah telah memerintahkan untuk membangun sebuah rumah disini (Ka’abah).&#8221; Kemudian mereka mulai membangun rumah tersebut. …….</strong>&#8220;</span></em></p></blockquote>
<p><em><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: medium;">Apakah </span></span></em><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: medium;">claim<em> (yaitu tuntutan) bahwa Sayidina Ibrahim pernah ke Mekah bahkan membangun Ka&#8217;abah ini </em><strong>benar</strong><em> atau pun </em><strong>sah</strong><em>?<br />
</em></span></span><span style="font-size: medium;"><br />
<strong>Marilah kita cuba juga lihat dari sumber-sumber Islam yang lain.</strong></p>
<p></span><span style="font-size: large;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span> :</strong><span style="text-decoration: underline;"> </span><br />
</span><span style="font-size: medium;"><br />
Perhatikan petikan dari buku:<br />
<strong><em>Sirah Ibnu Ishaq Kitab Sejarah Nabi Tertua</em>, Muhammadiah University Press, Jun 2002, Jilid 1, halaman 15 &#8211; 16.</strong></p>
<p>Petikan ini mengisahkan raja Abu Karib Tiban As’ad yang berasal dari Yaman yang saat itu melakukan perjalanan ke Yathrib.</p>
<p>Halaman 15 :</span></p>
<blockquote><p><span style="font-size: medium;"><em>&#8220;Tubba menulis baris-baris berikut tentang perjalanannya, apa yang dia lakukan terhadap <strong>Madinah dan Ka’bah</strong>, …….&#8221;</em></p>
<p>Dalam salah satu baris syairnya yang terdapat di halaman 16 :</span></p>
<blockquote><p><em><span style="font-size: medium;">&#8220;<strong>Aku tidak tahu tentang adanya kuil yang murni<br />
Yang dipersembahkan untuk tuhan di lembah Mekah&#8230;</strong>&#8220;</span></em></p></blockquote>
</blockquote>
<p><span style="font-size: medium;">Raja ini adalah ayah dari Dzu Nawas yang menyerang kaum Kristian Najran pada tahun 523 M (<strong><em>Sejarah Hidup Muhammad Sirah Nabawiyah</em>, Robbani Press, Mei 2002, Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, halaman 36</strong>).</p>
<p>Jika kita andaikan bahwa raja Abu Karib Tiban As’ad telah melakukan perjalanan ke Madinah dan Mekah 70 tahun sebelumnya, bererti perjalanan terjadi pada sekitar tahun 450 M.<br />
</span><br />
<strong><span style="font-size: large;">Dan pada tahun 450 M, <em>Ka&#8217;abah</em> di Mekah tidak dikenali oleh seorang Pemerintah dari wilayah Yaman!</span></strong></p>
<p><span style="font-size: large;"><strong>Sangat janggal dan aneh sekali, padahal menurut al-Qur&#8217;an, Ka&#8217;abah telah dibangun oleh Sayidina Ibrahim dan Ismail yang hidup sekitar 1900 SM &#8211; 2000 SM, kenapa pula <span style="text-decoration: underline;">bangunan itu<em>tidak dikenal</em> pada tahun 450 M</span>?? </strong></span><span style="font-size: medium;"></p>
<p></span><span style="font-size: large;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span> :</strong><br />
</span><span style="font-size: medium;"><br />
Tentang waktu pembangunan Ka&#8217;abah.</p>
<p><strong>Dipetik daripada tafsir Ibn Kathir mengenai Surah 3 : 96 yang boleh diperolehi daripada </strong></span><a href="http://www.tafsir.com/default.asp?sid=3&amp;tid=8799/t_blank"><strong><span style="font-size: medium;">http://www.tafsir.com/default.asp?sid=3&amp;tid=8799</span></strong></a></p>
<blockquote><p><em><span style="font-size: medium;">Imam Ahmad recorded that Abu Dharr said; &#8220;I said, `O Allah&#8217;s Messenger! Which Masjid was <strong>the <span style="text-decoration: underline;">first</span> to be built</strong> on the surface of the earth&#8217; He said, `Al-<span style="text-decoration: underline;">Masjid Al-Haram in Makkah</span>.&#8217; I said, `<strong>Which was built <span style="text-decoration: underline;">next</span></strong>&#8216; He replied `<span style="text-decoration: underline;">Al-Masjid Al-Aqsa in Jerusalem</span>.&#8217; I said, `What was the period of time <span style="text-decoration: underline;">between building the two</span>&#8216; He said, `<strong>Forty years</strong>.&#8217;</span></em></p></blockquote>
<p><span style="font-size: medium;">Terjemahan bebas :</span></p>
<blockquote><p><em><span style="font-size: medium;">Imam Ahmad mencatat bahwa Abu Dharr berkata; &#8220;Aku berkata, &#8220;Ya Rasulullah, masjid mana <strong>yang pertama</strong> dibuat didunia ini?. Dia berkata, &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Al-Masjid Al Haram (di Mekah)</span>&#8220;. Aku berkata, &#8220;Mana yang dibangun <span style="text-decoration: underline;">setelah</span> itu?&#8221;. Dia menjawab, &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Al-Masjidil Al-Aqsa (di Yerusalem/Baitulmuqaddis)</span>&#8220;. Aku berkata, &#8220;<span style="text-decoration: underline;">Berapakah jangka masa antara pembangunan kedua bangunan itu</span>?&#8221; Dia berkata, <strong>&#8220;Empat puluh tahun&#8221;</strong></span></em></p></blockquote>
<p><span style="font-size: medium;">Menurut perhitungan :</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height: 24px;"><span style="font-size: medium;"><strong><em>Sayidina Ibrahim dan Ismail</em></strong> hidup sekitar tahun <span style="text-decoration: underline;"><strong>1900 SM – 2000 SM</strong></span>.<br />
<em><strong>Raja (Nabi) Sulaiman</strong></em>, yang telah membangun <span style="text-decoration: underline;"><strong>bait Allah di Yerusalem</strong></span> (Baitulmuqqadis) hidup sekitar <strong><span style="text-decoration: underline;">1000 SM &#8211; 950 SM.</span></strong><br />
<strong>Jadi ada perbedaan jurang waktu sebanyak<em> 1000 tahun antara Ibrahim dan Ismail (yang membangun Masjidil Haram) dengan Raja Sulaiman </em>(yang membangun Bait Allah di Yerusalem/Baitulmuqaddis).</strong></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size: medium;"><br />
<strong>Jadi BAGAIMANAKAH boleh dikatakan perbedaan waktu di antara kedua-duanya <em>Baitullah</em> itu hanya 40 tahun??<br />
</strong><br />
Lebih-lebih lagi, nampaknya nabi Muhammad telah mengalami masalah disorientasi waktu apabila beliau merangkai cerita <span style="text-decoration: underline;"><em><strong>Sayidina Ibrahim dan raja Sulaiman!</strong></em></span></p>
<p></span><span style="font-size: large;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span> :</strong><br />
</span><span style="font-size: medium;"><br />
Makanya tidaklah sedikit pun mengherankan terdapat pakar dan ilmuwan Islam sendiri yang meragukan kisah <strong><em>pembangunan Ka&#8217;abah oleh Sayidina Ibrahim</em></strong> . Lebih lanjut petikan dari tokoh Islam moden tentang hubungan Ismail dan Arab sebagai berikut :<br />
</span></p>
<p><span style="font-size: medium;">Dr. Taha Husayn, seorang profesor dari Mesir, pendapatnya dipetik dalam buku &#8220;<em>Mizan al Islam karya Anwar Jundi</em>&#8220;, halaman 170 :</span></p>
<blockquote><p><strong><em><span style="font-size: medium;">&#8220;Dalam kasus cerita Sayidina Ibrahim dan Ismail membangun Ka&#8217;abah cukup jelas, cerita ini muncul belakangan disaat Islam mulai berkembang.</span> <span style="font-size: large;">Islam mengeksploitasi kisah ini untuk tujuan dan kepentingan agama/politik.</span>&#8220;</em></strong></p></blockquote>
<p><strong><span style="font-size: medium;">Siapakah DR.Taha Husayn?</span></strong><span style="font-size: medium;"><br />
Dipetik daripada :<br />
<strong><em>Encyclopaedia Britannica</em></strong> edisi 2003<br />
Sub Topik : <em><strong>Taha Hussein</strong></em></p>
<p>Terjemahan bebas :<br />
<em>Lahir Nov. 14, 1889, Maghaghah, Mesir<br />
Meninggal dunia pada Oct. 28, 1973, di Kaherah</em></span></p>
<blockquote>
<blockquote>
<p align="justify"><span style="font-size: medium;"><em>Tokoh yang menonjol dalam khazanah Mesir modern …..Pada tahun 1902 dia telah belajar di Al-Azhar, Kairo …… Pada tahun 1908 dia masuk Universiti Kaherah dan di tahun 1914 menjadi orang pertama yang meraih gelar doktor …… Taha menjadi professor Kebudayaan Arab di Universitas Kaherah, kerjayanya dipenuhi dengan gejolak kerana <strong>pandangan-pandangan kritiknya yang sering membuat marah puak Islam ortodoks</strong>. ….Tahun 1926 dia menerbitkan bukunya &#8220;</em>On Pre-Islamic Poetry<em>&#8220;, dalam buku ini <strong>dia menyimpulkan beberapa syair-syair yang dinyatakan pra-Islam sebetulnya adalah pemalsuan oleh umat Muslim kemudian </strong>kerana beberapa alasan, salah satunya adalah untuk memberikan autoriti/kewibawaan kepada Al-Qur’an. Kerana buku ini, dia telah dituduh sebagai &#8220;kafir&#8221;. ….. Taha kemudian menyandang jabatan sebagai Menteri Pendidikan Mesir di antara tahun 1950 – 1952 …..</em></span></p>
</blockquote>
</blockquote>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: large;">Maklumat tambahan :</span></span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><span style="font-size: large;"><strong>Perjalanan Sayidina Ibrahim Dari Kota Ur-Kasdim ke Tanah Perjanjian</strong></span> <strong><span style="font-size: large;">Berdasarkan Alkitab</span></strong></p>
<p align="left"><span style="font-size: medium;">Menurut buku <strong><em>&#8216;Atlas of the Bible: with A-Z Guide to Places&#8217;</em></strong> terbitan Penerbit <strong><em>Eerdmans</em></strong>, perjalanan Sayidina Ibrahim dari kota Ur-Kasdim ke tanah perjanjian (yang berakhir di Hebron) ternyata <strong>TIDAK </strong>menunjukkan bahwa <em>route</em> perjalanan Sayidina Ibrahim tersebut melalui kawasan Arab Saudi atau pun kota Mekkah. Perjalanan Sayidina Ibrahim di mulai dari kota Ur, di tanah Khaldea, kemudian menuju ke arah barat-laut, yakni Haran di sebelah tenggara Turki atau masih di sebelah timur Sungai Euphrates dan kemudian dari sana berbelok menuju ke arah barat daya menuju Hebron (tanah Kanaan).</p>
<p>Dari <em>route</em> perjalanan tersebut, nampaknya Sayidina Ibrahim tidak melalui daerah Arab Saudi, khususnya kota Mekkah. Anehnya, umat Islam membuat tuntutan bahwa Sayidina Ibrahim (Abraham) pernah berada di Mekah. <span style="text-decoration: underline;"><strong>Apakah memang ada bukti (dari Kitab Suci) bahwa Ibrahim memang pernah tinggal (lewat) di Mekkah?</strong></span></p>
<p>Perlu diketahui, <strong>kota</strong> <em><strong>Haran</strong></em> berbeda dengan <strong>padang pasir</strong> <em><strong>Paran</strong></em>. Padang Paran (<strong><em>Desert of Paran</em></strong>) DAN juga bukan terletak di daerah atau wilayah Arab Saudi, melainkan di daerah <em><strong>Sinai</strong></em> (wilayah Mesir).</p>
<p>Memang secara <strong><em>logik</em></strong>, kalau Sayidina Ibrahim diminta oleh Allah untuk meninggalkan kota kediamannya (Ur) menuju ke tanah Kanaan, maka posisi tanah Kanaan memang berada di arah barat dari Ur. Sementara, kota Mekah terletak di sebelah barat daya dari kota Ur. Oleh kerana Sayidina Ibrahim melakukan perantauan (<em>nomadik</em>), maka sangat mungkin baginda akan memilih jalan dekat sungai Euphrates dan akhirnya berhenti sementara di kota Haran. Di kota Haran ini, ayah Sayidina Ibrahim, Terah, telah meninggal dunia.</p>
<p><em><strong>Sementara</strong></em> Padang Paran, tempat di mana Ismael dan ibunya tinggal, berada di daerah Sinai. Padang Paran ini juga pernah dilewati oleh bangsa Israel ketika melakukan penghirjahan keluar dari Mesir, kembali ke tanah Kanaan.</p>
<p>Jadi, secara Al-Kitabiah, <span style="text-decoration: underline;"><strong>tidak ada bukti kukuh, bahwa Sayidina Ibrahim pernah melalui atau pun tinggal di kota Mekah.</strong></span>Tempat-tempat yang dilewati Sayidina Ibrahim adalah seperti berikut :</span></p>
<blockquote>
<p style="line-height: 24px;"><strong><span style="font-size: medium;">1. Berangkat dari Ur-Kasdim (Kej 11:31)<br />
2. Sampai di Haran (Kej 11:31) Ayah Sayidina Ibrahim, Terah, wafat di Haran.<br />
3. Sampai di Sikhem (Kej 12:6)<br />
4. Sampai pegunungan sebelah Timur Betel. (Kej 12:<br />
5. Sampai ke tanah Negeb (Kej 12:9) Ketika ada kelaparan di negeri itu, Sayidina Ibrahim pergi ke Mesir.<br />
6. Sampai di Mesir (Kej 12:10)<br />
7. Kembali ke tanah Negeb (Kej 13:1)<br />
8. Menuju ke Bethel (Kej 13:3) Sayidina Ibrahim pernah membuat mezbah di Bethel (Kej 13:4). Bethel = Beth-el (Beth = rumah, El = Allah)= Baitullah<br />
9. Pindah ke Mamre, dekat Hebron (Kej 13:1<br />
10. Sayidina Ibrahim diberkati anaknya Ismael ketika di Kanaan (Kej 16:3)<br />
11. Sayidina Ibrahim ke tanah Negeb (Kej 20:1) 9<br />
16. Sayidina Ibrahim ke tanah Moria (Kej 22:2)<br />
17. Sayidina Ibrahim pergi dan tinggal di Bersyeba (Kej 22:19) Sara nampaknya tetap tinggal di Hebron.<br />
18. Sara wafat di Hebron (Kej 23:2)<br />
19. Sayidina Ibrahim dimakamkan di gua Makhpela (Hebron) (Kej 25:9)</span></strong></p></blockquote>
<p align="left"><strong><span style="font-size: large;">Catatan</span></strong><span style="font-size: large;">: Dalam Al-Kitab ada kota/tempat yang bernama Maakha, yaitu sebuah kota kecil <strong><em>di sebelah tenggara gunung Hermon</em></strong> (dan gunung Hermon ini terletak di sempadan <strong>Lubnan dengan Syria</strong>). Namun berdasarkan lokasinya, kota <em>Maakha</em> ini sama sekali tidak boleh disamakan dengan <em>Mekkah</em> di Arab Saudi.</span></p>
<p align="left">
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2010%2F11%2F17%2Fapakah-benar-nabi-ibrahim-pernah-berkunjung-ke-mekah%2F&amp;linkname=Apakah%20Benar%20Nabi%20Ibrahim%20Pernah%20Berkunjung%20Ke%20Mekah%3F"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/apakah-benar-nabi-ibrahim-pernah-berkunjung-ke-mekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BAGAIMANAKAH ANAK IBRAHIM DITEBUS?</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/bagaimanakah-anak-ibrahim-ditebus/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/bagaimanakah-anak-ibrahim-ditebus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 00:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Injil - Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[penebusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=1785</guid>
		<description><![CDATA[TANTANGAN: Orang-orang Muslim menerima ajaran Al-Quran, yang mengatakan bahwa manusia bisa diselamatkan dari neraka dan mendapatkan surga dengan melakukan perbuatan baik. Inilah sebabnya mereka menolak keyakinan Kristen akan penebusan dosa atau melalui kematian Kristus sebagai pengganti di kayu salib. Menurut iman ini, manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri melalui perbuatan baik. Namun, keselamatan hanya bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1787" class="wp-caption alignleft" style="width: 309px"><img class="size-medium wp-image-1787" title="Fresco_Binding_of_Isaac_(Persian)" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2010/07/Fresco_Binding_of_Isaac_Persian-299x300.jpg" alt="Fresco with image of Abraham to sacrifice his son (Islamic version) on a Haft Tanan museum wall in Shiraz" width="299" height="300" /><p class="wp-caption-text">Fresco with image of Abraham to sacrifice his son (Islamic version) on a Haft Tanan museum wall in Shiraz</p></div>
<p><span style="font-size: 13.3333px;"><span style="font-weight: bold;">TANTANGAN:</span> Orang-orang Muslim menerima ajaran Al-Quran, yang mengatakan bahwa manusia bisa diselamatkan dari neraka dan mendapatkan surga dengan melakukan perbuatan baik. Inilah sebabnya mereka menolak keyakinan Kristen akan penebusan dosa atau melalui kematian Kristus sebagai pengganti di kayu salib. Menurut iman ini, manusia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri melalui perbuatan baik. Namun, keselamatan hanya bisa terjadi melalui adanya pihak ketiga, yang sebagai pengganti menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Benarkah memang tidak ada sama sekali jejak penebusan melalui kematian pengganti dari pihak lain yang bisa ditemukan di dalam Al-Quran? Haruskah orang Muslim, dengan demikian, secara penuh menolak iman penebusan melalui kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib?</span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">JAWABAN:</span> Secara sepintas memang nampak demikian, karena Al-Quran (Surat an-Nisa&#8217; 4:157) mengatakan bahwa Kristus tidaklah dibunuh ataupun disalibkan, karena Ia sama sekali tidak mati. Justru, Allah dikatakan sudah menyelamatkan Dia dari musuh-musuhnya, yang berniat untuk membunuh-Nya. Bukannya mati dan bangkit dari kematian, Ia dikatakan diangkat langsung ke surga (Surat an-Nisa&#8217; 4:158), dimana Ia, menurut tradisi Islam (Hadits), hidup saat ini sampai hari kedatangan-Nya yang kedua kali. Lebih lagi, menurut Al-Quran, bahkan kalaupun Kristus mati, kematian-Nya tidak bisa menjadi pengganti menanggung hukuman yang seharusnya dipikul manusia, karena, secara jelas Al-Quran mengajarkan, tidak ada manusia yang dibebani oleh dosa yang bisa memikul beban dosa orang lain ( Surat al-An&#8217;am 6:164, al-Isra&#8217; 17:15; Fatir 35:18; al-Zumar 39:7 and an-Najm 53:38).</p>
<p>Namun, kalau diselidiki secara lebih mendalam, ada kekecualian yang bisa ditemukan. Salah satu bagian yang paling penting di dalam Al-Quran, yang berbicara mengenai penebusan dari pihak ketiga, bisa ditemykan dalam konteks kisah mengenai anak Abraham yang dikorbankan sebagai korban sembelihan.</p>
<p>Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111: “99 Dan Ibrahim berkata:&#8221;Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.&#8217; 101 Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: &#8220;Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!&#8221; Ia menjawab: &#8220;Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.&#8217; 103 Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami panggillah dia: &#8220;Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.&#8217; 107 Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108 Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109 (yaitu)&#8221;Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim&#8221;. 110 Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.</p>
<p>Ayat yang paling penting adalah ayat 107. Kalau diterjemahkan secara harafiah dari bahasa Arab, maka ayat itu berarti demikian “Dan sudah menebuslah kami akan dia dengan sebuah korban sembelihan yang agung (besar).” (Dalam transkripsi Arab: wa-faday-naa-hu bi-dhabhin &#8216;adhim) Untuk bisa menangkap keseluruhan kekuatan makna dari ayat Al-Quran ini, kita perlu merenungkan setiap unsur di dalam wahyu Allah ini. Kita akan melakukannya dengan mengajukan pertanyaan yang muncul baik dari ayatnya maupun dari konteksnya.</p>
<p>1. “Dan sudah menebus …” (wa-faday-): Di sini Al-Quran dengan jelas memberikan kesaksian akan adanya penebusan (fidya, fidaa&#8217;) yang sudah terjadi melalui adanya korban sembelihan. Atas dasar pengajaran yang ada di kebanyakan bagian lain di dalam Al-Quran, seorang Muslim akan bertanya kepada dirinya sendiri : Mengapa Allah harus melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu kepada anaknya? Mengapakah tebusan itu diperlukan?</p>
<p>2. “… kami …” (-naa-): Al-Quran tidak hanya mengatakan tentang telah terjadinya penebusan, tetapi bahwa Allah sendirilah sang Penebus itu. Keagungan dari kata jamak “kami” di sini bukan menunjuk kepada malaikat atau manusia, tetapi kepada Allah sendiri. Di sini orang Muslim tidak bisa tidak mengajukan pertanyaan: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa harus Allah yang melakukannya? Dan karena korban sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari surga. Di sini muncul pertanyaan selanjutnya bagi orang Muslim: Mengapa bukan Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga, bukan dari dunia ini?</p>
<p>3. “… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah, sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena Allah dengan jelas yang memerintahkan dia mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi tidak membebaskan saya dari dosa yang saya lakukan.</p>
<p>4. “… dengan sebuah kurban sembelihan, …” (bi-dhabhin): Al-Quran memberikan kesaksian bahwa sebuah korban penebusan dibunuh, karena ia menjadi korban sembelihan, yang mati ketika disembelih. Di sini seorang Muslim akan bertanya: Mengapa perlu menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk bisa menebus anak itu?</p>
<p>5. “… yang agung (besar).” (&#8217;adhim): Ini adalah kata yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih adalah agung (besar)? Apakah korban itu agung (besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung (besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99 nama Allah adalah al-&#8217;adhim (kebesaran yang agung), apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama ilahi? Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan anda juga!</p>
<p><span style="font-weight: bold;">KABAR BURUK:</span> Al-Quran memang menuliskan, bertolak belakang dengan pandangan Muslim secara umum, jejak tentang adanya kematian pengganti yang menebuskan dari pihak lain – yaitu, dalam kisah tentang bagaimana anak Abraham ditebuskan.<br />
<span style="font-weight: bold;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: bold;">KABAR BAIK: </span>Untuk alasan ini seorang Mislim bisa, bahkan sesuai dengan perkataan Al-Quran sendiri, menangkap iman yang besar kepada kematian Kristus sebagai pengganti bagi kita di kayu salib. Umat Allah, dan dengan itu ia akan bisa memahami bagian di dalam Al-Quran, yang tidak akan bisa dimengerti tanpa keyakinan itu.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">KESAKSIAN:</span> Nama saya Barakatullah dan saya berasal dari Mesir. Saya dahulu seorang perwira tentara dan seorang pemimpin agama Islam. Suatu hari saya melihat secarik kertas yang menarik perhatian saya. Tertulis di dalam kertas itu “Tetapi Aku berkata kepadamu!” Saya lalu mengambilnya dan membaca kelanjutannya. Kristus berbicara disana dan Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Ayat dari Injil ini (Matius 5:43-44) sangat mengejutkan saya. Sebagai seorang Muslim saya tahu tentang Kristus. Apakah Ia memiliki hak untuk mengubah perintah dari Allah? Apakah Ia punya otoritas untuk melakukannya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, saya mengikuti kursus sore hari yang diadakan oleh Universitas al-Azhar di Kairo.</p>
<p>Selama empat tahun saya belajar ilmu perbandingan agama dari sudut pandang Islam, dan bisa mendapatkan gelar akademis. Saya harus mempelajari agama Hindu, Budha, Konghucu, Yudaisme, dan Kristen, termasuk Kitab Suci mereka. Dengan tekun saya mempelajari Al-Quran, dan membandingkannya dengan kitab-kitab itu. Melalui penyelidikan itu saya menjadi Kristen. Saya menemukan bahwa Kristus memiliki hak untuk mengubah Hukum Allah, karena Dia, seperti Allah, memiliki hak untuk memerintah manusia agar taat kepada-Nya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al-Quran (Surat Al &#8216;Imran 3:50 dan as-Zukhruf 43:63) Hari ini saya menceritakan kepada orang-orang Muslim apa yang saya pelajari pada waktu itu. Penyelidikan mengenai bagaimana anak Abraham ditebus, seperti yang anda baca dalam artikel ini, adalah penemuan yang saya dapatkan pada waktu itu. Penemuan itu menolong saya untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang disalibkan. Saya dan keluarga saya mengalami banyak penganiayaan sejak saat itu. Tetapi sampai hari ini, saya tetap setia kepada Kristus.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">DOA:</span> Saya bersyukur dari lubuk hati saya, ya Allah yang penuh rahmat, bahwa Engkau sudah menebus anak Abraham. Engkau benar kalau membuang saya ke neraka karena dosa saya. Tetapi Engkau menetapkan jalan yang baru, tentang cara saya bisa diselamatkan. Saya percaya kepada penebusan yang Engkau berikan, agar saya tidak harus masuk neraka.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">PERTANYAAN:</span> Menurut Al-Quran, siapakah yang menebus anak Abraham? Mengapa ia perlu ditebus? Siapa yang menebus anda dari hukuman neraka?</p>
<p><span style="font-weight: bold;">UNTUK DIHAFALKAN:</span> “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”<br />
(Yohanes 3:16 – Perkataan Kristus di dalam Injil)</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2010%2F11%2F17%2Fbagaimanakah-anak-ibrahim-ditebus%2F&amp;linkname=BAGAIMANAKAH%20ANAK%20IBRAHIM%20DITEBUS%3F"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/bagaimanakah-anak-ibrahim-ditebus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peristiwa Korban Ibrahim : Gambaran Korban Agung Almasih</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/makna-kurban-agung-bagi-orang-kristen/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/makna-kurban-agung-bagi-orang-kristen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 20:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar-Online]]></category>
		<category><![CDATA[idhul adha]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=1792</guid>
		<description><![CDATA[Karya Isa Almasih di Kayu Salib adalah merupakan sebuah Korban Agung, IA yang benar untuk kita yang tidak benar supaya kita mendapatkan pengampunan dosa dan dipulihkan hubungan dengan Allah. Dan korban yang sempurna itu cukup sekali untuk selamanya.
Peristiwa korban anak Ibrahim merupakan sebuah penggambaran terhadap apa yang akan dilakukan oleh Isa Almasih sebagai  korban yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1800" class="wp-caption aligncenter" style="width: 166px"><img class="size-medium wp-image-1800 " title="rembrandt_sacrifice401x600" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2010/07/rembrandt_sacrifice401x600-200x300.jpg" alt="Sacrifice - Reimbrandt" width="156" height="234" /><p class="wp-caption-text">Sacrifice - Reimbrandt</p></div>
<p>Karya Isa Almasih di Kayu Salib adalah merupakan sebuah Korban Agung, IA yang benar untuk kita yang tidak benar supaya kita mendapatkan pengampunan dosa dan dipulihkan hubungan dengan Allah. Dan korban yang sempurna itu cukup sekali untuk selamanya.</p>
<p>Peristiwa korban anak Ibrahim merupakan sebuah penggambaran terhadap apa yang akan dilakukan oleh Isa Almasih sebagai  korban yang sempurna sebagai jalan keselamatan/pendamaian umat manusia dengan Allah.</p>
<p><span style="font-size: 13.3333px;">Sebuah video yang berisi pentingnya makna ritual korban dan bagaimana penggenapannya di dalam karya Isa Almasih dapat dilihat di dalam  video berikut ini :</span></p>
<p><a href="http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/makna-kurban-agung-bagi-orang-kristen/"><em>Click here to view the embedded video.</em></a></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2010%2F11%2F17%2Fmakna-kurban-agung-bagi-orang-kristen%2F&amp;linkname=Peristiwa%20Korban%20Ibrahim%20%3A%20Gambaran%20Korban%20Agung%20Almasih"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/17/makna-kurban-agung-bagi-orang-kristen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Injil Digugat Karena Hilangnya Nubuat Bagi &#8220;Rasul Yang Akan Datang&#8221;</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/16/injil-digugat-karena-hilangnya-nubuat-bagi-rasul-yang-akan-datang/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/16/injil-digugat-karena-hilangnya-nubuat-bagi-rasul-yang-akan-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 01:55:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Injil - Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Injil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=2013</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: H. Aljabar

Seluruh  isi  Kitab  Perjanjian  Lama  telah  dijuruskan  kepada  kedatangan seorang Nabi yang dijuluki Sang Mesias (Al-Masih). Dan itu adalah janji Allah kepada umat Israel lewat begitu banyak nubuatan Alkitab.  Ketika Yesus datang, Ia mengklaim bahwa Dialah Sang Mesias yang dinubuatkan itu. Dan Dia membuktikan apa yang diklaim olehNya. Disamping datang untuk memenuhi nubuat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: center; margin-left: auto; margin-right: auto; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><a style="text-decoration: none; font-weight: bold; color: #003399;" href="http://www.answering-islam.org/indonesian/muhammad/injil-digugat.html">Oleh: H. Aljabar</a></h4>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<div id="attachment_2014" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2014" title="Injil" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2010/11/Injil-300x230.jpg" alt="Kitab Suci Injil" width="300" height="230" /><p class="wp-caption-text">Kitab Suci Injil</p></div>
<p>Seluruh  isi  Kitab  Perjanjian  Lama  telah  dijuruskan  kepada  kedatangan seorang Nabi yang dijuluki Sang Mesias (Al-Masih). Dan itu adalah janji Allah kepada umat Israel lewat begitu banyak nubuatan Alkitab.  Ketika Yesus datang, Ia mengklaim bahwa Dialah Sang Mesias yang dinubuatkan itu. Dan Dia membuktikan apa yang diklaim olehNya. Disamping datang untuk memenuhi nubuat, Yesus pun sempat menubuatkan bahwa Ia akan mengutus Penghibur, yaitu Roh Kebenaran, yang akan memimpin umatNya ke dalam seluruh  kebenaran,  serta  yang  akan  memberitakan  tentang  hal-hal  yang akan datang  kepada  mereka.  Jadi Alkitab memperlihatkan ada dua jenis nubuat bagi 2 sosok keilahian yang dinanti-nantikan:</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">a) Nubuat para nabi Perjanjian Lama (PL, termasuk Taurat) tentang akan datangnya Sang Mesias. Ini digenapi oleh Firman Tuhan (Anak Tuhan) yang turun berinkarnasi menjadi manusia Yesus.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">b) Nubuat Yesus (dalam Injil) tentang akan datangnya Roh Kebenaran (Roh Kudus) yang akan memenuhi/membaptiskan semua murid-muridNya di Yerusalem (Yohanes 16:7-15; Kisah Para Rasul 1:4; Lukas 24:48).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tetapi sungguh aneh bahwa 600 tahun kemudian, Quran dan Muhammad datang dengan mengklaim kemesiasan/kerasulan agung ini pula bagi diri AHMAD yang maksudnya adalah Muhammad sendiri:</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata, &#8220;Hai Bani Israel, sesungguhnya  aku  adalah  utusan  Allah  kepadamu,  membenarkan  kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">&#8230;(pengikut) Rasul, Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka&#8230; (Qs 61:6, dan 7:157)</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dalam hal ini, Quran tampaknya menyama-ratakan nubuat Alkitab untuk dua sosok yang saling berlainan menjadi satu sosok yang sama, yaitu Muhammad sendiri! Dua sosok yang sebenarnya bersifat Ilahi itu juga ditetapkan lain, menjadi satu manusia!  Alangkah beraninya si pembawa wahyu ini &#8220;meluruskan&#8221; nubuat Alkitab dan Yesus yang tak pernah meleset itu! Sejak kapankah Jibril atau Muhammad mempunyai reputasi dalam bernubuat? Bukankah Quran mengakui keistimewaan Isa Al-Masih dalam pengetahuan  akan  hal-hal  yang  ghaib  (Qs 3:49), dimana  Muhammad serentak mengakui pula akan ketidak-berdayaannya untuk mengetahui hal-hal yang ghaib?</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Sekalipun  dengan  pergeseran  dan  perubahan  yang  teramat  berani  ini, tetaplah &#8220;kemesiasan AHMAD&#8221; tidak tercari dalam seluruh Taurat dan Injil. Tetapi pihak Muslim segera masuk dalam disain Jibril, yaitu dengan jalan pintas  meletakkan tuduhan  bahwa para  pastor dan antek-anteknya  telah menghilangkan nama &#8220;Ahmad&#8221; dari Taurat dan Injil yang seharusnya ada ternubuat di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Pihak-pihak  yang  tidak  tahu  menahu  dan  yang  tidak  dikuasai  oleh  pra-asumsi,  pasti  prihatin  atas  tuduhan  yang  naif  dan  sepihak  ini.  Mari kita perhatikan beberapa detil dan liku-liku ayat diatas dengan lebih seksama agar tidak sembarangan menuduh atau kelak malah menjadi tertuduh.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Pertama-tama, kita perlu mengingatkan bahwa suatu klaim adalah pernyataan kebenaran sepihak yang belum/tanpa bukti terhadap sesuatu. Dan kalau itu menyangkut  diri sendiri itu namanya kesaksian diri. Suatu nubuat  lebih  berliku,  dan  akan kita  bahas  sambil  membedakan  nubuat Alkitab terhadap Quran seperti dibawah ini:</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">(1). Kesaksian tentang diri sendiri, sekalipun ia nabi, tidak otomatis menjadi absah. &#8220;Nubuat&#8221; nama AHMAD, walau mengatas namakan Isa (dan Allah dan Jibril); itu tetap keluar dari mulut Muhammad sendiri yang rupa-rupanya ingin memperebutkan pengakuan akan kenabian-nya  sendiri  yang  belum  pernah  disahkan  oleh  siapapun,  sehingga &#8220;nubuat pinjam mulut&#8221; orang lain itu tetap bersifat KLAIM pribadi Muhammad.  Dan karenanya keabsahannya menurut hukum Allah harus disaksikan oleh pihak-pihak lain. Yesus berkata: &#8220;Kalau Aku bersaksi tentang diriKu sendiri, maka kesaksianKu itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku&#8221; (Yohanes 5:31-32). Sayang bahwa Muhammad yang mengatasnamakan nubuat Isa, namun tidak menghadirkan Isa atau siapa-lainnya sebagai saksinya, sehingga keabsahan AHMAD sungguh kosong dan belum tersokong. Sebaliknya, ketika Yesus berkata, &#8220;Musa telah menulis tentang Aku&#8221; (Yohanes 5:46), Yesus dengan otoritasNya sungguh mendatangkan Musa dan Elia untuk berbincang-bincang dengan Dia di atas sebuah gunung. Dan ini disaksikan lagi oleh 3 orang muridNya (Lukas 9:28-36).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">(2). Nubuat harus mengungkapkan ciri-ciri dan keterangan tentang yang dinubuatkan. Amat banyak nubuatan-nubuatan yang disampaikan Tuhan Alkitab kepada manusia dengan beberapa maksud: a) untuk memperlihatkan betapa Maha-Tahu Allah akan masa depan dan karenanya  bisa diandalkan; b) betapa  kuasaNya  dalam mengontrol sejarah kehidupan; c) agar manusia dapat menemukan Tuhan yang benar lewat nubuat yang bisa dicari dan diverifikasi oleh manusia.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Jadi nubuat Allah sebenarnya tidak cukup berisikan sekedar satu nama sebutan manusia tanpa ciri kuat yang memadai untuk menemukannya &#8220;Ummi&#8221; (buta hurufnya Muhammad) sempat didalilkan sebagai ciri, tetapi tentu bukan ciri yang berarti jikalau mayoritas komunitasnya sendiri justru ummi. Ciri yang diajukan &#8220;Allah SWT&#8221; ini justru terkesan &#8220;kehabisan ciri&#8221;! Bandingkan dengan ciri Isa-Almasih yang dilahirkan oleh seorang perawan! Bagaimanapun &#8220;nubuat&#8221; AHMAD dimaksudkan untuk menjadi &#8220;kabar gembira&#8221; bagi seluruh bangsa, maka tidak ada alasan sama sekali bagi Allah untuk tidak mempersiapkan  ciri-kuat sehingga  mempersulit  pencaharian  sosok  Ahmad  dalam  kitabNya. Namun kenyataan berbicara lain: Ahmad yang tidak diberi ciri-ciri dan keterangan memadai (sehingga tidak tercari dalam Taurat dan Injil), kini menjadi misteri dan tuduhan kanan-kiri yang mendatangkan &#8220;kabar TIDAK gembira&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">(3). Nubuatan  kedatangan  Sang  Mesias /Rasul  harus  dialamatkan kepada  umatNya  pertama-tama,  tidak  cross country. Kedatangan Sang Mesias atau Nabi yang Terbesar adalah peristiwa puncak rencana Tuhan bagi penyelamatan manusia dan karenanya peristiwa ini tidak bisa dan tidak akan nyelonong diam-diam masuk dalam sejarah begitu saja (Amos 3:7; Yesaya 42:9; 48:3,5). Itu adalah sebuah Injil atau Kabar Baik (istilah Quran, Kabar Gembira) bagi segenap alam. KedatanganNya  akan  diberitahukan  terlebih  dahulu  agar  umatNya  menanti, bersyukur dan siap-siap menyambut Kabar BaikNya. Itu yang terjadi dengan Umat Israel, yang berharap dan siap-siap dalam penantian mereka. Itu sebabnya seluruh orang Israel menantikan kedatangan Al-Masih yang dimaksud.  Sampai-sampai  seorang  perempuan  pezinah Samaria juga menantikan Sang Mesias ini dan berkata: &#8220;Aku tahu, bahwa Mesias akan datang&#8230;apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami&#8221; (Yohanes 4:25).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Hana, seorang nabi perempuan juga telah berbicara dengan penanti-penanti Mesias: &#8220;(Hana) berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menanti akan kelepasan untuk Yerusalem&#8221; (Lukas 2:38). Bahkan nubuat khusus Yesus tentang Roh Kudus juga sudah ditunggu-tunggu  oleh murid-muridNya di Yerusalem.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Maka tidak ada keraguan bahwa &#8220;kabar-gembira&#8221; tentang datangnya Rasul Ahmad tentu harus ditujukan utamanya kepada &#8220;Umat  dari kaum Ahmad&#8221; itu pula. Namun adakah tercatat bahwa bangsa Arab pernah siap-siap menantikan kedatangan seorang Rasul Agung yang akan membawa kabar gembira seperti yang dimaksudkan Tuhan? Bila tidak ada, jelas bahwa Tuhan memang tidak pernah mewahyukan kedatangan AHMAD kepada umat Arab yang seharusnya dipersiapkan untuk  menyongsongnya.  Jadi jelas  sekali &#8220;Ahmad&#8221;  itu dimunculkan setelah ada fakta, bukan sebelumnya, sehingga terbukti ia itu bukan sebuah nubuat, melainkan klaim pribadi Muhammad memperebutkan pengakuan kenabiannya!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Pertanyaan susul menyusul, apakah orang Arab inferior dimata Tuhan sehingga &#8220;kabar-gembira AHMAD&#8221; ini tidak dikabarkan kepada mayoritas dan sekaligus tuan-rumah, melainkan hanya ekslusif diperuntukkan kepada minoritas orang Yahudi? DAN kenapa harus lewat mulut Isa yang tidak tahu-menahu tentang Arab?  Dan tidak menegaskan/mengkonfirmasi ciri Arabianya, kecuali ummi? Bukankah lebih pas dan relevan bila Tuhan meminjam mulut Nabi Ibrahim dan Ismael untuk menubuatkan AHMAD ini, misalnya, semata-mata karena Ibrahim katanya telah berkali-kali pergi ke Mekah menjumpai Ismael, bahkan mendirikan Baitullah disana? Seperti yang dipersiapkan Tuhan bagi pematangan sejarah dan sosial-budaya dari anak-cucu Ishak/Yakub di tanah Israel, tentu tidak ada masalah bagi Allah untuk mengatur dan mempersiapkan hal yang sama bagi anak-cucu Ismail, sehingga cukup matang untuk menyambut Kabar-Gembira kedatangan Ahmad menjelang waktunya.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">(4). Penggenapan nubuat tentang kedatangan Sang Mesias/Rasul harus dikonfirmasi dan di-validasi-kan oleh diriNya, ketika Ia datang. Tidak ada gunanya Tuhan bersusah payah mendisain suatu nubuat besar tentang kedatangan sang Mesias ummi jauh-jauh hari sebelumnya, apabila ia sendiri tidak mengkonfirmasikan/memvalidasikan hal tersebut ketika ia betul-betul datang memenuhi nubuatan tersebut. Kepada perempuan Samaria yang sedang menanti-nantikan seorang Mesias, Yesus segera mengkonfirmasikan diriNya: &#8220;Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau&#8221;. Dan kepada orang-orang Yahudi Ia berkata: &#8220;Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu,  sebab ia telah menulis tentang Aku&#8221; (Yohanes 5:46).  Perhatikan  betapa  konfirmasi  yang  sudah  terdukung dengan  nubuat dan mujizat  ini,  namun  Yesus  masih  merasa  perlu mengokohkannya  dengan  membacakan  secara  terbuka  dihadapan umum  terhadap  ayat  nubuatan  yang  jelas  menunjuk  kepada  jati diriNya yang mesianis:</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Ia (Yesus) masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukaNya, Ia menemukan nas dimana ada tertulis: &#8220;Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah MENGURAPI Aku (yaitu &#8220;Yang diurapi&#8221;, Al-Masih, Mesias), untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan ia telah mengutus Aku untuk memberitakan  pembebasan  kepada  orang-orang  tawanan,  dan penglihatan bagi  orang-orang  buta,  untuk  membebaskan  orang-orang  yang  tertindas, untuk memberitakan TAHUN RAHMAT TUHAN TELAH DATANG&#8221;. Kemudian  Ia menutup kitab itu&#8230;Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya:&#8221;Pada hari ini GENAPLAH nas ini sewaktu kamu mendengarnya&#8221; (Lukas 4:18-21).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Sayang, terwahyu Muhammad hanya sampai melemparkan isu &#8220;Ahmad&#8221; namun tidak menerangkan bagaimana dan dalam hal apa dirinya menggenapi nubuat Isa itu. Bahkan secara tekstual, kitapun sesungguhnya tidak diberi konfirmasi oleh Muhammad: &#8220;Akulah Ahmad&#8221;. Tak ada ahli yang tahu kenapa Allah perlu membedakan nama Muhammad menjadi Ahmad, yang sebenarnya sudah sangat mirip dalam arti-kata, bahkan bunyi suku kata terakhirnyapun sudah sama? Mengapa Allah memilih nama Ahmad dan bukan Muhammad yang lebih dikenal, jelas, dan tidak perlu dikaburkan kepada siapa-siapa selain Muhammad itulah! Ingat bahwa para teroris yang tertangkap atau tertembak mati, karena memiliki banyak nama samaran, masih satu persatu dicocokkan dengan nama utamanya atau DNA-nya. Tidak ada jawaban logis Ahmad dimunculkan atas nama Muhammad; dan tentu saja hal demikian turut melorotkan bobot ketepatan nubuatan yang ditujukan untuk Muhammad.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Sebenarnya Muhammad cuma memerlukan selangkah saja untuk mengajak  orang-banyak menyaksikan  kebenaran  teks nama-Ahmad pada Taurat dan Injil yang ada disisi mereka (Qs 7:157), yaitu dengan memerintahkan seperti yang pernah dilakukannya, &#8220;&#8230;maka bawalah Taurat  itu,  lalu  bacalah&#8230;&#8221; (Qs  3:93). Apalagi dikisahkan bahwa setiap bulan Ramadhan Jibril datang mengunjungi Muhammad untuk mereview setiap ayat dan surat yang terturun, serta menetapkan susunan yang seharusnya. Kenapa Muhammad lolos mereview ayat &#8220;AHMAD&#8221; yang begitu penting itu (bagi pembuktian kenabiannya) dengan menanyakan apa bunyi ayat Taurat dan Injil yang mencantumkan namanya, dan ada di Kitab mana, agar ia bisa mengaji-kannya ulang dalam Quran (atau paling tidak sebagai Hadis Nabi) yang mengkonfirmasikan Taurat/Injil? Namun sulit dimengerti kenapa Allah mengokohkan pembuktian Yesus (dengan melantunkan Kitab Yesaya dimuka umum), namun membiarkan Muhammad  melewatkan begitu saja peluang emas (dan sekaligus tanggung jawabnya) untuk membuktikan kepada umum bahwa ayat AHMAD—nama dirinya  sendiri—itu  benar-benar terdapat  dalam  Taurat  dan  Injil. Dengan pernahnya ke-mesias-an Yesus itu dikokohkan oleh Allah maka sepantasnya Allah makin &#8220;berpengalaman&#8221; untuk lebih mengokohkan pembuktian nama AHMAD! Tetapi faktanya tidak!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">(5). Nubuat kedatangan Sang Mesias? Rasul Terbesar haruslah disambut oleh banyak nabi, dan digenapi  secara definitif. Sebenarnya inilah kriteria yang paling tajam untuk menemukan Mesias/Rasul yang sejati. KedatanganNya sebagai &#8221;Nabi  segala  Nabi&#8221; yang membawa Kabar Baik bagi segenap alam harus ditandai oleh penantian dan sambutan dari para nabi dan raja dan umatNya. Bilamana hal itu tidak terjadi, bahkan tidak tahu-menahu akan datangnya event luar biasa itu, maka ragulah kita bahwa ia benar Mesias/Rasul yang dinantikan! Yesus menjelaskan betapa para nabi dan raja memang telah menunggu-nunggu untuk menyaksikan kedatangan dan hari-hari Sang Mesias di bumi ini: &#8220;Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hariKu&#8230;&#8221; (Yohanes 8:56). &#8220;Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu (murid-murid Yesus) lihat. Karena aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya&#8230;&#8221; (Luk 10:23-24).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tidak sampai disitu, bentuk sambutan lain masih ditambahkan dengan pelbagai nubuatan mesianis  yang  digerakkan  oleh  Tuhan.  Dan ini menjadi sangat istimewa karena Alkitab mencatat sedikitnya ada 60 nubuatan  demikian! Yang semuanya dipenuhi secara definitif oleh Yesus  dengan  segala  ajaibnya.  Kita cuplikan disini beberapa saja nubuat mesianis diantara 60 nubuat kolektif tersebut.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Cuplikan pertama</strong>, terambil dari nubuat Yakub, bahwa Mesias akan datang  dari keturunan Yehuda,  yaitu  salah  satu  anak  Yakub  (Kejadian 49:10). Disini Tuhan sekaligus menyingkirkan kemungkinan Mesias dilahirkan dari garis keturunan Ismael.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Cuplikan kedua</strong>, bahwa Mesias adalah keturunan Daud (2 Samuel 7:12-14). Kembali ini menyingkirkan darah Ismael.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Cuplikan ketiga</strong>, bahwa seorang utusan lain akan berdampingan mempersiapkan jalan bagi Mesias. Ia-lah Yohanes Pembaptis (Maleakhi 3:1; Yesaya 40:3). Dengan nubuat ini nabi yang datang secara solo (sendirian) telah disingkirkan dari sosok Mesias.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Cuplikan keempat</strong>, bahwa Mesias akan dilahirkan di kota Betlehem (Mikha 5:1). Ayat inilah yang dicari-cari oleh raja Herodes karena Mesias-bayi itu hendak dibunuhnya (Matius 2:13), karena dikhawatirkan mengancam tahtanya kelak. Dengan nubuat lokasi ini, Tuhan sekaligus menyingkirkan kemungkinan Mesias dilahirkan dari Mekah, Roma atau Jakarta!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Cuplikan kelima</strong>, bahwa Mesias dilahirkan dari seorang perempuan perawan!(Yesaya 7:14) suatu  nubuat  yang  hanya  bisa  dipenuhi  oleh hanya satu orang saja di seluruh sejarah dunia!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dengan demikian, nubuat Taurat yang diklaim dan dicirikan oleh Muhammad kepada seorang Nabi  yang &#8221;ummi&#8221; (Qs 7:157), pasti tertelan oleh kepastian nubuat, sambutan para nabi, dan keajaiban ciri-ciri  sosok  Sang  Mesias  yang tidak  ada taranya ini! Tanda dan alamatnya hanya  bisa  dipenuhi  Yesus, tidak menyisakan  peluang apapun bagi  pihak  lainnya, sekalipun pihak  tersebut  tidak malu-malunya mengatas namakan lagi diri Yesus!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Kini, kelalaian dan ketiadaan pembuktian AHMAD dari pihak Muslim sendiri malahan menjadi sumber fitnahan seolah pihak Kristiani dan Yahudi-lah yang menghapuskan kata Ahmad itu dari Kitab-kitab mereka. Kapan Yahudi bisa bersekongkol dengan Kristen untuk duduk semeja mengatur kesepakatan untuk merubah Buku Suci mereka masing-masing dalam menghadapi Islam? Tidakkah teman Muslim tahu bahwa Yahudi justru selalu menyanggah bahkan sampai menganiaya Kristen karena soal Yesus Al-Masih? Dan karenanya, keduanya saling memasang mata agar Kitab-kitab Suci mereka jangan sampai dijahili secuilpun oleh pihak lawannya? Jadi tentu saja penuduhan pihak Islam tentang penjahilan &#8220;Ahmad&#8221; itu patut disesalkan, karena Kitab Suci Allah yang sempat dibenarkan oleh Quran berkali-kali itu tidak seharusnya dijadikan ajang penfitnahan yang begitu kotor.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2010%2F11%2F16%2Finjil-digugat-karena-hilangnya-nubuat-bagi-rasul-yang-akan-datang%2F&amp;linkname=Injil%20Digugat%20Karena%20Hilangnya%20Nubuat%20Bagi%20%26%238220%3BRasul%20Yang%20Akan%20Datang%26%238221%3B"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/16/injil-digugat-karena-hilangnya-nubuat-bagi-rasul-yang-akan-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud &#8211; Saksi Ketidakberesan Mushaf Utsman</title>
		<link>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/16/abdullah-ibnu-masud-saksi-ketidakberesan-mushaf-utsman/</link>
		<comments>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/16/abdullah-ibnu-masud-saksi-ketidakberesan-mushaf-utsman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 01:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dialog Injil - Alquran]]></category>
		<category><![CDATA[Alquran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.siaranalhayat.com/?p=2009</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ram Kampas

Banyak teman Muslim kurang mengenal sosok istimewa ini, atau mengenalnya sekedar secara sempit dan bias. Soalnya dalam teks umum yang mengisahkan proses tentang kompilasi Quran, sosok Abdullah ibn Mas’ud sering dikesampingkan dengan sengaja. Kenapa begitu? Ya, Ibnu Mas’ud adalah pakar pengajian yang diakui Muhammad. Ia terlalu tahu akan konten Quran dan tidak segan-segan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Oleh: Ram Kampas</strong></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<div id="attachment_1115" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1115" title="alquran1" src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/uploads/2010/02/alquran11-300x244.jpg" alt="Al Quran" width="300" height="244" /><p class="wp-caption-text">Al Quran</p></div>
<p>Banyak teman Muslim kurang mengenal sosok istimewa ini, atau mengenalnya sekedar secara sempit dan bias. Soalnya dalam teks umum yang mengisahkan proses tentang kompilasi Quran, sosok Abdullah ibn Mas’ud sering dikesampingkan dengan sengaja. Kenapa begitu? Ya, Ibnu Mas’ud adalah pakar pengajian yang diakui Muhammad. Ia terlalu tahu akan konten Quran dan tidak segan-segan memprotes mushaf edisi khalifah yang dianggap dipaksakan proses kompilasinya menjadi <em>kanon keshahihan</em>. Sejak semula ia telah menolak sejumlah surat dan isi ayat yang ada didalam Mushaf Utsman (Quran sekarang ini). Dengan demikian sikap Ibn Mas’ud yang kontra-arus mayoritas (baca: otoritas kekuasaan) ini dianggap merugikan bahkan membahayakan Islam, yang bagaimana pun tidak bisa mengakui adanya versi “tandingan”. Itulah sebabnya ia perlu disingkirkan sejak dulu – apalagi sekarang ini – disaat orang sudah tidak mungkin mengubah atau mengotak-atik “kesempurnaan-tunggal” mushaf Utsman.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Tetapi sejarah mencatat mushaf Ibn Mas’ud sempat sangat populer dan memiliki pengaruh yang luas khususnya di Kufah, Iraq, sehingga <em>jejak-jejaknya</em> masih berhasil diungkapkan kembali sebagian sebagian, seperti yang sempat diriwayatkan oleh <em>Ibn al-Nadim</em> dalam versi Fihrist, dan juga <em>al-Suyuthi</em> dalam versi Itqan. Mushaf Ibn Mas’ud misalnya tercatat tidak memuat surat-surat ke 1, 113, dan 114. Urutan surat juga berbeda, dimana surat pertama adalah al-Baqarah (surat Quran ke-2), diikuti surat al-Nisa’ (surat ke-4), baru Ali Imran (surat-3), Al-A’raf (surat-7) dll. Juga banyak ayat dalam Quran (yang sekarang ini) yang ternyata berbeda teksualnya, misalnya dalam <em>surat al-Baqarah</em> saja tercatat tidak kurang dari 101 perbedaan teks terhadap apa yang dihimpun Ibnu Mas’ud dari mulut Muhammad! Semua <em>basmalah</em> dikeluarkan karena tidak dianggap wahyu. Sekalipun praktis tidak ada orang Muslim yang mau mengambil resiko melawan arus dengan mengadopsi jejak-jejak mushafnya Ibn Mas’ud (karena semua fragmen dan mushaf tandingan sebagai bukti kebenaran itu sendiri telah termusnahkan akibat dari dekrit Utsman), namun integritas dan otoritas keilmuan Ibn Mas’ud tidaklah bercacat sebagaimana yang terjadi pada diri Utsman.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Ibn Mas’ud sering di-stigmatisasi oleh pakar Islam sekarang ini sebagai orang yang emosionil dan banyak ber-ulah. Tetapi jangan lupa, ia yang polos dan berwatak lugas itu tentu layak menjadi marah ketika ia dizalimi secara kotor. Orang seperti Ibn Mas’ud tidak akan “ber-ulah” sembarangan. Ia adalah sosok yang dikenal sangat serius, kritis, dengan integritas yang tidak menjilat. Ia adalah salah satu Sahabat Nabi yang paling awal memeluk Islam dan berhubungan sangat dekat dengan Nabi dan keluarganya. HR al-Bukhari meriwayatkan bahwa ibn Mas’ud dan ibunya bebas keluar-masuk rumah Rasulullah SAW, bahkan diizinkan untuk mendengarkan pembicaraan rahasia keluarga Nabi, sekalipun istrinya tidak mengenakan hijab (HR.Muslim). Ibn Hisyam dalam bukunya “Life of Muhammad” melaporkan bahwa ia adalah Muslim pertama yang membacakan bagian dari ayat-ayat Al-Quran secara lantang dan terbuka kepada kaum Quraisy yang melemparinya dengan batu. Dia pula yang menjadikan dirinya algojo bagi pemenggalan kepala Abu Jahl demi Nabinya. Huzaifah bin al-Yaman (sahabat dari kaum Ansar) sampai memberi <em>testimony</em> tentang <span style="text-decoration: underline;">akhlak dan perilakunya yang mirip Rasulullah yang diteladaninya</span>:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Aku tidak pernah melihat seseorang yang kekhusyukan dan perilakunya lebih dekat dengan Rasulullah SAW dibanding Ibnu Mas’ud.</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Selain dari itu, ia pulalah yang paling dipuji dalam hal pengajian dan otoritas keilmuan Al-Quran oleh Nabi sendiri:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Belajarlah mengaji Quran dari 4 orang: dari Abdullah bin Mas’ud – <span style="text-decoration: underline;">beliau memulai dengan nama ini</span> – Salim, eks-budak merdeka dari Abu Hudhaifah, Mu’adh bin Jabal, dan Ubay bin Ka’b. (Sahih al-Bukhari, V, pp.96-97)</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Perhatikan bahwa anak kalimat yang digaris bawahi itu adalah komentar dari perawi terkenal Masruq. Itu menunjukkan bahwa diantara orang-orang Muslim pada masa itu, Ibn Mas’ud dianggap sebagai sosok yang otoritasnya paling terkemuka dalam hal Quran.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Ia diakui sebagai fakih dan hafiz, guru dan qadi bagi penduduk Kufah. Ia senantiasa menyertai Nabi dalam bepergian dan tidak absen dalam banyak peristiwa yang kritis. Ia turut dalam sejumlah peperangan bersama-sama dengan Nabi (perang Badr, Uhud, Khandaq), dan ikut sumpah setia Baiat ar-Ridwan di lembah Hudaibiyah, tahun 6 H. Dengan demikian ketika wahyu-wahyu turun kepada Nabi yang memang tidak mengenal tempat dan waktu khusus, maka Ibn Mas’ud-lah orang yang <strong>paling sempat dan mampu mencatatnya secara benar.</strong> Itu sebabnya beliau berani bersumpah: “<strong>Demi Allah</strong>, tidak ada satu ayat pun dari Al-Quran tanpa kuketahui <span style="text-decoration: underline;">latar belakang</span> diturunkannya ayat tersebut. Tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitabullah dibanding aku. Meskipun begitu, aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian.” (HR.Ahmad bin Hanbal)</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Dia mengklaim mengetahui semua latar belakang diturunkan setiap ayat yang dicatatnya! Itu sebabnya dia berani menolak surat 113 dan 114 sebagai wahyu, karena latar belakang kedua surat tersebut diketahuinya sebagai sebentuk doa yang  dipanjatkan Nabi untuk mendapatkan perlindungan Ilahi bagi kedua cucunya, Hasan dan Husen. Tidak berkata sembarangan, Ibn Mas’ud dan memang hanya dia yang sudah membuktikan otoritasnya dalam satu acara khusus dimana ia mendemontrasikan mengaji (tekstual) hingga lebih dari 70 Surat, dimana <span style="text-decoration: underline;">Nabi sendiri hadir</span>, dan tidak ada seorang pun diantara hadirin yang menyalahkan pengajiannya (Sahih Muslim, vol 4, p.1312 ). Itu sedikitnya berarti bahwa kumpulan 70 surat tersebut adalah<strong>kanonik</strong>, <strong>shahih</strong> dihadapan Nabi dan <strong><em>proven</em> bacaannya</strong> dihadapan publik! Dialah, dan bukan Zayd, Utsman, dll yang berani berkata apa seadanya:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Saya mendapatkan langsung dari Rasulullah 70 surat ketika Zayd masih remaja kanak-kanak. Apakah kini saya harus membuang apa yang saya peroleh langsung dari Rasulullah? (Ibn Abi Dawud, Kitab al-Masahif, p.15)</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Jadi kenapa kelak Zayd dan Utsman tidak sedikitpun merujukkan ke-70 Surat kanonik tersebut  ketika mereka berusaha membukukan Quran? Atau sedikitnya menyertakan pemiliknya duduk dalam Panitia Pembukuan Quran? Atau paling tidak menjadikannya “tempat berkonsultasi”, jikalau Muhammad sendiri pun sempat diperintahkan Allah untuk berkonsultasi kepada pembaca pembaca kitab Taurat dan Injil ketika beliau ada keraguan atau ketidak tahuan? (Qs.10:94;16:43).</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Mengingat kapasitas Ibn Mas’ud ini, dan fakta bahwa jumlah surat dan ayat yang diturunkan di Mekah – dengan volume hampir <span style="text-decoration: underline;">70 % dari total wahyu</span> – adalah jauh lebih besar dari pada yang diturunkan di Medinah, jelaslah bahwa keabsahan mushaf Ibnu Mas’ud menjadi paling berwibawa. Tidak ada orang yang bisa membantah (kecuali menyembunyikan saja) bahwa dialah salah satu otoritas terbesar dalam al-Quran, dan <span style="text-decoration: underline;">tanpa tandingan</span> untuk surat-surat Makkiyah!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Khalifah Umar bin al-Khattab dalam suratnya kepada penduduk Kufa secara konsekwen mengkonfirmasikan keteladanan dan ilmunya:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku mengutamakan Abdullah bin Mas’ud atas diriku. Maka tuntutlah ilmu darinya.</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Sebagai tambahan, Ibnu Mas’ud ini bukan hanya di-qualified oleh Nabi, melainkan juga oleh<strong>Jibril</strong> menurut tradisi. Ia dikatakan turut hadir ketika Muhammad sedang me-review Al-Quran dengan Jibril setiap tahun; dan bahwa dialah yang telah berhasil mengumpulkan 90 Surat (Ibnu Sa’d, Kitab al-Tabaqat al-Kabir, vol.2, p 441, 457). Maka ketika ia masih menyaksikan kedua surat 113 dan 114 hadir sebagai bagian mushaf Utsmani, iapun berkata:</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Jangan menulis ke dalam Quran apa yang bukan bagiannya!</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Bagaimana dengan Surat Al-Fatihah itu sendiri?</strong></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Seperti yang disebutkan diatas dan yang sudah diketahui luas, Surat Pembukaan ini – berdasarkan latar belakang wahyu yang diturunkan – ternyata tidak dimasukkan oleh Ibn Mas’ud dalam koleksi mushafnya. Surat yang paling diagungkan Islam ini justru tidak punya silsilah kapan dan dimana ia diturunkan Allah kepada Muhammad, atau diturunkan setelah surat yang mana juga tidak diketahui dengan pasti!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Ada pakar yang berspekulasi bahwa surat ini termasuk surat Makkiyah, tetapi ada yang mengakuinya sebagai surat Madaniyah (Lihat pelbagai ensiklopedi Islam, atau Muqaddimah Terjemahan Quran oleh Moh. Rifai). Ibn al-Hassar secara kuat memastikan 20 surat Madaniyah dan 82 surat Makkiyah, dan menyisakan 12 surat yang dipertentangkan <em>makki-madani</em>-nya, dimana salah satunya adalah surat al-Fatihah! (lihat al-Itqan I/44-45). Malahan ada yang meyakini surat itu diturunkan dikedua tempat tersebut. Sedangkan sejumlah ulama termasuk Syeik Allamah Thabathabai malahan mengatakan surat istimewa itu telah diturunkan <em>berulang-ulang</em>, <em>ya di Mekah, ya di Medinah</em>, menjadikan Jibril hampir tak ada kerjaan lain kecuali mengurusi Surat ajaib ini berulang-ulang!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Muslim awam akan kaget mendapati kenyataan ini. Sebab bukankah Surat yang bernama Al-Fatihah sudah menunjukkan bahwa ia harus ditempatkan sebagai <em>Surat Pembukaan</em> (<em>al-Fatihah</em>), jadi, ya seharusnya ia merupakan surat awal Makkiyah! Lagi-lagi ini kekeliruan menyusuli kekeliruan! Si penyanggah ini lupa bertanya, “Siapakah yang memberi nama “al-Fatihah” dan siapa yang menempatkan surat tersebut?” Hanya apabila Allah yang memberi nama dan penempatan lewat wahyuNya, maka ia mempunyai <strong>legitimasi ilahi</strong> sebagai Pembuka Al-Quran yang sesungguhnya, dan bukan sempalan manusia. Tetapi dimanapun dalam Quran, Muhammad tidak pernah memberikan <em>judul</em> bagi surat-suratnya, melainkan hanya disebut nama<em>generiknya</em> saja sebagai “sebuah surat”, atau “suatu surat”  (Qs.2:23, 9:86, 24:1 dst). Surat-surat ini dalam sejarah awal Islam, dirujuk dengan pelbagai nama yang beragam, sebagiannya telah dibuang, dan baru muncul pembakuan judul surat-surat  yang membuktikan bahwa itu semua adalah <em>penjudulan manusia</em>&#8230;</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">Merupakan suatu hal yang pasti bahwa nama-nama yang diberikan kepada surat-surat itu bukanlah bagian dari Quran. Tidak jelas kapan munculnya nama-nama surat yang beragam itu…sekitar pertengahan abad ke-8 dapat dipastikan bahwa nama-nama surat yang beragam itu telah memasyarakat” (Taufik A. Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Quran, p.211-212).</p>
</div>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Keraguan akan pewahyuan Surat Al-Fatihah ini sungguh didukung oleh segudang fakta historis, antara lain menyangkut hal-hal berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">1). Surat al-Fatihah ini tidak mempunyai pijakan asal-usul dan sebab-musabab pewahyuannya; ia yang sekalipun dianggap surat paling terhormat, namun muncul begitu saja tanpa silsilah!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">2). Kosong-kronologi, tidak diketahui kapan ia diturunkan dan dimana. Bahkan tak ada indikasi ia diturunkan setelah ayat atau surat apa.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">3). Tidak memiliki legitimasi ilahi dalam tata-letaknya sebagai Ummul Kitab, al-Kafiyah, al-Asas dan sebagai surat pertama, sebab bukan Muhammad yang menetapkannya disana. Pernahkah Nabi menetapkan: “Letakkan surat al-Fatihah sebagai Surat pertama dari semua Quran yang  terkumpul?”</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">4). Kosong dari saksi-mata, sebab siapakah yang sudah membacanya sebagai wahyu sebelum hijrah? Al-Fatihah hanya diketahui muncul ketika liturgi Islam dibakukan dalam tradisi shalat setelah mikraj dan hijrah ke Medinah.</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">5). Konsekuensi fatal yang tidak ingin dilihat oleh Muslim, bahwa konten wahyunya menunjuk secara lurus: <span style="text-decoration: underline;">ia yang wahyu dipersekutukan dengan non-wahyu</span>!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">NB. Menurut makna dan isi teksnya, al-Fatihah jelas bukan seruan doa dari Allah tetapi sebaliknya, <span style="text-decoration: underline;">seruan doa manusia</span> kepada Allah. Namun menurut  formatnya, ia tidak mungkin lain dari sebentuk wahyu langsung ucapan Allah sebagaimana seluruh kalimat Quran itu adalah<span style="text-decoration: underline;">seruan Allah</span>. Jadi bagaimanakah memahaminya?</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Lihat bahwa Allah tidak menyertakan kata tanda “Qul” [<strong>Katakan</strong> (<em>hai Muhammad</em>)...] kedalam surat ini, khususnya untuk ayat 5-7, yang memperlihatkan bahwa ia hanyalah sebentuk doa dari manusia, bukan kata-kata verbatim dari mulut Allah. Bukankah penandaan kata ini sudah dibakukan secara khusus dan sudah diserukan oleh Allah sendiri sebanyak 332 kali “Qul” diseluruh Quran? Maka mungkinkah surat al-Fatihah akan dilalaikan dari satu kata “Qul”/“Katakan”…bilamana Allah menginginkan KalimatNya itu diulangkan oleh Muhammad? Kata-seruan itu mutlak diperlukan demi menjaga agar <em>FirmanNya jangan sampai dipersekutukan kedalam “firman manusia.”</em></p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Salah paham antara Nabi dan sahabatnya tentang keberadaan ayat-ayat selalu bisa terjadi, dan sebagiannya tampaknya sudah luput dari catatan sejarah. Salah paham sejenis khususnya mudah terjadi untuk bentuk “bacaan doa pendek” dari Nabi, yang lalu dianggap sebagai kalimat wahyu, karena kebetulan bacaan itu bertema DOA dan diucapkan oleh Nabi secara sakral dan transenden dalam situasi doa. Dalam suasana demikian, kalimat-kalimat yang berkarakter demikian juga mungkin diaktualkan sebagai wahyu mistis, <em>larger than life</em> – oleh Muhammad ataupun para sahabatnya, entah sengaja atau tidak – karena akseptasi bersama. Dan itu agaknya dipenuhi sebaik-baiknya oleh “surat” 1, 113, dan 114, yang memang semuanya adalah ujud-ujud doa pekat yang agak puitis, lengkap dengan nuansa pemujaan dan penyembahan!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;"><strong>Ingat analogi</strong> legenda mikraj yang juga dikisahkan <em>larger than life</em> sampai ke langit ketujuh, namun tidak disinggung sedikitpun dalam Quran sendiri!</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Namun sayang, Muslim sekaliber Ibnu Mas’ud ini – dalam moral, pengetahuan Quran, dan integritas yang berani berjuang melawan-arus tanpa pamrih – ia justru disisihkan Utsman secara sistematik, tanpa didengarkan sedikitpun! Ia yang paling diotorisasikan oleh Muhammad untuk mengajar Quran (termasuk “mengajar” Zayd dan Utsman tentunya!), kini tidak diajak duduk dalam kepanitiaan penyusunan ulang Al-Quran. Ia yang terbukti memiliki sedikitnya 70 surat yang kanonik tanpa terbantah, ternyata samasekali tidak dirujukkan koleksinya oleh Zayd dan Komisi Pengumpulan Al-Qurannya. Melainkan Zayd justru secara insidental merujukkannya kepada koleksi Khuzaymah bin Thabit al-Ansari (<span style="text-decoration: underline;">yang belum teruji</span>) untuk satu ayat Quran yang kelolosan, yaitu ayat 23 surat al-Ahzaab! Bukankah itu pilihan konyol? Siapa yang memastikan hanya ayat itu saja yang kelolosan dan tidak ada yang lainnya?  Malahan oleh Utsman, koleksi Ibn Mas’ud itu harus dilenyapkan <span style="text-decoration: underline;">tanpa dipersalahkan</span>! Dan ia sendiri dipecat dari jabatannya di Kufah. Alangkah malangnya sahabat Nabi yang satu ini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">Kita bangsa Indonesia masih teringat akan kasus “tercolongnya” satu ayat dalam Rancangan Undang-Undang Kesehatan yang sudah disetujui DPR (ayat 2 Pasal 113 UU Kesehatan, tahun 2009) yang menyangkut soal tembakau. Bukankah pihak yang bertanggung jawab dalam penghilangan itu akan diperiksa dan dituntut? Nah, Zayd yang bertanggung jawab atas pengumpulan mushaf Abu Bakar yang ternyata (sedikitnya) defisit satu ayat tersebut, tidak diperiksa, apalagi dituntut. Ia malahan dijadikan pahlawan atas keberhasilan “penemuan” kembali satu ayat Khuzamah yang dia sendiri korupkan tadinya. Dan revisi mushaf yang dihasilkannya tidak diperiksa ulang, melainkan <em>taken for granted</em> sebagai karya sempurna! Dari sisi ini saja, tanpa usah berprasangka, kita menyadari bahwa Mushaf Utsman yang dianggap purna-sempurna <strong>identik</strong> seperti apa yang tertulis di Lauhul Mahfudz tablet di sorga, sebenarnyalah harus ditempatkan dalam kesalahan  sebesar seperti apa yang diumumkan – dan yang dimaksudkan – oleh Ibn Mas’ud sendiri, yaitu,</p>
<div style="margin-left: 5mm; margin-right: 5mm; text-align: justify; font-family: 'Times New Roman'; line-height: normal; font-size: small;">
<p style="text-align: justify;">“Jangan menulis kedalam Quran apa yang bukan bagiannya!”</p>
</div>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.siaranalhayat.com%2F2010%2F11%2F16%2Fabdullah-ibnu-masud-saksi-ketidakberesan-mushaf-utsman%2F&amp;linkname=Abdullah%20Ibnu%20Mas%26%238217%3Bud%20%26%238211%3B%20Saksi%20Ketidakberesan%20Mushaf%20Utsman"><img src="http://www.siaranalhayat.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.siaranalhayat.com/2010/11/16/abdullah-ibnu-masud-saksi-ketidakberesan-mushaf-utsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

